Monday, 27 June 2016
Sunday, 26 June 2016
Papan
Tulis:
MENGEMBALIKAN “TRADISI KEBERAKSARAAN”
KEDALAM KELUARGA
Oleh:
IBK. Dharma Santika Putra
Direktur
Forum Indonesia Kecil
Pengantar
Jika dilontarkan sebuah pertanyaan, “Siapakah yang mengasuh anak-anak kita ?”. Maka jawaban yang kita
dapatkan adalah bahwa para orang tualah yang mengasuh anak-anak buah hati
mereka.
Sekilas memang tidak ada yang
salah dari jawaban yang diberikan oleh seorang ayah dan ibu, atas pertanyaan,
“siapakah yang mengasuh anak-anak mereka”. Karena secara normatif, tugas mengasuh
anak, memang merupakan tugas dari para orang tua..
Demikiankah didalam kenyataannya
?.
Jawabannya sering “jauh panggang dari api”.
Berapa jam-kah seorang ibu atau
ayah memiliki waktu untuk mengasuh anak-anaknya ?.
Ciba kemudian bandingkan dengan jumlah
waktu yang dihabiskan si anak didepan televisi, didepan computer, atau bermain-main
dengan berbagai bentuk gadget ?. Apakah
itu namanya Smartphone, HP, Tablet, iPod
hingga bentuk gadget terbaru dan super canggih ?.
Tidakkah anak-anak kita selama ini
lebih banyak diasuh oleh Remote Control
Televisi ?.
Sementara acara-acara televisi
seperti yang kita ketahui bersama dan bukan merupakan rahasia lagi, bahwa
acara-acara yang disuguhkan televisi dinegeri tercinta ini masih jauh dari mendidik
?.
Demikian juga dengan para remaja
kita; bukankah mereka lebih banyak diasuh dan bercengkrama dengan berbagai
bentuk produk gadget ?.
Lalu, kapankah para orang tua ada
waktu untuk mengasuh atau minimal becengkrama dengan anak-anak mereka ?.
Sebuah kenyataan getir memang
kalau kita berani menjawabnya dengan jujur sebuah pertanyaan sederhana.
“Siapakah yang selama ini mengasuh anak-anak kita ?”.
Loncatan
Budaya
Ketika anak-anak sebagai
putra-putri sang hidup didalam pertumbuhannya membutuhkan sentuhan kasih sayang
dari para orang tua, tetapi akibat kemajuan ilmu pengathuan dan teknologi akhirnya
semuanya terampas begitu saja oleh berbagai bentuk capain teknologi informasi
dan komunikasi yang memanjakan dan memberikan kenikmatan lebih sebagai gaya
hidup.
Apa yang kini sedang terjadi, dan menjadi
gaya hidup generasi muda kita, adalah apa sering disebut sebagai Cultural Jump.
Sebuah loncatan kebudayaan, yang
jika keliru didalam mengelolanya akan dapat meruntuhkan sebuah bangunan
peradaban negara-bangsa seperti Indonesia tercinta ini.
Gejala menuju kearah kehancuran
itu sudah mulai menunjukkan tanda-tandanya. Hal itu sangat terasa dengan
semakin melebarnya jurang komunikasi antara orang tua dengan anak, dan juga komunikasi
sosial antar warga didalam sebuah komunitas.
Kini hampir seluruh kisi-kisi
kehidupan
, dan laku budaya kemanusiaan kita
penuh dengan sentuhan IT, dengan berbagai pentuk produksinya berupa gadget.
Kini sebuah pesan cukup
disampaikan lewat pesan singkat atau SMS, tanpa harus bertemu dan berinteraksi
dengan mereka yang kita berikan pesan.
Atas semua itu. kini kehidupan
terasa semakin kering, dan simpul-simpul sosial antar warga menjadi semakin
renggang antara satu warga dengan warga lainnya. Bahkan gejala ini sudah masuk
hingga relung-relung kehidupan sebuah bangunan rumah tangga juga keluarga.
Bukanlah sebuah pemandangan yang
luar biasa, kalau sekarang kita sering meihat bahwa anak-anak lebih asyik
dengan gedget-nya ketimbang menjalin komunikasi dengan saudara atau orang
tuanya. Mareka lebih asyik dengan petualangan sebuah permainan (game-pen),
ketimbang menyapa orang tua atau saudaranya.
Sementara yang masih tergolong
anak-anak lebih asyik dengan berbagai acara televisi, yang sejak awal siar
menyajikan hal-hal yang jauh dari dunia kanak-kanak mereka. Dan semua itu
terjadi sebagai sebuah keniscayaan, tanpa ada yang peduli. Juga pemerintah,
bahkan negara seolah tidak hadir.
Tradisi Keberaksaraan
Tentu kita tidak cukup memiliki
kemampuan dan kekuatan untuk menghentikan, bahkan memperlambat laju jaman
dengan berbagai bentuk capaian teknologinya. Seperti apa yang kita lihat dan
terjadi disekitar kita dan kemudian menjadi gaya hidup anak-anak sebagai buah
hati kita.
Tetapi kelalaian didalam mengelola
unsur utama peradaban dalam hal ini unsur sumber daya manusia, tentu juga tidak
boleh terjadi dan dibiarkan begitu saja. Seperti apa yang tertuang dalam
bait-bait Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, “bangunlah
jianya, bangunlah badannya”.
Atas kenyataan zaman inilah, maka
kehadiran sosok “Ibu Cerdas” dan bisa
tampil hangat serta ramah didalam mengelola keluarga menjadi sebah keniscayaan.
Seperti sebuah ujar-ujar menyatakan, //jika
kaum perempuan sudah menjadi jalang/ dan anak-anak kehilangan etika moral
didalam berpirlaku/ maka kehadiran seorang ibu adalah jawabannya//.
Mungkin pertanyaannya kemudian
adalah, “Siapakah Ibu Cerdas yang mampu dengan hangat dan ramah mengelola
keluarga ?”.
Disini jawabannya mungkin bukan
sesuatu yang bersifat personal atau sebuah sosok pribadi, tetapi lebih
bagaimana kita mengelola bangunan peradaban yang bernama keluarga dengan
sentuhan-sentuhan yang mencerdaskan, dan kemudian mampu melahirkan suasana
hangat nan ranah ditengah-tengah dinamika keluarga kita, sehingga mampu
melahirkan anak-anak yang memiliki kecerdasan yang mumpuni. Sigap didalam
berfikir, dan penuh sentuhan etika moral didalam berprilaku dan tutur katanya.
Atau dalam bahasa lugasnya anak – anak yang berkarakter dan memiliki etika
moral didalam prilaku dan tutur katanya.
Apa yang dilontarkan secara
apresiastif oleh Prof. Dr. Umar Kayam yang kemudian dikutip oleh Ashadi Serigar
dan Faruk HT dalam bukunya Umar Kayam Luar Dalam, ada disebutkan sebuah tradisi
mencerdaskan yang disebut sebagai “Tradisi Keberaksaraan”. Yang merupakan salah
satu therapi kebudayaan bagi bangunan Keluarga Indonesia didalam menghadapi
kemajuan zaman dengan berbagai capaian ilmu pengatahuan dan teknologinya,
seperti apa yang sedang terjadi saat ini, dimana ruang dan waktu anak – anak
kita dihabiskan oleh benda-benda canggih yang disebut sebagai Gatget.
Yang dimaksud dengan Tradisi
Keberaksaraan disini adalah:
1.
Tradisi Lisan
(mendongeng).
2.
Tradisi
Mendengar (mendengarkan siaran radio).
3.
