Wednesday, 15 June 2016

Kolom Papan Tulis

“JUJUR”
Oleh: Dharma Santika Putra


Daerah Istimewa Yogjakarta kembali tercatat didalam sejarah peradaban pendidikan di Indonesia sebagai daerah yang pelaksanaan Ujian Nasional-nya paling “jujur” Untuk tingkat SMA/SMK.

                Ini bukan merupakan kali pertama, Daerah Istimewa Ngayogjakarta Hadiningrat mencatatkan diri sebagai daerah dengan predikat paling jujur didalam penyelenggaraan Ujian Nasional;
Beberapa tahun lalu, ditengah-tengah hiruk pikuk berita miring atas prilaku ketidak jujuran yang menyertai pelaksanaan Ujian Nasional dihampir seluruh negeri; Daerah Istimewa Ngayogjakarta Hadiningrat, tetap setia dengan kejujuran sebagai anutan utama didalam pelaksanaan UN.
Sifat dan sikap “jujur” belakangan ini memang menjadi sebuah pilihan sikap yang semakin langka dinegeri tercinta ini. Sampai-sampai hanya untuk berprilaku jujur, bangsa ini harus mengkampanyekannya, “Berani Jujur Hebat”.
Padahal sebagai komunitas negara-bangsa, konon kejujuran dan sikap jujur merupakan salah satu prilaku mulia yang menjadi ciri dari Manusia Indonesia. Tetapi kenapa sekarang sikap jujur dan kejujuran tiba-tiba menjadi sesuatu yang langka ?. Bahkan pada pergau;an dan prilaku masyarajat pendidikanpun, kejujuran terasa semakin jauh. Ada apa ?.
                Kalau Daerah Istimewa Yogjakarta tercatat secara terhormat sebagai daerah “paling jujur” didalam pelaksanaan Ujian Nasional, lantas dimanakah posisi Provinsi Bali ?.
Secara logika kebudayaan, daerah yang paling pantas dan logis untuk menempati posisi kedua, sebagai ranur up atas sikap dan sifat jujur ini adalah Provinsi Bali. Tetapi apa kabar Bali ?.
                Kenapa harus Bali ?. Kenapa bukan Jakarta sebagai ibu kota negeri tercinta ini ?.
Atau Sumatra Selatan yang dikenal memiliki tradisi keaksaraan yang begitu kental dengan sejarahnya yang panjang ?.
Atau Daerah Istimewa Aceh yang sama-sama menjadi istimewa karena unsur kesejarahan ?.
Kenapa harus Bali ?.
Bahkan tidak hanya berada pada posisi kedua, sebagai campiun kejujuran-pun Provinsi Bali pantas !.
Tetapi kenyataannya secara nasional daerah yang paling jujur didalam pelaksanaan dan penyelenggaraan Ujian Nasional adalah Daerah Istimewa Yogjakarta, dan bukan Provinsi Bali ?.
Ada pakah dengan dunia dan masyarajat kita di Provinsi Bali ?
Apakah sistimnya yang salah, atau mesin hitung kejujuran-nya yang keliru ?.
Kalau ditilik dari sisi potensi laku budaya yang ada, Provinsi Bali rasa-rasanya berada diatas Yogjakarta. Walau keunggulannya hanya tipis – tipis saja. Jadi “unda undi” lah antara Yogja dan Bali.
Tetapi kenyataannya adalah Daerah Istimewa Ngayogjakarta Hadiningrat-lah yang tampil dan mencatatkan dirinya didalam sejarah peradaban dan prilaku manusia Indonesia, sebagai daerah yang paling jujur didalam pelaksanakan Ujian Nasional tahun ini.
Rendahnya kualitas kejujuran didalam dunia pendidikan kita, tenatu harus mendapatkan perhatian kita semua. Tidak hanya menjadi perhatian Departemen Pendidikan sebagai lembaga yang menanganinya; tetapi mendapatkan perhatian dari seluruh anak bangsa. Karena bagaimanapaun, dunia pendidikan merupakan mata air peradaban sebuah bangsa. Kalau mata air itu keruh, maka semua air yang dialirkan akan menjadi keruh juga.
