Sunday, 26 June 2016

Papan Tulis:

MENGEMBALIKAN “TRADISI KEBERAKSARAAN”
KEDALAM KELUARGA
Oleh: IBK. Dharma Santika Putra
Direktur Forum Indonesia Kecil

Pengantar
                Jika dilontarkan sebuah pertanyaan, “Siapakah yang mengasuh anak-anak kita ?”. Maka jawaban yang kita dapatkan adalah bahwa para orang tualah yang mengasuh anak-anak buah hati mereka.
Sekilas memang tidak ada yang salah dari jawaban yang diberikan oleh seorang ayah dan ibu, atas pertanyaan, “siapakah yang mengasuh anak-anak mereka”. Karena secara normatif, tugas mengasuh anak, memang merupakan tugas dari para orang tua..
Demikiankah didalam kenyataannya ?.
Jawabannya sering “jauh panggang dari api”.
Berapa jam-kah seorang ibu atau ayah memiliki waktu untuk mengasuh anak-anaknya ?.
Ciba kemudian bandingkan dengan jumlah waktu yang dihabiskan si anak didepan televisi, didepan computer, atau bermain-main dengan berbagai bentuk gadget ?. Apakah itu namanya Smartphone, HP, Tablet, iPod hingga bentuk gadget terbaru dan super canggih ?.
Tidakkah anak-anak kita selama ini lebih banyak diasuh oleh Remote Control Televisi ?.
Sementara acara-acara televisi seperti yang kita ketahui bersama dan bukan merupakan rahasia lagi, bahwa acara-acara yang disuguhkan televisi dinegeri tercinta ini masih jauh dari mendidik ?.
Demikian juga dengan para remaja kita; bukankah mereka lebih banyak diasuh dan bercengkrama dengan berbagai bentuk produk gadget ?.
Lalu, kapankah para orang tua ada waktu untuk mengasuh atau minimal becengkrama dengan anak-anak mereka ?.
Sebuah kenyataan getir memang kalau kita berani menjawabnya dengan jujur sebuah pertanyaan sederhana. “Siapakah yang selama ini mengasuh anak-anak kita ?”.


Loncatan Budaya
Ketika anak-anak sebagai putra-putri sang hidup didalam pertumbuhannya membutuhkan sentuhan kasih sayang dari para orang tua, tetapi akibat kemajuan ilmu pengathuan dan teknologi akhirnya semuanya terampas begitu saja oleh berbagai bentuk capain teknologi informasi dan komunikasi yang memanjakan dan memberikan kenikmatan lebih sebagai gaya hidup.
Apa yang kini sedang terjadi, dan menjadi gaya hidup generasi muda kita, adalah apa sering disebut sebagai Cultural Jump.
Sebuah loncatan kebudayaan, yang jika keliru didalam mengelolanya akan dapat meruntuhkan sebuah bangunan peradaban negara-bangsa seperti Indonesia tercinta ini.
Gejala menuju kearah kehancuran itu sudah mulai menunjukkan tanda-tandanya. Hal itu sangat terasa dengan semakin melebarnya jurang komunikasi antara orang tua dengan anak, dan juga komunikasi sosial antar warga didalam sebuah komunitas.
Kini hampir seluruh kisi-kisi kehidupan
, dan laku budaya kemanusiaan kita penuh dengan sentuhan IT, dengan berbagai pentuk produksinya berupa gadget.
Kini sebuah pesan cukup disampaikan lewat pesan singkat atau SMS, tanpa harus bertemu dan berinteraksi dengan mereka yang kita berikan pesan.
Atas semua itu. kini kehidupan terasa semakin kering, dan simpul-simpul sosial antar warga menjadi semakin renggang antara satu warga dengan warga lainnya. Bahkan gejala ini sudah masuk hingga relung-relung kehidupan sebuah bangunan rumah tangga juga keluarga.