Tradisi
Membaca (membaca karya sastra).
4.
Tradisi
Menulis (menulis surat/korespondensi) dan
5.
Tradisi
Berdialog(ngobrol lepas/ bercengkrama bersama anggota keluarga).
Jika kita sebagai orang tua (ibu
dan ayah) mampu membangun tradisi keberaksaraan ditengah-tengah dinamika dan
interaksi keluarga kita saat ini yang lebih disibukkan oleh tradisi menonton
televisi dan bermain gatget, niscaya sentuhan kehangatan yang lebih manusiawi
akan bisa terbangun didalam keluarga kita. Dan tradisi keberaksaraan ini akan
menjadi sosok ibu cerdas, yang mampu melahirkan dan mengantarkan anak-anak kita
kepada kemulyaan manusiawi yang lebih baik.
Ada beberapa pertanyaan yang harus
dijawab secara jujur. Karena tanpa kejujuran kita tidak akan pernah sampai pada
angan-angan kita didalam mewujudkan bangunan peradaban yang bernama Keluarga Indonesia itu.
Masihkah kita mempunyai waktu
untuk mendongeng kepada anak – anak kita ?.
Masihkan kita mendengarkan siaran
radio ?.
Masihkah kita menulis surat untuk
anak-anak kita ?.
Masihkah kita memiliki cukup waktu
untuk membaca karya sastra ?.
Masihkan kita menyediakan ruang
dan waktu untuk ngobrol lepas dan memangun dialog kemanusiaan dengan anak –
anak kita ?.
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan
diatas, akan menjadi sebuah ukuran sejuahmana kita telah sampai, didalam
mewujudkan keluarga yang penuh kehangatan dan penuh sentuhan kemanusiaan.
Dan jika jawabannya bahwa anda belum
melakukannya, maka belumlah terlambat bagi kita, untuk memulai sebuah langkah
awal, untuk mewujudkan tradisi keberaksaraan didalam mengelola keluarga,
sehingga terwujud bangunan peradaban keluarga Indonesia yang lebih harmonis dan
mencerdaskan.
Dan semuanya belum terlambat.
Karena tidak ada kata terlambat untuk sebuah kebajikan, apalagi dengan
cita-cita mulia untuk mewujudkan bangunan peradaban insaniah yang bernama
Keluarga Indonesia.
Bergegaslah !
Pondok Seni Praba-Gita Jembrana, Bali.
Monday, 20 June 2016
Wednesday, 15 June 2016
Kajeng Kliwom
Putu Arya tusing ngelah pilihan lén,
sajaba nuutin piteket kulawarga lan timpal-timpalé. Apabuin utsaha maubad ka
dokter sawaian pocol. Kudang dokter suba kaalih, nanging segeré tusing
kapanggih. Suba pitung tiban méméné gelem. Ngancan wai, ngancan meragang.
Kadirasa ningtingang lima tusing mampuh. Dokteré suba nyerah ngubadin méméné
ané kadiagnosa sakit komplikasi luiré jantung, diabetes, maimbuh kanker. Jani
kulawarga lan timpal-timpalné nujuhang maubad ka balian.
Sujatiné Putu Arya
tusing precaya ubad saking supranatural. Nanging ia jejeh kaucap tusing
ngrunguang rerama. Ento makrana ia nyak ngrérénang ngubadin méméné di dokter
lan nunas tamba ka balian, yadiastun di kenehné tusing precaya. Ulian baat
kenehné, ia majalan ngatehang méméné maubad ka balian nemoning Sukra Kliwon.
Dinané ento kaucap tenget, becik nunas ajah wiadin nunas ubad.
Neked diwangan jero
balianné, batisné kasarayang baat matindakan. Uling cerik ia tusing precaya
tekén balian. Ia nyaihang balianné ento penipu. Ngaku bisa ngubadin sakancan
penyakit. Da ja balian, ia masé nyidang ngubadin sakancan penyakit ané mentik
di guminé. “Batek ngomohang bisa ngubadin sakancan penyakit, cang bisa. Kéwala
seken nyidang nyegerang? Cang sing precaya. Sing makejang sakité nyidang segerang!”
ucapné brangti di ati.
“Da sumanangsaya,
tindakan batisé, ubadin mémén cainé. Yadiastun cai tusing precaya tekén balian,
nanging tusing ada pelihné mautsaha nyegerang mémén cainé apang suud
kalara-lara. Majalan, entungang rasa sumanangsaya cainé!” pabesen pamanné
mangieng di kuping.
Ngingetang piputur
pamanné, Putu Arya ngengsehang majalan mulihan. Méméné kagandong mulihan. Neked
di banjah balé daja, ia negakang lan méméné kaslélégang di témboké. Tingalina
jero balian masesonténg di kamar suci. Sanjané ento enu ada panangkilan.
Macladukan papinehné
Putu Arya dugas negak ngantosang giliran méméné maubad. Pamanné teka uling
diwangan ngaba roti lan yéh. Marasa aget Putu Arya enu ngelah paman maimbuh
urati tekén méméné. Midehan pamanné ngateh méméné maubad. Pamanne masé
nyediahang mobil maimbuh nyopirin rikala méméné maubad. Mautang budi Putu Arya
tekén pamanné. Putu Arya suba sing ngelah enyén, bapané suba ngalahin ka tanah
wayah. Bapané masé sing ngelah nyama tugelan. Aget ada paman ulian mémé ané
urati.
Disubané panangkilanné
mapamit, jani giliran méméné kaubadin. Putu Arya ngosong méméné ka kamar suci.
Di kamar suci, ia ningalin jero balian mabusana sarwa putih. Di témboké ada
topéng lan patung, luiré patung Déwi Kwam In. Di apit lawang plangkiranné ada
patung macan lan singa. Di samping patungé ada tedung mawarna putih lan kuning.
Lénan tekén patung ada masé keris majujuk nanging muncukné tusing matanceb.
Mirib muncuk kerisé misi resani mapan tekek majujuk. Di témboké masé ada pecut
ikut bé pai, pedang, trisula, lan cakra. Kamar suci jero balianné karasayang
tenget.
Manut krama sané
matamba, jero balian kaucap nedeng sidhi lan bétél tingal. Sakancan penyakit
sida katerawang maimbuh masaih ajak asil laboratorium rumah sakit. Liu
panangkilan ané gelem ngednged seger oger disubané kapicayang tamba. Maimbuh
ubadé aluh alih mapan liu mentik di natah umahé muang di pundukan cariké.
Sakancan don-donan ané èmpoka anggona loloh dadi tamba mautama. Maimbuh
sesariné tusing ja gedé makada panangkilanné ngancan ngraméang.
Orti ané nglimbak,
tiosan tekén anak nunas tamba, kramané liu nangkil nunas pasugihan, pasikepan,
kantos nunas sentana. Liu krama ané bekung, nganti tiban-tibanan tusing ngelah
pianak maan pica utama. Krama sané bekung kapica tamba malakar lengis macampur
kama kakia. Lengisé ento kaolésin di pusaka pingit krama lanang, yéning krama
istri kapica loloh kecambah. Orti balian sakti bétél tingal dingeha tekén
pamané Putu Arya, ento mawinan ia nyak ngatehang méméné maubad kema.
Putu Arya nuutin pamanné
ané ngajakin méméné maubad ka jero balian, yadiastun masantulan di kenehné.
