Monday, 27 June 2016
Sunday, 26 June 2016
Papan
Tulis:
MENGEMBALIKAN “TRADISI KEBERAKSARAAN”
KEDALAM KELUARGA
Oleh:
IBK. Dharma Santika Putra
Direktur
Forum Indonesia Kecil
Pengantar
Jika dilontarkan sebuah pertanyaan, “Siapakah yang mengasuh anak-anak kita ?”. Maka jawaban yang kita
dapatkan adalah bahwa para orang tualah yang mengasuh anak-anak buah hati
mereka.
Sekilas memang tidak ada yang
salah dari jawaban yang diberikan oleh seorang ayah dan ibu, atas pertanyaan,
“siapakah yang mengasuh anak-anak mereka”. Karena secara normatif, tugas mengasuh
anak, memang merupakan tugas dari para orang tua..
Demikiankah didalam kenyataannya
?.
Jawabannya sering “jauh panggang dari api”.
Berapa jam-kah seorang ibu atau
ayah memiliki waktu untuk mengasuh anak-anaknya ?.
Ciba kemudian bandingkan dengan jumlah
waktu yang dihabiskan si anak didepan televisi, didepan computer, atau bermain-main
dengan berbagai bentuk gadget ?. Apakah
itu namanya Smartphone, HP, Tablet, iPod
hingga bentuk gadget terbaru dan super canggih ?.
Tidakkah anak-anak kita selama ini
lebih banyak diasuh oleh Remote Control
Televisi ?.
Sementara acara-acara televisi
seperti yang kita ketahui bersama dan bukan merupakan rahasia lagi, bahwa
acara-acara yang disuguhkan televisi dinegeri tercinta ini masih jauh dari mendidik
?.
Demikian juga dengan para remaja
kita; bukankah mereka lebih banyak diasuh dan bercengkrama dengan berbagai
bentuk produk gadget ?.
Lalu, kapankah para orang tua ada
waktu untuk mengasuh atau minimal becengkrama dengan anak-anak mereka ?.
Sebuah kenyataan getir memang
kalau kita berani menjawabnya dengan jujur sebuah pertanyaan sederhana.
“Siapakah yang selama ini mengasuh anak-anak kita ?”.
Loncatan
Budaya
Ketika anak-anak sebagai
putra-putri sang hidup didalam pertumbuhannya membutuhkan sentuhan kasih sayang
dari para orang tua, tetapi akibat kemajuan ilmu pengathuan dan teknologi akhirnya
semuanya terampas begitu saja oleh berbagai bentuk capain teknologi informasi
dan komunikasi yang memanjakan dan memberikan kenikmatan lebih sebagai gaya
hidup.
Apa yang kini sedang terjadi, dan menjadi
gaya hidup generasi muda kita, adalah apa sering disebut sebagai Cultural Jump.
Sebuah loncatan kebudayaan, yang
jika keliru didalam mengelolanya akan dapat meruntuhkan sebuah bangunan
peradaban negara-bangsa seperti Indonesia tercinta ini.
Gejala menuju kearah kehancuran
itu sudah mulai menunjukkan tanda-tandanya. Hal itu sangat terasa dengan
semakin melebarnya jurang komunikasi antara orang tua dengan anak, dan juga komunikasi
sosial antar warga didalam sebuah komunitas.
Kini hampir seluruh kisi-kisi
kehidupan
, dan laku budaya kemanusiaan kita
penuh dengan sentuhan IT, dengan berbagai pentuk produksinya berupa gadget.
Kini sebuah pesan cukup
disampaikan lewat pesan singkat atau SMS, tanpa harus bertemu dan berinteraksi
dengan mereka yang kita berikan pesan.
Atas semua itu. kini kehidupan
terasa semakin kering, dan simpul-simpul sosial antar warga menjadi semakin
renggang antara satu warga dengan warga lainnya. Bahkan gejala ini sudah masuk
hingga relung-relung kehidupan sebuah bangunan rumah tangga juga keluarga.