Bukanlah sebuah pemandangan yang luar biasa, kalau sekarang kita sering meihat bahwa anak-anak lebih asyik dengan gedget-nya ketimbang menjalin komunikasi dengan saudara atau orang tuanya. Mareka lebih asyik dengan petualangan sebuah permainan (game-pen), ketimbang menyapa orang tua atau saudaranya.
Sementara yang masih tergolong anak-anak lebih asyik dengan berbagai acara televisi, yang sejak awal siar menyajikan hal-hal yang jauh dari dunia kanak-kanak mereka. Dan semua itu terjadi sebagai sebuah keniscayaan, tanpa ada yang peduli. Juga pemerintah, bahkan negara seolah tidak hadir.

Tradisi Keberaksaraan
Tentu kita tidak cukup memiliki kemampuan dan kekuatan untuk menghentikan, bahkan memperlambat laju jaman dengan berbagai bentuk capaian teknologinya. Seperti apa yang kita lihat dan terjadi disekitar kita dan kemudian menjadi gaya hidup anak-anak sebagai buah hati kita.
Tetapi kelalaian didalam mengelola unsur utama peradaban dalam hal ini unsur sumber daya manusia, tentu juga tidak boleh terjadi dan dibiarkan begitu saja. Seperti apa yang tertuang dalam bait-bait Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, “bangunlah jianya, bangunlah badannya”.
Atas kenyataan zaman inilah, maka kehadiran sosok “Ibu Cerdas”  dan bisa tampil hangat serta ramah didalam mengelola keluarga menjadi sebah keniscayaan. Seperti sebuah ujar-ujar menyatakan, //jika kaum perempuan sudah menjadi jalang/ dan anak-anak kehilangan etika moral didalam berpirlaku/ maka kehadiran seorang ibu adalah jawabannya//.
Mungkin pertanyaannya kemudian adalah, “Siapakah Ibu Cerdas yang mampu dengan hangat dan ramah mengelola keluarga ?”.
Disini jawabannya mungkin bukan sesuatu yang bersifat personal atau sebuah sosok pribadi, tetapi lebih bagaimana kita mengelola bangunan peradaban yang bernama keluarga dengan sentuhan-sentuhan yang mencerdaskan, dan kemudian mampu melahirkan suasana hangat nan ranah ditengah-tengah dinamika keluarga kita, sehingga mampu melahirkan anak-anak yang memiliki kecerdasan yang mumpuni. Sigap didalam berfikir, dan penuh sentuhan etika moral didalam berprilaku dan tutur katanya. Atau dalam bahasa lugasnya anak – anak yang berkarakter dan memiliki etika moral didalam prilaku dan tutur katanya.
Apa yang dilontarkan secara apresiastif oleh Prof. Dr. Umar Kayam yang kemudian dikutip oleh Ashadi Serigar dan Faruk HT dalam bukunya Umar Kayam Luar Dalam, ada disebutkan sebuah tradisi mencerdaskan yang disebut sebagai “Tradisi Keberaksaraan”. Yang merupakan salah satu therapi kebudayaan bagi bangunan Keluarga Indonesia didalam menghadapi kemajuan zaman dengan berbagai capaian ilmu pengatahuan dan teknologinya, seperti apa yang sedang terjadi saat ini, dimana ruang dan waktu anak – anak kita dihabiskan oleh benda-benda canggih yang disebut sebagai Gatget.
Yang dimaksud dengan Tradisi Keberaksaraan disini adalah:
1.       Tradisi Lisan (mendongeng).
2.       Tradisi Mendengar (mendengarkan siaran radio).
3.       Tradisi Membaca (membaca karya sastra).
4.       Tradisi Menulis (menulis surat/korespondensi) dan
5.       Tradisi Berdialog(ngobrol lepas/ bercengkrama bersama anggota keluarga).
Jika kita sebagai orang tua (ibu dan ayah) mampu membangun tradisi keberaksaraan ditengah-tengah dinamika dan interaksi keluarga kita saat ini yang lebih disibukkan oleh tradisi menonton televisi dan bermain gatget, niscaya sentuhan kehangatan yang lebih manusiawi akan bisa terbangun didalam keluarga kita. Dan tradisi keberaksaraan ini akan menjadi sosok ibu cerdas, yang mampu melahirkan dan mengantarkan anak-anak kita kepada kemulyaan manusiawi yang lebih baik.
Ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab secara jujur. Karena tanpa kejujuran kita tidak akan pernah sampai pada angan-angan kita didalam mewujudkan bangunan peradaban yang bernama Keluarga Indonesia itu.
Masihkah kita mempunyai waktu untuk mendongeng kepada anak – anak kita ?.
Masihkan kita mendengarkan siaran radio ?.
Masihkah kita menulis surat untuk anak-anak kita ?.
Masihkah kita memiliki cukup waktu untuk membaca karya sastra ?.
Masihkan kita menyediakan ruang dan waktu untuk ngobrol lepas dan memangun dialog kemanusiaan dengan anak – anak kita ?.
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan diatas, akan menjadi sebuah ukuran sejuahmana kita telah sampai, didalam mewujudkan keluarga yang penuh kehangatan dan penuh sentuhan kemanusiaan.
Dan jika jawabannya bahwa anda belum melakukannya, maka belumlah terlambat bagi kita, untuk memulai sebuah langkah awal, untuk mewujudkan tradisi keberaksaraan didalam mengelola keluarga, sehingga terwujud bangunan peradaban keluarga Indonesia yang lebih harmonis dan mencerdaskan.
Dan semuanya belum terlambat. Karena tidak ada kata terlambat untuk sebuah kebajikan, apalagi dengan cita-cita mulia untuk mewujudkan bangunan peradaban insaniah yang bernama Keluarga Indonesia.
Bergegaslah !
Pondok Seni Praba-Gita Jembrana, Bali.











Wednesday, 15 June 2016

Kajeng Kliwom

Putu Arya tusing ngelah pilihan lén, sajaba nuutin piteket kulawarga lan timpal-timpalé. Apabuin utsaha maubad ka dokter sawaian pocol. Kudang dokter suba kaalih, nanging segeré tusing kapanggih. Suba pitung tiban méméné gelem. Ngancan wai, ngancan meragang. Kadirasa ningtingang lima tusing mampuh. Dokteré suba nyerah ngubadin méméné ané kadiagnosa sakit komplikasi luiré jantung, diabetes, maimbuh kanker. Jani kulawarga lan timpal-timpalné nujuhang maubad ka balian.
Sujatiné Putu Arya tusing precaya ubad saking supranatural. Nanging ia jejeh kaucap tusing ngrunguang rerama. Ento makrana ia nyak ngrérénang ngubadin méméné di dokter lan nunas tamba ka balian, yadiastun di kenehné tusing precaya. Ulian baat kenehné, ia majalan ngatehang méméné maubad ka balian nemoning Sukra Kliwon. Dinané ento kaucap tenget, becik nunas ajah wiadin nunas ubad.
Neked diwangan jero balianné, batisné kasarayang baat matindakan. Uling cerik ia tusing precaya tekén balian. Ia nyaihang balianné ento penipu. Ngaku bisa ngubadin sakancan penyakit. Da ja balian, ia masé nyidang ngubadin sakancan penyakit ané mentik di guminé. “Batek ngomohang bisa ngubadin sakancan penyakit, cang bisa. Kéwala seken nyidang nyegerang? Cang sing precaya. Sing makejang sakité nyidang segerang!” ucapné brangti di ati. 
“Da sumanangsaya, tindakan batisé, ubadin mémén cainé. Yadiastun cai tusing precaya tekén balian, nanging tusing ada pelihné mautsaha nyegerang mémén cainé apang suud kalara-lara. Majalan, entungang rasa sumanangsaya cainé!” pabesen pamanné mangieng di kuping.
Ngingetang piputur pamanné, Putu Arya ngengsehang majalan mulihan. Méméné kagandong mulihan. Neked di banjah balé daja, ia negakang lan méméné kaslélégang di témboké. Tingalina jero balian masesonténg di kamar suci. Sanjané ento enu ada panangkilan.