Mapan ia pepes nepukin pisaga mayegan ulian maubad ka balian. Ulian maubad ka
balian, di kulawarga dadi buut. Kerana baliané sawai ngucapang ané ngaénang
sakit tuah layah lan gigi, sing ada lén tekén nyama. Ningeh saa balian buka
kéto, dadiné di kulawarga mapuikan. Ajak nyama misan, ipah, tugelan, saling
cureng kerana precaya munyin balian. Baliané sawaian ngorahang sakité ulian
pagéan manusa sakti. Pagaén léak. Di kulawarga dadiné saling cenidra, saling
kadén bisa ngléak. Ulian precaya munyin balian, ada kulawarga saling sepegin.
Rasa jengah, sebet, sakit ati terus tumbuh di kulawarga ané makada keturunanné
satata mapuikan.
Lénan tekén numbuhang
bibit sakit ati, pituduh jero balian sawai ngebatin krama ané nangkil nunas
tamba. Sakadi di pakubon kasambatang kuangan palinggih. Ento makada nyilih
pipis di LPD anggon nyujukang palinggih. Pamuputné utang tondén lunas, ané
sakit masé ngemasin mati. Patutné adéng-adéngin minehin mapan iraga suba ngelah
sanggah muang merajan di umah, jero, puri, geria soang-soang. Buut ané buka
kéto makada Putu Arya setata ngaénang baat batisné matindakan ngajakin méméné
maubad ka balian.
Nanging jani ia
ngentungang kenehné ané setata sumanangsaya tekén jero balian. Mapan paman lan
kulawargané setata nesek apang ngalih ubad alternatif lénan meli ubad di
dokter. “Sing ada pelihné naduanin, mémén cainé ubadin apang seger,” pabesen
ento setata mangieng di kupingné. Pangaptiné méméné seger, nandanin papinehné
majalan maubad ka jero balian.
“Aduh, tingalin méméné,
ba cara bangké mara ajak maubad mai. Uling pidan sing kal ubadin?” patakon jero
balian.
Tangkejut Putu Arya
ningehang atur jero balianné. Daas nyagjag bangun tur nyagurin. Ia sing terima
kaucap tusing ada utsaha ngubadin méméné. Putu Arya nengéng, nengnéng
paningalan jero balianné. Jero balian makirig atapak kerana paningalan
panangkilanné mamarak ulian pedih.
“Cai bisa ngubadin apa
tusing? Da ngawag mesuang peta!” ucap Putu Arya di kenehné.
Pedihné kaliwat. Giginé
ngretek, limanné tekek magemelan. Pamanné ngénggalang ngisi Putu Arya. Yén sing
kéto mirib suba ngamuk tur nyagurin jero balian. Putu Arya nglawan dugas
pamanné mrekek awakné. Nanging ia tusing nyidang makiba. Ngancan makelo,
pedihné ngancan nayuhang.
“Tu, dayuhang kenehé.
Lan nunas tamba apang énggal seger méméné. Putu suba sing ngelah bapa, ngemasin
mati ulian sakit. Yén sing ubadin méméné, Putu lakar dadi anak ubuh. Sing
makita ngayahin méméné?”
Ningeh tutur pamanné
buka kéto, Putu Arya ngancan ngendukang. Prajani ngeling kerana jejeh kélangan
mémé. Jani ia masukserah, nunas tamba tekén jero balian. Tusing bani nungkasin
kerana jejeh balianné boya mapica tamba. Ulian gedeg tekén déwékné, jero balian
micayang cetik anggona ubad pamungkas. Jejeh ia ubadé kacampurin sianida.
“Ratu bhatara, picayang mémén tiangé ubad mautama,” pangaptin Putu Arya di ati.
Di kamar suci jero
balian kemak kemik nguncarang mantra. Tangané ngisi sangku. Suud mamantra,
ngetisin tirta. Méméné jerit-jerit nanggehang sakit kala kaketisin tirta. Putu
Arya ngénggalang ngisi méméné ané ngenangning daah duuh nanggehang sakit. Ia
nyingakin uling bibih méméné pesu getih kentel mawarna selem. Ping ngedil
méméné ngutahang getih badeng mabo andih. Méméné nglemet lantas sing inget
tekén déwék.
“Sampunang jejeh, ning.
Makejang wisya di basangné suba pesu. Yén suba enten, sinah bayuné nyegerang.
Mémén ceningé kena cetik, da jejeh kerana suba makejang pesu. Aget cetik Bali,
yén kena sianida sinah bapa tusing nyidang nulungin. Tuni bapa
nyambatang mémén ceningé suba kronis mara ajak mai, yén nganti kasépan sinah
tusing nyidang nylametang. Sing ada keneh bapané jelé, tuah cening kadropon
ningehang maimbuh brangti. Kéwala bapa tusing ja milu pedih. Bapa masé taén
teruna, patuh ngandelang bayu akas,” ucap jero balian sinambi ngurut apang
méméné Putu Arya énggal enten.
“Ampurayang titiang,
jero. Titiang jatma kalintang tambet,” Putu Arya ngidih pelih.
Tusing makeloné, méméné
enten. Muané uling putih lepis jani masriang galang, ngenah cara misi getih. Sukeh
precaya, nanging jani seken méméné nyidang batek ningtingang lima ajak batisné.
Putu Arya liang nepukin méméné nyidang ngemelang limanné. Saking liang kenehné,
Putu Arya nganti nyumbah jero balian di arepné. Mara nyumunin maubad, ada cihna
méméné lakar seger. Mara ia nyesel, nguda sing uling pidan ajak maubad ka jero
balian. Karuan dokteré nyerah ngubadin, mirib kerana tusing penyakit médis. Ené
sakit non médis amah léak. Kena cetik nyidang ngubadin di balian, yén kena
sianida sinah kekeh mati ubadin di dokter.
Jero balian mabesen
teken Putu Arya apang jemet moréhin méméné. Semengan, tengai lan saja apang
boréhing aji bawang, don piduh, akah tuju musna, muang jangu. Mapan pagaén
manusa kalintang sakti, Putu Arya masé tujuhina ngalih ubad ka Pura Dalem.
Ngalih ubad ka Pura Dalem apang silib, sing dadi ketara. Dadi ngajak timpal,
nanging sing dadi milu ngranjing ka Pura Dalem. Tamba mautama ada di Pura Dalem
ané dadi besik ajak wewidangan sétra. Paling melah nunas tamba kala Kajeng
Kliwon maimbuh Tilem.
“Mih, ten gelisang padem
mémén tiangé, jero. Kantuh joh Kajeng Kliwon nemu Tilem,” ucap Putu Arya.
“Sing, mémén ceningé
suba ngancan seger ulian rajin boréhin. Bapa masé mapaica loloh apang méméné
énggal seger. Ngemaling tamba di Pura Dalem anggon pangenep apang mémén ngancan
seger kajatimula. Sawiréh atman mémén ceningé aturanga di Pura Dalem.”
“Nggih jero. Titiang
nyadia, apang mémén tiangé gelis seger.”
***
Ngancan
dina méméné ngancan nyegerang. Tiban-tibanan ngajeng lan manjus di pasaréan,
jani suba nyidang bangun padidi maimbuh negak di banjah umahé padidianan.
Nanging Putu Arya tusing ngemaang méméné majalan milehan lan joh. Ngancan liang
kenehné nepukin méméné ngancan seger. Ia suba bani ngalahin méméné rikala
makemit di pura apubuin ngayahang magebagan di Pos Kamling.
Makelo
suba ia tusing taén ngayah di banjar yadiastun méméné enu medemang ayahan
kerana ia enu teruna. Yadiastun tondén tuun ngayah mabanjar, nanging Putu Arya
mula demen ngayah masuka duka. Jani di banjarné buin nyumunin Pos Kamling
kerana duratmaka midehan ngmaling pratima. Di bebanjaran ipuné buin ngidupang
mageban maimbuh ngronda nyelehin wewidangan banjar. Kéto masi banjar di pisaga,
utamané sané maduwé patapakan barong muang rangda, nglaksanayang Pos Kamling.