Bukanlah sebuah pemandangan yang
luar biasa, kalau sekarang kita sering meihat bahwa anak-anak lebih asyik
dengan gedget-nya ketimbang menjalin komunikasi dengan saudara atau orang
tuanya. Mareka lebih asyik dengan petualangan sebuah permainan (game-pen),
ketimbang menyapa orang tua atau saudaranya.
Sementara yang masih tergolong
anak-anak lebih asyik dengan berbagai acara televisi, yang sejak awal siar
menyajikan hal-hal yang jauh dari dunia kanak-kanak mereka. Dan semua itu
terjadi sebagai sebuah keniscayaan, tanpa ada yang peduli. Juga pemerintah,
bahkan negara seolah tidak hadir.
Tradisi Keberaksaraan
Tentu kita tidak cukup memiliki
kemampuan dan kekuatan untuk menghentikan, bahkan memperlambat laju jaman
dengan berbagai bentuk capaian teknologinya. Seperti apa yang kita lihat dan
terjadi disekitar kita dan kemudian menjadi gaya hidup anak-anak sebagai buah
hati kita.
Tetapi kelalaian didalam mengelola
unsur utama peradaban dalam hal ini unsur sumber daya manusia, tentu juga tidak
boleh terjadi dan dibiarkan begitu saja. Seperti apa yang tertuang dalam
bait-bait Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, “bangunlah
jianya, bangunlah badannya”.
Atas kenyataan zaman inilah, maka
kehadiran sosok “Ibu Cerdas” dan bisa
tampil hangat serta ramah didalam mengelola keluarga menjadi sebah keniscayaan.
Seperti sebuah ujar-ujar menyatakan, //jika
kaum perempuan sudah menjadi jalang/ dan anak-anak kehilangan etika moral
didalam berpirlaku/ maka kehadiran seorang ibu adalah jawabannya//.
Mungkin pertanyaannya kemudian
adalah, “Siapakah Ibu Cerdas yang mampu dengan hangat dan ramah mengelola
keluarga ?”.
Disini jawabannya mungkin bukan
sesuatu yang bersifat personal atau sebuah sosok pribadi, tetapi lebih
bagaimana kita mengelola bangunan peradaban yang bernama keluarga dengan
sentuhan-sentuhan yang mencerdaskan, dan kemudian mampu melahirkan suasana
hangat nan ranah ditengah-tengah dinamika keluarga kita, sehingga mampu
melahirkan anak-anak yang memiliki kecerdasan yang mumpuni. Sigap didalam
berfikir, dan penuh sentuhan etika moral didalam berprilaku dan tutur katanya.
Atau dalam bahasa lugasnya anak – anak yang berkarakter dan memiliki etika
moral didalam prilaku dan tutur katanya.
Apa yang dilontarkan secara
apresiastif oleh Prof. Dr. Umar Kayam yang kemudian dikutip oleh Ashadi Serigar
dan Faruk HT dalam bukunya Umar Kayam Luar Dalam, ada disebutkan sebuah tradisi
mencerdaskan yang disebut sebagai “Tradisi Keberaksaraan”. Yang merupakan salah
satu therapi kebudayaan bagi bangunan Keluarga Indonesia didalam menghadapi
kemajuan zaman dengan berbagai capaian ilmu pengatahuan dan teknologinya,
seperti apa yang sedang terjadi saat ini, dimana ruang dan waktu anak – anak
kita dihabiskan oleh benda-benda canggih yang disebut sebagai Gatget.
Yang dimaksud dengan Tradisi
Keberaksaraan disini adalah:
1.
Tradisi Lisan
(mendongeng).
2.
Tradisi
Mendengar (mendengarkan siaran radio).
3.
Tradisi
Membaca (membaca karya sastra).
4.
Tradisi
Menulis (menulis surat/korespondensi) dan
5.
Tradisi
Berdialog(ngobrol lepas/ bercengkrama bersama anggota keluarga).
Jika kita sebagai orang tua (ibu
dan ayah) mampu membangun tradisi keberaksaraan ditengah-tengah dinamika dan
interaksi keluarga kita saat ini yang lebih disibukkan oleh tradisi menonton
televisi dan bermain gatget, niscaya sentuhan kehangatan yang lebih manusiawi
akan bisa terbangun didalam keluarga kita. Dan tradisi keberaksaraan ini akan
menjadi sosok ibu cerdas, yang mampu melahirkan dan mengantarkan anak-anak kita
kepada kemulyaan manusiawi yang lebih baik.