Macladukan papinehné Putu Arya dugas negak ngantosang giliran méméné maubad. Pamanné teka uling diwangan ngaba roti lan yéh. Marasa aget Putu Arya enu ngelah paman maimbuh urati tekén méméné. Midehan pamanné ngateh méméné maubad. Pamanne masé nyediahang mobil maimbuh nyopirin rikala méméné maubad. Mautang budi Putu Arya tekén pamanné. Putu Arya suba sing ngelah enyén, bapané suba ngalahin ka tanah wayah. Bapané masé sing ngelah nyama tugelan. Aget ada paman ulian mémé ané urati.   
Disubané panangkilanné mapamit, jani giliran méméné kaubadin. Putu Arya ngosong méméné ka kamar suci. Di kamar suci, ia ningalin jero balian mabusana sarwa putih. Di témboké ada topéng lan patung, luiré patung Déwi Kwam In. Di apit lawang plangkiranné ada patung macan lan singa. Di samping patungé ada tedung mawarna putih lan kuning. Lénan tekén patung ada masé keris majujuk nanging muncukné tusing matanceb. Mirib muncuk kerisé misi resani mapan tekek majujuk. Di témboké masé ada pecut ikut bé pai, pedang, trisula, lan cakra. Kamar suci jero balianné karasayang tenget.
Manut krama sané matamba, jero balian kaucap nedeng sidhi lan bétél tingal. Sakancan penyakit sida katerawang maimbuh masaih ajak asil laboratorium rumah sakit. Liu panangkilan ané gelem ngednged seger oger disubané kapicayang tamba. Maimbuh ubadé aluh alih mapan liu mentik di natah umahé muang di pundukan cariké. Sakancan don-donan ané èmpoka anggona loloh dadi tamba mautama. Maimbuh sesariné tusing ja gedé makada panangkilanné ngancan ngraméang.
Orti ané nglimbak, tiosan tekén anak nunas tamba, kramané liu nangkil nunas pasugihan, pasikepan, kantos nunas sentana. Liu krama ané bekung, nganti tiban-tibanan tusing ngelah pianak maan pica utama. Krama sané bekung kapica tamba malakar lengis macampur kama kakia. Lengisé ento kaolésin di pusaka pingit krama lanang, yéning krama istri kapica loloh kecambah. Orti balian sakti bétél tingal dingeha tekén pamané Putu Arya, ento mawinan ia nyak ngatehang méméné maubad kema.
Putu Arya nuutin pamanné ané ngajakin méméné maubad ka jero balian, yadiastun masantulan di kenehné. Mapan ia pepes nepukin pisaga mayegan ulian maubad ka balian. Ulian maubad ka balian, di kulawarga dadi buut. Kerana baliané sawai ngucapang ané ngaénang sakit tuah layah lan gigi, sing ada lén tekén nyama. Ningeh saa balian buka kéto, dadiné di kulawarga mapuikan. Ajak nyama misan, ipah, tugelan, saling cureng kerana precaya munyin balian. Baliané sawaian ngorahang sakité ulian pagéan manusa sakti. Pagaén léak. Di kulawarga dadiné saling cenidra, saling kadén bisa ngléak. Ulian precaya munyin balian, ada kulawarga saling sepegin. Rasa jengah, sebet, sakit ati terus tumbuh di kulawarga ané makada keturunanné satata mapuikan.
Lénan tekén numbuhang bibit sakit ati, pituduh jero balian sawai ngebatin krama ané nangkil nunas tamba. Sakadi di pakubon kasambatang kuangan palinggih. Ento makada nyilih pipis di LPD anggon nyujukang palinggih. Pamuputné utang tondén lunas, ané sakit masé ngemasin mati. Patutné adéng-adéngin minehin mapan iraga suba ngelah sanggah muang merajan di umah, jero, puri, geria soang-soang. Buut ané buka kéto makada Putu Arya setata ngaénang baat batisné matindakan ngajakin méméné maubad ka balian.