Sami sregep sanjata muang pentong rikala ngronda.
Jani
galahné Putu Arya ngalihang méméné ubad ka Pura Dalem. Ia ngancan precaya
pituduh jero balian, kerana mabukti méméné ngancan nyegerang. Sujatiné Putu
Arya gerap yéning tundén majalan padidian kala peteng. Ia tuah wanén manyaguran
kerana lengenné beseh ulian fitness. Apabuin majalan padidian ka Pura Dalem di
wewidangan sétra, gerapné ngancan pesu. Ulian gerap, ia sawaian buung muspa di
sanggah yén sing ada nimpalin. Ia gerap kerana uling cerik suba aruh-aruhina
satua léak. Kocap léaké paling demen malali ka sétra. Mapan di sétrané mambu
miik kaucap gandamayu.
Yéning ada krama kalayu
sekar kaabén muang kapendem di sétra, petengné léaké mapupul ngedum ambu miik
gandamayuné. Minehang ngalihang méméné ubad di sétra ngancan pesu gerapné.
Nanging yén sing majalan sinah kaucap piwal, sing rungu tekén rerama. Ia
ngedén-ngedénang bayuné lakar luas ka sétra. Tengahing dalu, Kajeng Kliwon
matimpal Tilem. Yadiastun jering bulun kalongné, Putu Arya majalan ka sétra,
ngalihang méméné ubad. Uling jumahné ka sétrané ia negakin montor. Montorné
kaparkir di tongos bet apang silib sakadi pitujuh jero balian. Pabesen jero
balian, sing dadi ketara rikala nunas tamba. Disubané suud macaplagan ajak
krama tusing kénkén, untengné rikala nunas tamba tusing ada ané nawang.
Jero balian nyambatang,
kala Kajeng Kliwon apabuin Tilem muang Purnama pasti liu kramané nangkil ka
pura. Ada madéwasraya nunas karahayuan, ada masé nunas nomor buntut apang
ngukup togél. “Putu sing sandang jejeh ka Pura Dalem. Mapan kramané pasti ramé
nangkil ka pura kala rerahinan,” tutur jero balianné. Tuturé ento ingetanga,
mawinan ia ngengkebang parkir montorné.
Sarasa sing ngenjekin
tanah batisné lakar macalep ka Pura Dalem. Bulun kalongné majujuk, ebokné
karasayang jering. Sengap sajan ia majalan ulian jejeh. Don danyuh ulung, Putu
Arya makecos sawiréh kaliwat jejeh. Ada kenehné makeledan, mabalik mulih ulian
nyeh. Magenep takutina, kerana majalan peteng jejeh ada lelipi ngliwat. Bakat
jejek payu gutil lelipi. Lacuran nasibé cara Irma Bulé muang Kadék Kobra.
Yadiastun Irma Bulé sawai magending ngaba lelipi, kéto masé Kadék Kobra uling
Jembrana biasa ngejuk lelipi, pamuputné mati cotot King Cobra. Ngancan pesu
getapné, ngancang ngedénang kenehné mulih.
Suba di arep
angkul-angkul pura, Putu Arya malipetan ngojog ka tongosé parkir. Éncol pesan
ia majalan. Nanging neked di malun montorné, nadak ia inget tekén munyin
balianné ané manesin kuping. Jero balian nyambatang ia tusing rungu tekén
rerama, méméné suba nyem létég cara bangkén dongkang mara ajak maubad. Inget
pangandikan jero balian, makada bayuné ngerodok panes. Ulian jengah, ia
ngwanénang déwék mabalik lan macelep ka pura nunas tamba. “Ulian titiang
sutindih tekén mémé yadiastun ngemasin mati, titiang nyadia,” ucapné di keneh.
Putu Arya macelep ka
pura. Disubané di jeroan, ia ngaturang canangsari di palinggih. Masrieng galang
kenehné suud ngaturang canangsari. Ngénggalang ia ngerik lumut di bataran
palinggihé. Dugas ia ngaturang canangsari lan ngerik lumut di bataran
palinggihé, ada papat mata ané ngiwasin laksanané. Makalalih anak lanang ané
ningalin ento makejang nyaluk capil zebo. Muanné matekep, ngenah mata, song
cunguh, lan bibihné dogén. Makalalih anak lanang ento brangti kerana ada anak
ngmalunin macelep ka pura. Ipun makakalih pedih kerana rencanan ipuné ngmaling
pratima tusing nyidang kalaksanayang.
Ipun
makalalih mulih. Apang sing pocol tur mulih mamuyung, sinalih tunggil
ngalih-ngalihin montor. Kerana ipun precaya anak teruna ané sedeng ngaturang
canangsari di pura pastika ngaba montor. Maling ané lénan ngiwasin Putu Arya,
apang nyidang ngemaang timpalné sipta yéning anak teruna ento pesu uling pura.
Disubané nepukin montor, kakalih duratmaka ento kitip-kitip pesu uling sétra
sambilanga nandan montor. Suba di diwangan sema, montoré mara kaidupang.
Malingé ngebut negakin montor maimbuh di malun Pos Kamling makraik nyambatang
ada maling di Pura Dalem. Krama ané magebagan nyrajang bangun, sregep sanjata
ngojog Pura Dalem.
Di
Pura Dalem, Putu Arya makléngaran, paling ngalih-ngalihin montorné. Sebet
bayuné, montorné ilang. Tangkejut ia dugas ngalih-ngalihin montorné. Matané
kasedat sénter, kakurung olih krama sregep sanjata.
Lodalang, Kajeng Kliwon Matal, 20 April
2016
Kawasaki: Bukan Sekedar Merk Motor
Penyakit yang Mengintai Jantung Buah Hati Anda
Pernahkah anda mendengar
istilah Kawasaki? Bukan-bukan. Kawasaki yang dimaksud di sini bukanlah merk motor
ternama yang sering kita lihat dalam acara balap motor. Kawasaki yang akan
diulas di sini adalah penyakit yang dapat menimbulkan komplikasi pada jantung
buah hati anda.
Ketika seorang ibu mendengar anaknya didiagnosis
Kawasaki, mungkin beliau akan mengerutkan dahinya. Penyakit Kawasaki merupakan
peradangan pada pembuluh darah (vaskulitis). Kondisi ini menjadi menghawatirkan
jika mengenai pembuluh darah jantung. Jika hal tersebut terjadi, pembuluh darah
jantung akan menyempit atau membentuk aneurisma (pembuluh darah membentuk balon
dengan dinding yang tipis dan sewaktu-waktu bisa pecah), sehingga terjadi
serangan jantung.
Seringkali penyakit Kawasaki tidak terdeteksi di awal.
Hal ini terjadi karena tanda dan gejalanya menyerupai penyakit lain. Sebagian
besar pasien datang dalam kondisi fungsi jantung yang sudah terganggu. Oleh
karena itu kita harus bisa mengenali tanda-tanda Kawasaki sebelum menimbulkan
komplikasi ke jantung.
Di awal perjalanan penyakit, Kawasaki akan tampak
menyerupai campak yaitu terdapat demam mencapai suhu 40°C, bercak-bercak merah
di kulit, mata berwarna merah seperti sakit mata, kadang terjadi pembengkakan
kelenjar getah bening menyerupai gondong, serta bibir, lidah, dan rongga mulut
terdapat bercak-bercak merah seperti kulit buah strawberry. Kondisi ini berlangsung selama 5-10 hari.