Ada beberapa pertanyaan yang harus
dijawab secara jujur. Karena tanpa kejujuran kita tidak akan pernah sampai pada
angan-angan kita didalam mewujudkan bangunan peradaban yang bernama Keluarga Indonesia itu.
Masihkah kita mempunyai waktu
untuk mendongeng kepada anak – anak kita ?.
Masihkan kita mendengarkan siaran
radio ?.
Masihkah kita menulis surat untuk
anak-anak kita ?.
Masihkah kita memiliki cukup waktu
untuk membaca karya sastra ?.
Masihkan kita menyediakan ruang
dan waktu untuk ngobrol lepas dan memangun dialog kemanusiaan dengan anak –
anak kita ?.
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan
diatas, akan menjadi sebuah ukuran sejuahmana kita telah sampai, didalam
mewujudkan keluarga yang penuh kehangatan dan penuh sentuhan kemanusiaan.
Dan jika jawabannya bahwa anda belum
melakukannya, maka belumlah terlambat bagi kita, untuk memulai sebuah langkah
awal, untuk mewujudkan tradisi keberaksaraan didalam mengelola keluarga,
sehingga terwujud bangunan peradaban keluarga Indonesia yang lebih harmonis dan
mencerdaskan.
Dan semuanya belum terlambat.
Karena tidak ada kata terlambat untuk sebuah kebajikan, apalagi dengan
cita-cita mulia untuk mewujudkan bangunan peradaban insaniah yang bernama
Keluarga Indonesia.
Bergegaslah !
Pondok Seni Praba-Gita Jembrana, Bali.
Monday, 20 June 2016
Wednesday, 15 June 2016
Kajeng Kliwom
Putu Arya tusing ngelah pilihan lén,
sajaba nuutin piteket kulawarga lan timpal-timpalé. Apabuin utsaha maubad ka
dokter sawaian pocol. Kudang dokter suba kaalih, nanging segeré tusing
kapanggih. Suba pitung tiban méméné gelem. Ngancan wai, ngancan meragang.
Kadirasa ningtingang lima tusing mampuh. Dokteré suba nyerah ngubadin méméné
ané kadiagnosa sakit komplikasi luiré jantung, diabetes, maimbuh kanker. Jani
kulawarga lan timpal-timpalné nujuhang maubad ka balian.
Sujatiné Putu Arya
tusing precaya ubad saking supranatural. Nanging ia jejeh kaucap tusing
ngrunguang rerama. Ento makrana ia nyak ngrérénang ngubadin méméné di dokter
lan nunas tamba ka balian, yadiastun di kenehné tusing precaya. Ulian baat
kenehné, ia majalan ngatehang méméné maubad ka balian nemoning Sukra Kliwon.
Dinané ento kaucap tenget, becik nunas ajah wiadin nunas ubad.
Neked diwangan jero
balianné, batisné kasarayang baat matindakan. Uling cerik ia tusing precaya
tekén balian. Ia nyaihang balianné ento penipu. Ngaku bisa ngubadin sakancan
penyakit. Da ja balian, ia masé nyidang ngubadin sakancan penyakit ané mentik
di guminé. “Batek ngomohang bisa ngubadin sakancan penyakit, cang bisa. Kéwala
seken nyidang nyegerang? Cang sing precaya. Sing makejang sakité nyidang segerang!”
ucapné brangti di ati.
“Da sumanangsaya,
tindakan batisé, ubadin mémén cainé. Yadiastun cai tusing precaya tekén balian,
nanging tusing ada pelihné mautsaha nyegerang mémén cainé apang suud
kalara-lara. Majalan, entungang rasa sumanangsaya cainé!” pabesen pamanné
mangieng di kuping.
Ngingetang piputur
pamanné, Putu Arya ngengsehang majalan mulihan. Méméné kagandong mulihan. Neked
di banjah balé daja, ia negakang lan méméné kaslélégang di témboké. Tingalina
jero balian masesonténg di kamar suci. Sanjané ento enu ada panangkilan.