Demikian juga bagi Provinsi Bali; sebagai sebuah bangunan bangunan peradaban, Pemerintah Provinsi Bali dan tentu juga masyarakatnya harus semakin ngeh. , jangan sampai ketidak jujuran demi ketidak jujuran itu semakin tumbuh subur dan kemudian dianggap sebagai anutan prilaku yang “tidak” menyimpang, dan menjadi hal yang biasa.
Bagi dunia pendidikan, kejujuran dan sikap jujur adalah kata kunci. Karena tanpa kejujuran, seseorang tidak akan memiliki integritas. Sehebat apapun seseorang. Secerdas apapun seseorang. Kalau didalam berprilaku tidak didasari oleh kejujuran, maka dia itu adalah sampah.
Provinsi Bali
                Kalau daerah Istimewa Yogjakarta menempati peringkat pertama didalam kejujuran pelaksanaan Ujian Nasional tahun ini, lalau dimanakah posisi Provinsi Bali ?.
Sebagai Orang Bali, saya tidak ingin terjebak didalam permainan angka-angka atau terperangkap dalam prilaku politik angka-angka model pemeringkatan atas sebuah nilai-nilai kejujuran.
Saya lebih sepakat untuk melakukan refleksi dan perenungan kembali atas perubahan nilai-nilai (kejujuran) yang ada dan melanda masyarakat di Bali.
Seperti diketahui, hingga akhir tahun delapan puluhan, pada diri Orang Bali masih melekat lebeling, yang menyatakan bahwa Orang Bali merupakan  sosok yang jujur, dan boleh dipercaya secara lahir mapun bathin.   
Lantaran merek sebagai sosok yang kejujuran dan bisa dipercaya itu, tidak sedikit perusaan-perusahaan multi nasional secara diam-diam memilih dan melakukan rekrutmen tanaga kerja dengan mengutamakan Orang Bali sebagai catatan terselip. (kini justru terbalik, ada perusahaan yang diam-diam bahkan secara terbuka menolak tenaga kerja Orang Bali, dengan berbagai alsannya)..
Saya tidak ingin mengatakan bahwa sekarang atau setelah dekade delapan puluhan kualitas kejujuran Orang Bali berkurang; Kalau saya katakan demikian, boleh jadi sebagai Orang Bali saya akan mendapatkan protes dari segala penjuru angin. Bahkan tidak tertutup kemungkinan akan berakibat secara hukum; dan itu berarti petaka !
Tidak !.
Saya tidak ingin mengatakan bahwa Orang Bali sudah meluntur kejujurannya; tetapi marilah kita secara iklas bercermin dari pemeringkatan yang dilakukan oleh Kementrian Pendidikan Nasional atas prilaku “kejujuran” masyarakat pendidikan didalam pelaksanaan Ujian Nasional tingkat SMA/SMK yang lalu.
Dengan bercermin secara iklas atas pemeringkatan kualitas kejujuran pelaksanaan Ujian Nasional itu, kita akan menemukan, apa sebenarnya yang sedang terjadi didalam dunia dan masyarakat pendidikan di Bali.
Bukankah salah satu tujuan pendidikan adalah melahirkan generasi-generasi unggulan yang memiliki integritas yang teruji dan unggul.
Salah satu ukuran integritas itu adalah kejujuran.
Janganlah terperangkap pada ungkapan “Jujur Masuk Kubur”, tetapi seperti apa yang diucapkan oleh salah seorang warga Ngayogjakarta Hadiningrat, ketika disekolahnya prosentase kelulusan tergolong rendah, “Untuk apa lulus kalau tidak jujur”
Disini tentu kita tidak sedang berdebat tentang mana yang lebih dahulu. “Telur atau ayam”. Tetapi seperti sebuah jargon, BERANI JUJUR ITU HEBAT. Dan kita memerlukan genarasi-generasi unggulan yang hebat.
Katanya INDONESIA HEBAT !
Tabik.

Pondok Seni Praba-Gita, Jembrana, Bali.
                                                                                                                                Tanggal, 12 Mei 2016



No comments:

Post a Comment