Setelah itu, suhu tubuh akan menurun. Kulit yang
memerah mulai berkurang dan megelupas. Pada fase ini atau dikenal dengan fase
subakut, seringkali terjadi serangan jantung pada anak. Anak akan merasakan
sesak atau sakit di bagian dada. Jika kondisi ini dibiarkan akan terjadi
kerusakan jantung yang lebih parah.
Setelah fase tersebut, penyakit Kawasaki memasuki fase
penyembuhan yang ditandai dengan adanya garis putih melintang pada kuku.
Meskipun penyakit Kawasaki memasuki fase penyembuhan, tetapi kondisi jantung
yang sudah terkena efek sebelumnya justru tidak bisa pulih, bahkan semakin
parah.
Jika dideteksi dan diobati lebih awal, komplikasi ke
jantung dapat dicegah.
Jadi, jika anak anda mengalami demam tinggi yang
menetap selama kurang lebih 5 hari disertai 4 dari 5 tanda berikut:
kedua mata merah
bibir pecah-pecah disertai bitnik kemerahan pada lidah
kemerahan dan bengkak pada kaki dan tangan
kelainan kulit
dan bengkak pada leher;
sebaiknya anda curiga bahwa anak anda terkena penyakit
Kawasaki. Segera berobat ke dokter untuk mendapatkan
pengobatan.
Keyword: Kawasaki, serangan
jantung, penyakit jantung anak,
MENULIS BERITA
KISAH, TAK SEKADAR MENULIS INFORMASI
Oleh Made Adnyana Ole
Sutiyah (67) duduk termenung di tepi gang sempit, di
bawah tenda terpal butut. Tidak jauh dari tempatnya duduk, sejumlah warga
bercakap-cakap tentang dampak putting beliung yang Minggu (18/2) sore
memporakporandakan atap rumah mereka.
Entah apa yang dipikirkan Sutiyah saat itu. Beberapa
pengendara motor yang lewat tidak mampu mengusik warga RT 20 RW 06 Baciro,
Gondokusuman, Yogyakarta, ini.
Kutipan di atas
adalah kepala (lead) dari sepotong berita kisah yang dimuat Kompas, Selasa 20 Februari 2007. Berita
itu berjudul “Angin Itu Berputar Menerbangkan Atap” yang menceritakan tentang
pascabencana angin putting beliung yang melanda sebagian wilayah DIY, Minggu 18
Februari 2007 lalu.
Pada umumnya
penulisan berita kisah dianut media yang terbit mingguan, bulanan, tiga
bulanan, atau tahunan. Misalnya majalah berita mingguan Tempo, Tabloid Nova,
Majalah Femina dan sejenisnya. Namun
kini media harian semacam Bali Post, Jawa
Pos, Nusa Bali, Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia dan sejenisnya juga
tak merasa lengkap jika tak berisi berita-berita kisah di dalamnya.
Kompas termasuk salah satu media harian yang mengandalkan berita kisah
sebagai salah satu daya tarik setiap terbitannya. Bahkan media harian terbesar
di Indonesia itu selalu memasang berita-berita kisah pada halaman muka. Kadang
berita itu ditaruh menjadi banner
(berita kaki), kadang tercangkung manis di pojok kanan bawah. Berita kisah kini
memang dipercaya sebagai pemanis oleh media harian di tengah berita-berita straight news (berita langsung) yang
terkesan kering dan hanya memberikan informasi kejadian belaka.
Apa itu “Berita Kisah” atau biasa disebut “Feature”? Secara garis besar ada dua
jenis berita yang bisa disimak di media-media umum: Berita Langsung (Straight
News) dan Berita Kisah (Feature). Jika “berita langsung” hanya berisi informasi
tentang hal-hal penting yang ingin diketahui pembaca, maka “berita kisah” ditulis lebih mendalam dengan
lebih banyak melibatkan perasaan. Jika “berita langsung” hanya menuliskan
kejadian semata dari sebuah peristiwa, “berita kisah” lebih banyak menyampaikan
sisi-sisi kemanusiaan dari sebuah peristiwa. Jika “berita langsung” ditulis
dengan menggunakan bahasa yang padat dan jelas, “berita kisah” lebih banyak
menggunakan bahasa sebagaimana kita bercerita secara lisan.
Syarat-syarat
“Berita Kisah”: Human Interest: membidik sisi kemanusiaan dari sebuah peristiwa. Berkadar Sastra: bukan berarti berita
harus ditulis dengan bahasa berbuih-buih seperti menulis puisi atau prosa. Tapi
cara bertutur dengan gaya bercerita fiksi. Ingat, “menceritakan” bukan
“memberitahu”. Fakta: meski ditulis
dengan menggunakan gaya bercerita seperti penulisan fiksi namun yang ditulis
itu tetap kenyataan, bukan karangan penulis, bukan imajinasi dan bukan fiksi. Kreatif: penulis memiliki daya cipta.
Mampu melakukan sesuatu yang baru, di mana orang lain belum sempat bahkan tak
pernah memikirkannya. Kreatif dalam mencari berita dan kreatif dalam menulis. Awet: tulisan kita tahan lama, tetap
bagus dibaca besoknya, besoknya lagi atau sebulan lagi, bahkan setahun lagi.
Nah, demikian
penjelasan awal tentang berita kisah. Pada edisi berikutnya kita akan lanjutkan
dengan ulasan tentang Jenis-Jenis Berita Kisah.
Kolom Papan Tulis
“JUJUR”
Oleh: Dharma Santika Putra
Email. papantulis@gmail.com
Daerah Istimewa Yogjakarta kembali tercatat didalam
sejarah peradaban pendidikan di Indonesia sebagai daerah yang pelaksanaan Ujian
Nasional-nya paling “jujur” Untuk tingkat SMA/SMK.
Ini
bukan merupakan kali pertama, Daerah Istimewa Ngayogjakarta Hadiningrat mencatatkan
diri sebagai daerah dengan predikat paling jujur didalam penyelenggaraan Ujian
Nasional;
Beberapa tahun lalu, ditengah-tengah hiruk pikuk berita
miring atas prilaku ketidak jujuran yang menyertai pelaksanaan Ujian Nasional dihampir
seluruh negeri; Daerah Istimewa Ngayogjakarta Hadiningrat, tetap setia dengan
kejujuran sebagai anutan utama didalam pelaksanaan UN.
Sifat dan sikap “jujur” belakangan ini memang menjadi
sebuah pilihan sikap yang semakin langka dinegeri tercinta ini. Sampai-sampai
hanya untuk berprilaku jujur, bangsa ini harus mengkampanyekannya, “Berani
Jujur Hebat”.
Padahal sebagai komunitas negara-bangsa, konon
kejujuran dan sikap jujur merupakan salah satu prilaku mulia yang menjadi ciri
dari Manusia Indonesia. Tetapi kenapa sekarang sikap jujur dan kejujuran
tiba-tiba menjadi sesuatu yang langka ?. Bahkan pada pergau;an dan prilaku
masyarajat pendidikanpun, kejujuran terasa semakin jauh. Ada apa ?.
Kalau
Daerah Istimewa Yogjakarta tercatat secara terhormat sebagai daerah “paling
jujur” didalam pelaksanaan Ujian Nasional, lantas dimanakah posisi Provinsi
Bali ?.
Secara logika kebudayaan, daerah yang paling pantas
dan logis untuk menempati posisi kedua, sebagai ranur up atas sikap dan sifat
jujur ini adalah Provinsi Bali. Tetapi apa kabar Bali ?.