Macladukan papinehné
Putu Arya dugas negak ngantosang giliran méméné maubad. Pamanné teka uling
diwangan ngaba roti lan yéh. Marasa aget Putu Arya enu ngelah paman maimbuh
urati tekén méméné. Midehan pamanné ngateh méméné maubad. Pamanne masé
nyediahang mobil maimbuh nyopirin rikala méméné maubad. Mautang budi Putu Arya
tekén pamanné. Putu Arya suba sing ngelah enyén, bapané suba ngalahin ka tanah
wayah. Bapané masé sing ngelah nyama tugelan. Aget ada paman ulian mémé ané
urati.
Disubané panangkilanné
mapamit, jani giliran méméné kaubadin. Putu Arya ngosong méméné ka kamar suci.
Di kamar suci, ia ningalin jero balian mabusana sarwa putih. Di témboké ada
topéng lan patung, luiré patung Déwi Kwam In. Di apit lawang plangkiranné ada
patung macan lan singa. Di samping patungé ada tedung mawarna putih lan kuning.
Lénan tekén patung ada masé keris majujuk nanging muncukné tusing matanceb.
Mirib muncuk kerisé misi resani mapan tekek majujuk. Di témboké masé ada pecut
ikut bé pai, pedang, trisula, lan cakra. Kamar suci jero balianné karasayang
tenget.
Manut krama sané
matamba, jero balian kaucap nedeng sidhi lan bétél tingal. Sakancan penyakit
sida katerawang maimbuh masaih ajak asil laboratorium rumah sakit. Liu
panangkilan ané gelem ngednged seger oger disubané kapicayang tamba. Maimbuh
ubadé aluh alih mapan liu mentik di natah umahé muang di pundukan cariké.
Sakancan don-donan ané èmpoka anggona loloh dadi tamba mautama. Maimbuh
sesariné tusing ja gedé makada panangkilanné ngancan ngraméang.
Orti ané nglimbak,
tiosan tekén anak nunas tamba, kramané liu nangkil nunas pasugihan, pasikepan,
kantos nunas sentana. Liu krama ané bekung, nganti tiban-tibanan tusing ngelah
pianak maan pica utama. Krama sané bekung kapica tamba malakar lengis macampur
kama kakia. Lengisé ento kaolésin di pusaka pingit krama lanang, yéning krama
istri kapica loloh kecambah. Orti balian sakti bétél tingal dingeha tekén
pamané Putu Arya, ento mawinan ia nyak ngatehang méméné maubad kema.
Putu Arya nuutin pamanné
ané ngajakin méméné maubad ka jero balian, yadiastun masantulan di kenehné.
Mapan ia pepes nepukin pisaga mayegan ulian maubad ka balian. Ulian maubad ka
balian, di kulawarga dadi buut. Kerana baliané sawai ngucapang ané ngaénang
sakit tuah layah lan gigi, sing ada lén tekén nyama. Ningeh saa balian buka
kéto, dadiné di kulawarga mapuikan. Ajak nyama misan, ipah, tugelan, saling
cureng kerana precaya munyin balian. Baliané sawaian ngorahang sakité ulian
pagéan manusa sakti. Pagaén léak. Di kulawarga dadiné saling cenidra, saling
kadén bisa ngléak. Ulian precaya munyin balian, ada kulawarga saling sepegin.
Rasa jengah, sebet, sakit ati terus tumbuh di kulawarga ané makada keturunanné
satata mapuikan.
Lénan tekén numbuhang
bibit sakit ati, pituduh jero balian sawai ngebatin krama ané nangkil nunas
tamba. Sakadi di pakubon kasambatang kuangan palinggih. Ento makada nyilih
pipis di LPD anggon nyujukang palinggih. Pamuputné utang tondén lunas, ané
sakit masé ngemasin mati. Patutné adéng-adéngin minehin mapan iraga suba ngelah
sanggah muang merajan di umah, jero, puri, geria soang-soang. Buut ané buka
kéto makada Putu Arya setata ngaénang baat batisné matindakan ngajakin méméné
maubad ka balian.