Nanging jani ia ngentungang kenehné ané setata sumanangsaya tekén jero balian. Mapan paman lan kulawargané setata nesek apang ngalih ubad alternatif lénan meli ubad di dokter. “Sing ada pelihné naduanin, mémén cainé ubadin apang seger,” pabesen ento setata mangieng di kupingné. Pangaptiné méméné seger, nandanin papinehné majalan maubad ka jero balian.
“Aduh, tingalin méméné, ba cara bangké mara ajak maubad mai. Uling pidan sing kal ubadin?” patakon jero balian.
Tangkejut Putu Arya ningehang atur jero balianné. Daas nyagjag bangun tur nyagurin. Ia sing terima kaucap tusing ada utsaha ngubadin méméné. Putu Arya nengéng, nengnéng paningalan jero balianné. Jero balian makirig atapak kerana paningalan panangkilanné mamarak ulian pedih.
“Cai bisa ngubadin apa tusing? Da ngawag mesuang peta!” ucap Putu Arya di kenehné.
Pedihné kaliwat. Giginé ngretek, limanné tekek magemelan. Pamanné ngénggalang ngisi Putu Arya. Yén sing kéto mirib suba ngamuk tur nyagurin jero balian. Putu Arya nglawan dugas pamanné mrekek awakné. Nanging ia tusing nyidang makiba. Ngancan makelo, pedihné ngancan nayuhang.
“Tu, dayuhang kenehé. Lan nunas tamba apang énggal seger méméné. Putu suba sing ngelah bapa, ngemasin mati ulian sakit. Yén sing ubadin méméné, Putu lakar dadi anak ubuh. Sing makita ngayahin méméné?”
Ningeh tutur pamanné buka kéto, Putu Arya ngancan ngendukang. Prajani ngeling kerana jejeh kélangan mémé. Jani ia masukserah, nunas tamba tekén jero balian. Tusing bani nungkasin kerana jejeh balianné boya mapica tamba. Ulian gedeg tekén déwékné, jero balian micayang cetik anggona ubad pamungkas. Jejeh ia ubadé  kacampurin sianida. “Ratu bhatara, picayang mémén tiangé ubad mautama,” pangaptin Putu Arya di ati.
Di kamar suci jero balian kemak kemik nguncarang mantra. Tangané ngisi sangku. Suud mamantra, ngetisin tirta. Méméné jerit-jerit nanggehang sakit kala kaketisin tirta. Putu Arya ngénggalang ngisi méméné ané ngenangning daah duuh nanggehang sakit. Ia nyingakin uling bibih méméné pesu getih kentel mawarna selem. Ping ngedil méméné ngutahang getih badeng mabo andih. Méméné nglemet lantas sing inget tekén déwék.
“Sampunang jejeh, ning. Makejang wisya di basangné suba pesu. Yén suba enten, sinah bayuné nyegerang. Mémén ceningé kena cetik, da jejeh kerana suba makejang pesu. Aget cetik Bali, yén kena sianida sinah bapa tusing nyidang nulungin. Tuni bapa nyambatang mémén ceningé suba kronis mara ajak mai, yén nganti kasépan sinah tusing nyidang nylametang. Sing ada keneh bapané jelé, tuah cening kadropon ningehang maimbuh brangti. Kéwala bapa tusing ja milu pedih. Bapa masé taén teruna, patuh ngandelang bayu akas,” ucap jero balian sinambi ngurut apang méméné Putu Arya énggal enten.
“Ampurayang titiang, jero. Titiang jatma kalintang tambet,” Putu Arya ngidih pelih. 
Tusing makeloné, méméné enten. Muané uling putih lepis jani masriang galang, ngenah cara misi getih. Sukeh precaya, nanging jani seken méméné nyidang batek ningtingang lima ajak batisné. Putu Arya liang nepukin méméné nyidang ngemelang limanné. Saking liang kenehné, Putu Arya nganti nyumbah jero balian di arepné. Mara nyumunin maubad, ada cihna méméné lakar seger. Mara ia nyesel, nguda sing uling pidan ajak maubad ka jero balian. Karuan dokteré nyerah ngubadin, mirib kerana tusing penyakit médis. Ené sakit non médis amah léak. Kena cetik nyidang ngubadin di balian, yén kena sianida sinah kekeh mati ubadin di dokter. 