Kenapa
harus Bali ?. Kenapa bukan Jakarta sebagai ibu kota negeri tercinta ini ?.
Atau Sumatra Selatan yang dikenal memiliki tradisi
keaksaraan yang begitu kental dengan sejarahnya yang panjang ?.
Atau Daerah Istimewa Aceh yang sama-sama menjadi
istimewa karena unsur kesejarahan ?.
Kenapa harus Bali ?.
Bahkan tidak hanya berada pada posisi kedua, sebagai
campiun kejujuran-pun Provinsi Bali pantas !.
Tetapi kenyataannya secara nasional daerah yang paling
jujur didalam pelaksanaan dan penyelenggaraan Ujian Nasional adalah Daerah
Istimewa Yogjakarta, dan bukan Provinsi Bali ?.
Ada pakah dengan dunia dan masyarajat kita di Provinsi
Bali ?
Apakah sistimnya yang salah, atau mesin hitung
kejujuran-nya yang keliru ?.
Kalau ditilik dari sisi potensi laku budaya yang ada,
Provinsi Bali rasa-rasanya berada diatas Yogjakarta. Walau keunggulannya hanya
tipis – tipis saja. Jadi “unda undi” lah antara Yogja dan Bali.
Tetapi kenyataannya adalah Daerah Istimewa
Ngayogjakarta Hadiningrat-lah yang tampil dan mencatatkan dirinya didalam
sejarah peradaban dan prilaku manusia Indonesia, sebagai daerah yang paling
jujur didalam pelaksanakan Ujian Nasional tahun ini.
Rendahnya kualitas kejujuran didalam dunia pendidikan
kita, tenatu harus mendapatkan perhatian kita semua. Tidak hanya menjadi
perhatian Departemen Pendidikan sebagai lembaga yang menanganinya; tetapi
mendapatkan perhatian dari seluruh anak bangsa. Karena bagaimanapaun, dunia
pendidikan merupakan mata air peradaban sebuah bangsa. Kalau mata air itu
keruh, maka semua air yang dialirkan akan menjadi keruh juga.
Demikian juga bagi Provinsi Bali; sebagai sebuah
bangunan bangunan peradaban, Pemerintah Provinsi Bali dan tentu juga
masyarakatnya harus semakin ngeh. , jangan sampai ketidak jujuran demi ketidak
jujuran itu semakin tumbuh subur dan kemudian dianggap sebagai anutan prilaku
yang “tidak” menyimpang, dan menjadi hal yang biasa.
Bagi dunia pendidikan, kejujuran dan sikap jujur
adalah kata kunci. Karena tanpa kejujuran, seseorang tidak akan memiliki
integritas. Sehebat apapun seseorang. Secerdas apapun seseorang. Kalau didalam
berprilaku tidak didasari oleh kejujuran, maka dia itu adalah sampah.
Provinsi Bali
Kalau
daerah Istimewa Yogjakarta menempati peringkat pertama didalam kejujuran
pelaksanaan Ujian Nasional tahun ini, lalau dimanakah posisi Provinsi Bali ?.
Sebagai Orang Bali, saya tidak ingin terjebak didalam
permainan angka-angka atau terperangkap dalam prilaku politik angka-angka model
pemeringkatan atas sebuah nilai-nilai kejujuran.
Saya lebih sepakat untuk melakukan refleksi dan
perenungan kembali atas perubahan nilai-nilai (kejujuran) yang ada dan melanda
masyarakat di Bali.
Seperti diketahui, hingga akhir tahun delapan puluhan,
pada diri Orang Bali masih melekat lebeling, yang menyatakan bahwa Orang Bali
merupakan sosok yang jujur, dan boleh
dipercaya secara lahir mapun bathin.
Lantaran merek sebagai sosok yang kejujuran dan bisa
dipercaya itu, tidak sedikit perusaan-perusahaan multi nasional secara diam-diam
memilih dan melakukan rekrutmen tanaga kerja dengan mengutamakan Orang Bali
sebagai catatan terselip. (kini justru terbalik, ada perusahaan yang diam-diam
bahkan secara terbuka menolak tenaga kerja Orang Bali, dengan berbagai
alsannya)..
Saya tidak ingin mengatakan bahwa sekarang atau
setelah dekade delapan puluhan kualitas kejujuran Orang Bali berkurang; Kalau
saya katakan demikian, boleh jadi sebagai Orang Bali saya akan mendapatkan
protes dari segala penjuru angin. Bahkan tidak tertutup kemungkinan akan
berakibat secara hukum; dan itu berarti petaka !
Tidak !.
Saya tidak ingin mengatakan bahwa Orang Bali sudah
meluntur kejujurannya; tetapi marilah kita secara iklas bercermin dari
pemeringkatan yang dilakukan oleh Kementrian Pendidikan Nasional atas prilaku “kejujuran”
masyarakat pendidikan didalam pelaksanaan Ujian Nasional tingkat SMA/SMK yang
lalu.
Dengan bercermin secara iklas atas pemeringkatan kualitas
kejujuran pelaksanaan Ujian Nasional itu, kita akan menemukan, apa sebenarnya
yang sedang terjadi didalam dunia dan masyarakat pendidikan di Bali.
Bukankah salah satu tujuan pendidikan adalah
melahirkan generasi-generasi unggulan yang memiliki integritas yang teruji dan
unggul.
Salah satu ukuran integritas itu adalah kejujuran.
Janganlah terperangkap pada ungkapan “Jujur Masuk
Kubur”, tetapi seperti apa yang diucapkan oleh salah seorang warga Ngayogjakarta
Hadiningrat, ketika disekolahnya prosentase kelulusan tergolong rendah, “Untuk
apa lulus kalau tidak jujur”
Disini tentu kita tidak sedang berdebat tentang mana
yang lebih dahulu. “Telur atau ayam”. Tetapi seperti sebuah jargon, BERANI
JUJUR ITU HEBAT. Dan kita memerlukan genarasi-generasi unggulan yang hebat.
Katanya INDONESIA HEBAT !
Tabik.
Pondok Seni Praba-Gita, Jembrana, Bali.
Tanggal,
12 Mei 2016
Tuesday, 14 June 2016
Pramuka Siapkan
Pembina Gugus Depan
Gerakan Pramuka
Kwartir Cabang Buleleng secara bertahap menyiapkan Pembina pramuka di
masing-masing gugus depan sebagai ujung tombak pembinaan pramuka secara
berkelanjutan dengan mengacu pada pola pendidikan kepramukaan.
SUKASADA, TENAR
MAGAZINE - Pemberlakuan Undang-Undang RI No 12 tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka yang
diikuti dengan pemberlakuan kurikulum pendidikan tahun 2013 mewajibkan kegiatan
pramuka sebagai ekstra kulikuler wajib di sekolah, kondisi itu berimbas dengan
perlu penambahan jumlah pembina pramuka di masing-masing sekolah atau gugus
depan.
Menyikapi kondisi itu, Kwartir
Ranting Sukasada selama lima hari mengelar Kursus Mahir Tingkat Dasar (KMD)
dengan melibatkan 59 peserta dari Pembina Pramuka tingkat SD sebanyak 56 orang
dan 3 pembina pada tingkat SMA/SMK. “Banyak peserta yang ingin ikut dalam
kegiatan yang kami lakukan untuk mencetak para Pembina pramuka ini, namun
keterbetasan tempat dan biaya menyebabkan kami membatasi jumlah peserta yang
seluruhnya berjumlah 56 orang, 31 pembina laki-laki dan 28 orang perempuan,”
ungkap Ketua Panitia KMD Kwarran Sukasada, Gede Rawes Sarjana.S.Pd, Jumat
(3/6/2016) disela-sela Penutupan KMD.