Nanging jani ia
ngentungang kenehné ané setata sumanangsaya tekén jero balian. Mapan paman lan
kulawargané setata nesek apang ngalih ubad alternatif lénan meli ubad di
dokter. “Sing ada pelihné naduanin, mémén cainé ubadin apang seger,” pabesen
ento setata mangieng di kupingné. Pangaptiné méméné seger, nandanin papinehné
majalan maubad ka jero balian.
“Aduh, tingalin méméné,
ba cara bangké mara ajak maubad mai. Uling pidan sing kal ubadin?” patakon jero
balian.
Tangkejut Putu Arya
ningehang atur jero balianné. Daas nyagjag bangun tur nyagurin. Ia sing terima
kaucap tusing ada utsaha ngubadin méméné. Putu Arya nengéng, nengnéng
paningalan jero balianné. Jero balian makirig atapak kerana paningalan
panangkilanné mamarak ulian pedih.
“Cai bisa ngubadin apa
tusing? Da ngawag mesuang peta!” ucap Putu Arya di kenehné.
Pedihné kaliwat. Giginé
ngretek, limanné tekek magemelan. Pamanné ngénggalang ngisi Putu Arya. Yén sing
kéto mirib suba ngamuk tur nyagurin jero balian. Putu Arya nglawan dugas
pamanné mrekek awakné. Nanging ia tusing nyidang makiba. Ngancan makelo,
pedihné ngancan nayuhang.
“Tu, dayuhang kenehé.
Lan nunas tamba apang énggal seger méméné. Putu suba sing ngelah bapa, ngemasin
mati ulian sakit. Yén sing ubadin méméné, Putu lakar dadi anak ubuh. Sing
makita ngayahin méméné?”
Ningeh tutur pamanné
buka kéto, Putu Arya ngancan ngendukang. Prajani ngeling kerana jejeh kélangan
mémé. Jani ia masukserah, nunas tamba tekén jero balian. Tusing bani nungkasin
kerana jejeh balianné boya mapica tamba. Ulian gedeg tekén déwékné, jero balian
micayang cetik anggona ubad pamungkas. Jejeh ia ubadé kacampurin sianida.
“Ratu bhatara, picayang mémén tiangé ubad mautama,” pangaptin Putu Arya di ati.
Di kamar suci jero
balian kemak kemik nguncarang mantra. Tangané ngisi sangku. Suud mamantra,
ngetisin tirta. Méméné jerit-jerit nanggehang sakit kala kaketisin tirta. Putu
Arya ngénggalang ngisi méméné ané ngenangning daah duuh nanggehang sakit. Ia
nyingakin uling bibih méméné pesu getih kentel mawarna selem. Ping ngedil
méméné ngutahang getih badeng mabo andih. Méméné nglemet lantas sing inget
tekén déwék.
“Sampunang jejeh, ning.
Makejang wisya di basangné suba pesu. Yén suba enten, sinah bayuné nyegerang.
Mémén ceningé kena cetik, da jejeh kerana suba makejang pesu. Aget cetik Bali,
yén kena sianida sinah bapa tusing nyidang nulungin. Tuni bapa
nyambatang mémén ceningé suba kronis mara ajak mai, yén nganti kasépan sinah
tusing nyidang nylametang. Sing ada keneh bapané jelé, tuah cening kadropon
ningehang maimbuh brangti. Kéwala bapa tusing ja milu pedih. Bapa masé taén
teruna, patuh ngandelang bayu akas,” ucap jero balian sinambi ngurut apang
méméné Putu Arya énggal enten.
“Ampurayang titiang,
jero. Titiang jatma kalintang tambet,” Putu Arya ngidih pelih.
Tusing makeloné, méméné
enten. Muané uling putih lepis jani masriang galang, ngenah cara misi getih. Sukeh
precaya, nanging jani seken méméné nyidang batek ningtingang lima ajak batisné.