Jero balian mabesen teken Putu Arya apang jemet moréhin méméné. Semengan, tengai lan saja apang boréhing aji bawang, don piduh, akah tuju musna, muang jangu. Mapan pagaén manusa kalintang sakti, Putu Arya masé tujuhina ngalih ubad ka Pura Dalem. Ngalih ubad ka Pura Dalem apang silib, sing dadi ketara. Dadi ngajak timpal, nanging sing dadi milu ngranjing ka Pura Dalem. Tamba mautama ada di Pura Dalem ané dadi besik ajak wewidangan sétra. Paling melah nunas tamba kala Kajeng Kliwon maimbuh Tilem.
“Mih, ten gelisang padem mémén tiangé, jero. Kantuh joh Kajeng Kliwon nemu Tilem,” ucap Putu Arya.
“Sing, mémén ceningé suba ngancan seger ulian rajin boréhin. Bapa masé mapaica loloh apang méméné énggal seger. Ngemaling tamba di Pura Dalem anggon pangenep apang mémén ngancan seger kajatimula. Sawiréh atman mémén ceningé aturanga di Pura Dalem.”
“Nggih jero. Titiang nyadia, apang mémén tiangé gelis seger.”

***
            Ngancan dina méméné ngancan nyegerang. Tiban-tibanan ngajeng lan manjus di pasaréan, jani suba nyidang bangun padidi maimbuh negak di banjah umahé padidianan. Nanging Putu Arya tusing ngemaang méméné majalan milehan lan joh. Ngancan liang kenehné nepukin méméné ngancan seger. Ia suba bani ngalahin méméné rikala makemit di pura apubuin ngayahang magebagan di Pos Kamling.
            Makelo suba ia tusing taén ngayah di banjar yadiastun méméné enu medemang ayahan kerana ia enu teruna. Yadiastun tondén tuun ngayah mabanjar, nanging Putu Arya mula demen ngayah masuka duka. Jani di banjarné buin nyumunin Pos Kamling kerana duratmaka midehan ngmaling pratima. Di bebanjaran ipuné buin ngidupang mageban maimbuh ngronda nyelehin wewidangan banjar. Kéto masi banjar di pisaga, utamané sané maduwé patapakan barong muang rangda, nglaksanayang Pos Kamling. Sami sregep sanjata muang pentong rikala ngronda. 
            Jani galahné Putu Arya ngalihang méméné ubad ka Pura Dalem. Ia ngancan precaya pituduh jero balian, kerana mabukti méméné ngancan nyegerang. Sujatiné Putu Arya gerap yéning tundén majalan padidian kala peteng. Ia tuah wanén manyaguran kerana lengenné beseh ulian fitness. Apabuin majalan padidian ka Pura Dalem di wewidangan sétra, gerapné ngancan pesu. Ulian gerap, ia sawaian buung muspa di sanggah yén sing ada nimpalin. Ia gerap kerana uling cerik suba aruh-aruhina satua léak. Kocap léaké paling demen malali ka sétra. Mapan di sétrané mambu miik kaucap gandamayu.
Yéning ada krama kalayu sekar kaabén muang kapendem di sétra, petengné léaké mapupul ngedum ambu miik gandamayuné. Minehang ngalihang méméné ubad di sétra ngancan pesu gerapné. Nanging yén sing majalan sinah kaucap piwal, sing rungu tekén rerama. Ia ngedén-ngedénang bayuné lakar luas ka sétra. Tengahing dalu, Kajeng Kliwon matimpal Tilem. Yadiastun jering bulun kalongné, Putu Arya majalan ka sétra, ngalihang méméné ubad. Uling jumahné ka sétrané ia negakin montor. Montorné kaparkir di tongos bet apang silib sakadi pitujuh jero balian. Pabesen jero balian, sing dadi ketara rikala nunas tamba. Disubané suud macaplagan ajak krama tusing kénkén, untengné rikala nunas tamba tusing ada ané nawang.