KMD yang dilakukan selama lima
hari di Monumen Tri Yudha Sakti Sukasada dilakukan dengan pola 72 jam, dimana
selain mendapatkan materi juga melaksanakan kegiatan implementasi langsung di
lapangan, “KMD kita lakukan dengan pemberian materi-materi kepramukaan melalui
pemberian materi di kelas dan juga praktek dilapangan, sehingga para Pembina
ini mengetahui bagaimana secara langsung kondisi di lapangan saat nantinya
memberikan kegiatan kepramukaan,” papar Luh Kutariani.S.Pd.M.Pd sebagai Pimpinan
kursus.
Kegiatan yang dibuka Ketua
Harian Kwarcab Buleleng, Made Tingkat, S.Pd. M.Pd mewakili Kakwarcab Buleleng
merupakan salah satu upaya dalam memenuhi kebutuhan Pembina pramuka di Gugus
Depan. ”Kebutuhan pembina pramuka yang memiliki kompetensi harus dipenuhi
sehingga mampu menngayomi, mengkoordinir dan memberikan pembinaan secara
komperhensif kepada kaum muda yang tergabung dalam Gerakan Pramuka di Gugus
Depan maupun Satuan Karya Pramuka,” ungkap Tingkat.
Disisi lain, Ketua Harian
Kwarcab Buleleng Made Tingkat mengakui di Buleleng pada sejumlah Gugus Depan
dengan berlakunya Kurikulum Pendidikan 2013 masih kekurangan pembina pramuka
yang memiliki kompetensi di bidangnya, sehingga kegiatan yang dilaknakan
Kwarran Sukasada akan mampu menjadi motivasi Kwarran lainnya di Buleleng, “KMD
merupakan salah satu upaya kita untuk menjaring para pembina pramuka yang mau
melakukan pembinaan secara komperhensif di satuaannya dalam upaya membentuk
kader-kader generasi muda yang memiliki karakter,” tegas Tingkat.
Senada dengan Made Tingkat
Kepala Unit Pelaksana Pendidikan (Ka.UPP) Kecamatan Sukasada I Nyoman Sutama mengatakan kegiatan ini sejatinya
telah dirancang sejak lama. Dan pelaksanaannya akan digelar pada bulan Juli
namun karena jadwalnya tidak singkron dengan pelaksanaan Indonesia Scout
Challenge, maka kegiatan KMD dimajukan ke akhir bulan Mei hingga awal Juni. “Kegiatan
KMD ini memang sengaja kami majukan dari jadwal semula. Yaitu Bulan Juli. Hal
ini kami lakukan, biar runtutan pelaksanaan kegiatan antara KMD dengan
Indonesia Scout Challenge bisa nyambung”. Papar Sutama yang juga sebagai Ketua
Kwartir Ranting Pramuka Kecamatan Sukasada.
Ditambahkan Sutama, banyaknya pembina yang belum
memiliki sertifikat pelatih, menjadi alasan Kwaran Sukasada melaksanakan
kegiatan tersebut. Selain itu pelaksanaan KMD juga sebagai dasar acuan
melaksanakan pembinaan kepada anak didik di sekolah masing-masing. “Saya sangat
berterimakasih kepada para panitia telah melaksanakan kegiatan ini, dimana
kegiatan ini sangat berguna bagi sekolah terutama bagi para pembina-pembina. Walaupaun
pada pelatihan kali ini belum seluruh sekolah dasar ikut terlibat”. Pungkas
suami Ni Made Sudarmi ini, sembari menghimbau
kedepan setiap sekolah memiliki 1 orang pembina putra 1 pembina putri.
I Nyoman Sutama dan Made Tingkat berharap, dengan penambahan jumlah
pembina pramuka di Buleleng diharapkan dalam waktu dua tahun kedepan mampu
memenuhi standarisasi jumlah pembina di setiap gugus depan, terlebih lagi
nantinya di setiap gugus depan yang berpangkalan disetiap sekolah kegiatan
pramuka menjadi kewajiban yang harus diberikan kepada peserta didik. MT-ZAP/BLT
Menanamkan
Budi Pekerti di Sekolah
Memulai Dengan Hal Kecil
DEGRADASI...!!! Perkembangan jaman yang
ditandai dengan kemajuan ilmu dan teknologi tidak sepenuhnya mampu memberikan
dampak positif. Anak-anak yang merupakan generasi penerus bangsa ini-pun tak luput
dari pengaruh tersebut. Lantas bagaimana para pendidik mengatasinya ?
DENPASAR, TENAR MAGAZINE – Membekali prilaku ‘ketimuran’ kini menjadi perhatian
khusus yang terus dilakukan guru pada anak didiknya. Hal ini penting ditanamkan
mengingat akses ‘menkonsumsi’ pergaulan global sangat mudah didapat. Tidak
terkecuali bagi anak-anak yang masih duduk dibangku pendidikan dasar.
“Penyebaran informasi sekarang
ini sangat mudah untuk didapatkan. Hal ini dimungkinkan karena kemajuan
teknologi yang sedemikian sangat pesat berkembangannya. Tidak ada lagi batasan
yang menyekat setiap orang untuk mengetahui apa saja yang diinginkan”. Ujar
Kepala Sekolah SDN 1 Baktiseraga, Buleleng Putu Ada, S.Pd, M.Pd. ketika ditemui
MPT di sekolahnya beberapa waktu lalu.
Untuk itu
pihaknya bersama segenap guru di SDN 1 Baktiseraga selalu menekankan dan
menanamkan nilai-nilai kearifan lokal pada anak didiknya. Menanamkan
nilai-nilai tersebut kata Putu Ada bisa dilakukan dengan hal-hal kecil. Seperti
memberikan pengetahuan praktis melakukan persembahyangan, menjaga kebersihan
lingkungan sekolah dan pengetahuan praktis lainnya.
Apa yang disampaikan Kasda energik itu bukan isapan jempol belaka. Pada
hari-hari penting Hindu seperti Purnama, Tilem, Perayaan Saraswati. Apalagi
saat melakukan persembahyangan sehari-hari. Setiap siswa disekolah tersebut
telah mampu melakukannya secara mandiri.
Layaknya di
Banjar. Anak-anak SDN 1 Baktiseraga sudah terlatih mempersiapkan rangkaian
upakara yang diperlukan termasuk menata upakara diatas meja. Semua itu
dilakukan sesuai dengan kaidah penempatannya. Matur piuning dan maturan di pelinggih serta di Pura yang ada
disekitar sekolah juga dilakukannya secara bergiliran. Saat persembahyangan
dimulai, tak satupun dari mereka terlibat pembicaraan satu sama lain. Suasana
begitu hening dan khusuk.
Penanaman nilai-nilai Agama merupakan salah satu upaya yang diyakini mampu
meminimalisir pengaruh-pengaruh luar yang bertentangan dengan budaya kita.
“pendidikan budi pekerti dan memberikan pemahaman saling mengasihi dan
menyayangi sangat penting kita tanamkan pada anak-anak. Apalagi sekarang
anak-anak sudah direcoki dengan berbagai tayangan kekerasan di televisi. Diakui
atau tidak ini berpengaruh besar terhadap prilaku anak-anak”. Ujar I Wayan
Gumiarta, S.Pd.