Putu Arya liang nepukin méméné nyidang ngemelang limanné. Saking liang kenehné,
Putu Arya nganti nyumbah jero balian di arepné. Mara nyumunin maubad, ada cihna
méméné lakar seger. Mara ia nyesel, nguda sing uling pidan ajak maubad ka jero
balian. Karuan dokteré nyerah ngubadin, mirib kerana tusing penyakit médis. Ené
sakit non médis amah léak. Kena cetik nyidang ngubadin di balian, yén kena
sianida sinah kekeh mati ubadin di dokter.
Jero balian mabesen
teken Putu Arya apang jemet moréhin méméné. Semengan, tengai lan saja apang
boréhing aji bawang, don piduh, akah tuju musna, muang jangu. Mapan pagaén
manusa kalintang sakti, Putu Arya masé tujuhina ngalih ubad ka Pura Dalem.
Ngalih ubad ka Pura Dalem apang silib, sing dadi ketara. Dadi ngajak timpal,
nanging sing dadi milu ngranjing ka Pura Dalem. Tamba mautama ada di Pura Dalem
ané dadi besik ajak wewidangan sétra. Paling melah nunas tamba kala Kajeng
Kliwon maimbuh Tilem.
“Mih, ten gelisang padem
mémén tiangé, jero. Kantuh joh Kajeng Kliwon nemu Tilem,” ucap Putu Arya.
“Sing, mémén ceningé
suba ngancan seger ulian rajin boréhin. Bapa masé mapaica loloh apang méméné
énggal seger. Ngemaling tamba di Pura Dalem anggon pangenep apang mémén ngancan
seger kajatimula. Sawiréh atman mémén ceningé aturanga di Pura Dalem.”
“Nggih jero. Titiang
nyadia, apang mémén tiangé gelis seger.”
***
Ngancan
dina méméné ngancan nyegerang. Tiban-tibanan ngajeng lan manjus di pasaréan,
jani suba nyidang bangun padidi maimbuh negak di banjah umahé padidianan.
Nanging Putu Arya tusing ngemaang méméné majalan milehan lan joh. Ngancan liang
kenehné nepukin méméné ngancan seger. Ia suba bani ngalahin méméné rikala
makemit di pura apubuin ngayahang magebagan di Pos Kamling.
Makelo
suba ia tusing taén ngayah di banjar yadiastun méméné enu medemang ayahan
kerana ia enu teruna. Yadiastun tondén tuun ngayah mabanjar, nanging Putu Arya
mula demen ngayah masuka duka. Jani di banjarné buin nyumunin Pos Kamling
kerana duratmaka midehan ngmaling pratima. Di bebanjaran ipuné buin ngidupang
mageban maimbuh ngronda nyelehin wewidangan banjar. Kéto masi banjar di pisaga,
utamané sané maduwé patapakan barong muang rangda, nglaksanayang Pos Kamling.
Sami sregep sanjata muang pentong rikala ngronda.
Jani
galahné Putu Arya ngalihang méméné ubad ka Pura Dalem. Ia ngancan precaya
pituduh jero balian, kerana mabukti méméné ngancan nyegerang. Sujatiné Putu
Arya gerap yéning tundén majalan padidian kala peteng. Ia tuah wanén manyaguran
kerana lengenné beseh ulian fitness. Apabuin majalan padidian ka Pura Dalem di
wewidangan sétra, gerapné ngancan pesu. Ulian gerap, ia sawaian buung muspa di
sanggah yén sing ada nimpalin. Ia gerap kerana uling cerik suba aruh-aruhina
satua léak. Kocap léaké paling demen malali ka sétra. Mapan di sétrané mambu
miik kaucap gandamayu.
Yéning ada krama kalayu
sekar kaabén muang kapendem di sétra, petengné léaké mapupul ngedum ambu miik
gandamayuné. Minehang ngalihang méméné ubad di sétra ngancan pesu gerapné.
Nanging yén sing majalan sinah kaucap piwal, sing rungu tekén rerama. Ia
ngedén-ngedénang bayuné lakar luas ka sétra. Tengahing dalu, Kajeng Kliwon
matimpal Tilem. Yadiastun jering bulun kalongné, Putu Arya majalan ka sétra,
ngalihang méméné ubad. Uling jumahné ka sétrané ia negakin montor. Montorné
kaparkir di tongos bet apang silib sakadi pitujuh jero balian. Pabesen jero
balian, sing dadi ketara rikala nunas tamba. Disubané suud macaplagan ajak
krama tusing kénkén, untengné rikala nunas tamba tusing ada ané nawang.