Jero balian nyambatang, kala Kajeng Kliwon apabuin Tilem muang Purnama pasti liu kramané nangkil ka pura. Ada madéwasraya nunas karahayuan, ada masé nunas nomor buntut apang ngukup togél. “Putu sing sandang jejeh ka Pura Dalem. Mapan kramané pasti ramé nangkil ka pura kala rerahinan,” tutur jero balianné. Tuturé ento ingetanga, mawinan ia ngengkebang parkir montorné.
Sarasa sing ngenjekin tanah batisné lakar macalep ka Pura Dalem. Bulun kalongné majujuk, ebokné karasayang jering. Sengap sajan ia majalan ulian jejeh. Don danyuh ulung, Putu Arya makecos sawiréh kaliwat jejeh. Ada kenehné makeledan, mabalik mulih ulian nyeh. Magenep takutina, kerana majalan peteng jejeh ada lelipi ngliwat. Bakat jejek payu gutil lelipi. Lacuran nasibé cara Irma Bulé muang Kadék Kobra. Yadiastun Irma Bulé sawai magending ngaba lelipi, kéto masé Kadék Kobra uling Jembrana biasa ngejuk lelipi, pamuputné mati cotot King Cobra. Ngancan pesu getapné, ngancang ngedénang kenehné mulih.
Suba di arep angkul-angkul pura, Putu Arya malipetan ngojog ka tongosé parkir. Éncol pesan ia majalan. Nanging neked di malun montorné, nadak ia inget tekén munyin balianné ané manesin kuping. Jero balian nyambatang ia tusing rungu tekén rerama, méméné suba nyem létég cara bangkén dongkang mara ajak maubad. Inget pangandikan jero balian, makada bayuné ngerodok panes. Ulian jengah, ia ngwanénang déwék mabalik lan macelep ka pura nunas tamba. “Ulian titiang sutindih tekén mémé yadiastun ngemasin mati, titiang nyadia,” ucapné di keneh.
Putu Arya macelep ka pura. Disubané di jeroan, ia ngaturang canangsari di palinggih. Masrieng galang kenehné suud ngaturang canangsari. Ngénggalang ia ngerik lumut di bataran palinggihé. Dugas ia ngaturang canangsari lan ngerik lumut di bataran palinggihé, ada papat mata ané ngiwasin laksanané. Makalalih anak lanang ané ningalin ento makejang nyaluk capil zebo. Muanné matekep, ngenah mata, song cunguh, lan bibihné dogén. Makalalih anak lanang ento brangti kerana ada anak ngmalunin macelep ka pura. Ipun makakalih pedih kerana rencanan ipuné ngmaling pratima tusing nyidang kalaksanayang.
            Ipun makalalih mulih. Apang sing pocol tur mulih mamuyung, sinalih tunggil ngalih-ngalihin montor. Kerana ipun precaya anak teruna ané sedeng ngaturang canangsari di pura pastika ngaba montor. Maling ané lénan ngiwasin Putu Arya, apang nyidang ngemaang timpalné sipta yéning anak teruna ento pesu uling pura. Disubané nepukin montor, kakalih duratmaka ento kitip-kitip pesu uling sétra sambilanga nandan montor. Suba di diwangan sema, montoré mara kaidupang. Malingé ngebut negakin montor maimbuh di malun Pos Kamling makraik nyambatang ada maling di Pura Dalem. Krama ané magebagan nyrajang bangun, sregep sanjata ngojog Pura Dalem.
            Di Pura Dalem, Putu Arya makléngaran, paling ngalih-ngalihin montorné. Sebet bayuné, montorné ilang. Tangkejut ia dugas ngalih-ngalihin montorné. Matané kasedat sénter, kakurung olih krama sregep sanjata.

Lodalang, Kajeng Kliwon Matal, 20 April 2016