Kepala sekolah SDN 3 Marga, Tabanan ini harus ekstra ketat memperhatikan
prilaku anak-anaknya di sekolah. “Anak-anak seumuran sekolah dasar itu pada
prinsipnya masih sangat mudah terpengaruh dan mencontoh terhadap apa yang
dilihat disekelilingnya. Karena mereka itu masih lugu kadang kejahilan yang
tidak disengajanya akan berakibat fatal bagi temannya”. Papar Sekretaris PGRI
Kecamatan Marga ini sembari memberikan contoh bahwa kasus seperti ini sering
ditayangkan di TV.
“Baru-baru ini saya lihat tayangan TV seorang anak kelas III SD lumpuh. Gara-gara
tulang punggungnya patah akibat perbutan temannya men-sliding saat bermain. Ini kan fatal”. Ktanya. Makanya dia terus
mewanti-wanti gurunya agar mengawasi anak-anak saat bermain diwaktu jam
istirahat.
Selain lebih menajamkan pemahaman budi pekerti di sekolah Putu Ada dan
Gumiarta juga melakukan pendekatan dengan orang tua masing-masing. Langkah
tersebut diambil, karena pada dasarnya kata Gumiarta pendidikan serta
pengawasan anak-anak adalah tanggung jawab bersama antara Guru, Sekolah dan
Orang Tua. Oleh sebab itu Gumiarta mengaku secara konsisten terus melakukan
pendekatan serta komunikasi dengan para orang tua. “Saya selaku Kepala Sekolah
tidak pernah berjalan sendiri, apapun yang kita lakukan disekolah semua kita komunikasikan
dengan para orang tua. Termasuk soal pengawasan anak-anak mereka”. Kilahnya.
Sementara di SDN 3 Sukasada dan SDN 3 Bubunan di kabupaten Buleleng
pendidikan budi pekerti selain mengadopsi kearifan lokal. Pembentukan karakter
anak juga dilakukan melalui pelbagai perayaan hari-hari nasional seperti Hari
Kartini, Hari Pendidikan Nasional dan perayaan nasional lainnya. Dalam perayaan
ini sekolah yang berada di Kecamatan Sukasada dan di Kecamatan Seririt ini
secara rutin terus melakukan penanaman nilai-nilai karakter dengan berbagai
kegiatan.
Seperti
dalam perayaan Kartini pada April lalu misalnya. Perayaan pahlawan emansipasi
yang waktu itu bertepatan dengan Persembahyangan Tilem. SDN 3 Sukasada-pun
tidak menyia-nyiakan moment tersebut untuk melaksanakan Fashion Show. Uniknya
yang terlibat dalam kegiatan tersebut bukan siswa saja, tapi seluruh guru juga
ikut ambil bagian.
“Tujuan kami melaksanakan atau
memperingati hari Kartini ini yaitu, ingin membangkitkan rasa Nasionalisme anak
sejak dini, karena siapa lagi yang menghargai hari-hari bersejarah seperti ini,
kalau bukan kita. Selain membangkitkan kembali kepada anak rasa
Nasionalismenya, kami ingin anak-anak itu ingat hari-hari bersejarah kapan
saja,salah satunya hari Kartini ini”.Papar Kasda SDN 3 Sukasada AAA Bintang
Marheni.
Senada dengan Bintang, Kepala
Sekolah SDN 3 Bubunan Komang Remben, S.Pd juga mengatakan bahwa peringatan
hari-hari nasional akan mampu memberikan penghayatan terhadap arti sebuah
perjuangan. Dengan memberikan pemahaman akan arti dan makna setiap hari
bersejarah, Remben berharap anak didiknya akan mampu memetik hikmahnya. Yakni
mereka tidak melupakan sejarahnya. “Ingat dengan sejarah berarti kita sudah
menanamkan nilai bagaimana anak-anak bisa menghargai arti dari sebuah pengorbanan
itu sendiri”. Pungkas Komang Remben. MT-TIM
Juara
III Siswi Berprestasi Kabupaten Buleleng
Alya Tebus Kegagalan Kakaknya
Juara III Siswi Berprestasi. Ni Kadek
Alya Prishanti Putri Suarmini selain sukses mengangkat nama sekolahnya di
tingkat kabupaten, Siswi Kelas V SDN 5 Tamblang ini juga sekaligus mampu
menebus kegagalan kakak kandungnya pada event yang sama tahun 2010 silam.
KUBUTAMBAHAN, TENAR MAGAZINE – Perjuangan siswi cantik ini, menembus Lomba Siswi
berprestasi hingga ketingkat kabupaten tidak mudah. Sebelumnya dia harus
bersusah payah menyisihkan rival kuatnya di tingkat Kecamatan. Alya yang kala
itu berebut posisi pertama dengan rival terberatnya dari SDN 4 Tamblang dan SDN
3 Pakisan mampu unggul dengan selisih nilai yang cukup ketat.
Dengan keberhasilan Alya
memboyong predikat tiga besar, Kepala sekolah SDN 5 Tamblang Ni Luh Sukrami,
S.Pd,SD tentu merasa sangat bersyukur sekali. “Keberhasilan Alya menunjukkan
prestasi terbaiknya ditingkat Kabupaten tentu merupakan kebanggaan tersendiri
bagi kami di SDN 5 Tamblang”. Papar Sukrami.
Dijelaskan Sukrami anak didiknya
ini sejak awal diprediksi akan mampu bersaing ditingkat Kabupaten. Pasalnya
secara akademis dan non akademis Alya, kata Sukrami memiliki kemampuan cukup
bagus. “Selain cerdas Alya juga memiliki mental berkompetisi sangat bagus. Mungkin
ini sudah menjadi tradisi dari keluarganya”. Ujarnya.
Beberapa tahun lalu kakak Alya; I Gede Paramarta
Swarmana juga sempat mewakili Kecamatan Kubutambahan dalam ajang yang sama
yakni Lomba Siswa Berprestasi. Akan tetapi waktu itu dia gagal mendapatkan
predikat terbaik. “Walaupun Cuma juara tiga, mudah-mudahan prestasi yang saya
dapatkan kali ini akan mampu menjadi motivasi dan inspirasi, sehingga kedepan
saya bisa berprestasi lebih baik lagi’. Ujar Alya.
Dalam mempersiapkan siswa-siswinya kedalam even lomba
akademik maupun non akademik, SDN 5 Tamblang bekerja all out. Tim Pembina dengan
melibatkan guru terbaiknya-pun ditugaskan guna memberikan pemantapan terhadap
anak didiknya. Alhasil para guru yang dimotori I Ketut Bayu Narotama, S.Pd
dengan semangat pengabdian tinggi bersama tiga rekannya yang lain, yaitu; Luh
Sriasih, Putu Okarini dan Ketut Witari tidak pernah lelah mengasah prestasi
anak didiknya agar siap diterjunkan kedalam berbagai lomba, termasuk Lomba
Siswa-Siswi Berprestasi.
Pada Lomba Siswa-Siswi Berprestasi tahun ini, SDN 5
Tamblang sejatinya mengirim sepasang utusannya. Selain Alya dikelompok putri,
sekolah ini juga menurunkan Made Satvika Duta Lastana. Akan tetapi Satvika
belum mampu menunjukkan kemampuan terbaiknya sehingga harus tersisih di Tingkat
Kecamatan. Padahal dari segi potensi akademik, Satvika kata Kaseknya adalah
salah satu siswa cerdas dan pintar yang dimilikinya. “Kemampuan Satvika bagus,
dia juga pintar. Kelemahan dia dari segi disiplin masih perlu dibenahi.”.
ungkap Sukrami. MT-ZAP
Subscribe to:
Posts (Atom)