Jero balian nyambatang,
kala Kajeng Kliwon apabuin Tilem muang Purnama pasti liu kramané nangkil ka
pura. Ada madéwasraya nunas karahayuan, ada masé nunas nomor buntut apang
ngukup togél. “Putu sing sandang jejeh ka Pura Dalem. Mapan kramané pasti ramé
nangkil ka pura kala rerahinan,” tutur jero balianné. Tuturé ento ingetanga,
mawinan ia ngengkebang parkir montorné.
Sarasa sing ngenjekin
tanah batisné lakar macalep ka Pura Dalem. Bulun kalongné majujuk, ebokné
karasayang jering. Sengap sajan ia majalan ulian jejeh. Don danyuh ulung, Putu
Arya makecos sawiréh kaliwat jejeh. Ada kenehné makeledan, mabalik mulih ulian
nyeh. Magenep takutina, kerana majalan peteng jejeh ada lelipi ngliwat. Bakat
jejek payu gutil lelipi. Lacuran nasibé cara Irma Bulé muang Kadék Kobra.
Yadiastun Irma Bulé sawai magending ngaba lelipi, kéto masé Kadék Kobra uling
Jembrana biasa ngejuk lelipi, pamuputné mati cotot King Cobra. Ngancan pesu
getapné, ngancang ngedénang kenehné mulih.
Suba di arep
angkul-angkul pura, Putu Arya malipetan ngojog ka tongosé parkir. Éncol pesan
ia majalan. Nanging neked di malun montorné, nadak ia inget tekén munyin
balianné ané manesin kuping. Jero balian nyambatang ia tusing rungu tekén
rerama, méméné suba nyem létég cara bangkén dongkang mara ajak maubad. Inget
pangandikan jero balian, makada bayuné ngerodok panes. Ulian jengah, ia
ngwanénang déwék mabalik lan macelep ka pura nunas tamba. “Ulian titiang
sutindih tekén mémé yadiastun ngemasin mati, titiang nyadia,” ucapné di keneh.
Putu Arya macelep ka
pura. Disubané di jeroan, ia ngaturang canangsari di palinggih. Masrieng galang
kenehné suud ngaturang canangsari. Ngénggalang ia ngerik lumut di bataran
palinggihé. Dugas ia ngaturang canangsari lan ngerik lumut di bataran
palinggihé, ada papat mata ané ngiwasin laksanané. Makalalih anak lanang ané
ningalin ento makejang nyaluk capil zebo. Muanné matekep, ngenah mata, song
cunguh, lan bibihné dogén. Makalalih anak lanang ento brangti kerana ada anak
ngmalunin macelep ka pura. Ipun makakalih pedih kerana rencanan ipuné ngmaling
pratima tusing nyidang kalaksanayang.
Ipun
makalalih mulih. Apang sing pocol tur mulih mamuyung, sinalih tunggil
ngalih-ngalihin montor. Kerana ipun precaya anak teruna ané sedeng ngaturang
canangsari di pura pastika ngaba montor. Maling ané lénan ngiwasin Putu Arya,
apang nyidang ngemaang timpalné sipta yéning anak teruna ento pesu uling pura.
Disubané nepukin montor, kakalih duratmaka ento kitip-kitip pesu uling sétra
sambilanga nandan montor. Suba di diwangan sema, montoré mara kaidupang.
Malingé ngebut negakin montor maimbuh di malun Pos Kamling makraik nyambatang
ada maling di Pura Dalem. Krama ané magebagan nyrajang bangun, sregep sanjata
ngojog Pura Dalem.
Di
Pura Dalem, Putu Arya makléngaran, paling ngalih-ngalihin montorné. Sebet
bayuné, montorné ilang. Tangkejut ia dugas ngalih-ngalihin montorné. Matané
kasedat sénter, kakurung olih krama sregep sanjata.
Lodalang, Kajeng Kliwon Matal, 20 April
2016
Subscribe to:
Posts (Atom)




