Kolom Papan Tulis
“JUJUR”
Oleh: Dharma Santika Putra
Email. papantulis@gmail.com
Daerah Istimewa Yogjakarta kembali tercatat didalam
sejarah peradaban pendidikan di Indonesia sebagai daerah yang pelaksanaan Ujian
Nasional-nya paling “jujur” Untuk tingkat SMA/SMK.
Ini
bukan merupakan kali pertama, Daerah Istimewa Ngayogjakarta Hadiningrat mencatatkan
diri sebagai daerah dengan predikat paling jujur didalam penyelenggaraan Ujian
Nasional;
Beberapa tahun lalu, ditengah-tengah hiruk pikuk berita
miring atas prilaku ketidak jujuran yang menyertai pelaksanaan Ujian Nasional dihampir
seluruh negeri; Daerah Istimewa Ngayogjakarta Hadiningrat, tetap setia dengan
kejujuran sebagai anutan utama didalam pelaksanaan UN.
Sifat dan sikap “jujur” belakangan ini memang menjadi
sebuah pilihan sikap yang semakin langka dinegeri tercinta ini. Sampai-sampai
hanya untuk berprilaku jujur, bangsa ini harus mengkampanyekannya, “Berani
Jujur Hebat”.
Padahal sebagai komunitas negara-bangsa, konon
kejujuran dan sikap jujur merupakan salah satu prilaku mulia yang menjadi ciri
dari Manusia Indonesia. Tetapi kenapa sekarang sikap jujur dan kejujuran
tiba-tiba menjadi sesuatu yang langka ?. Bahkan pada pergau;an dan prilaku
masyarajat pendidikanpun, kejujuran terasa semakin jauh. Ada apa ?.
Kalau
Daerah Istimewa Yogjakarta tercatat secara terhormat sebagai daerah “paling
jujur” didalam pelaksanaan Ujian Nasional, lantas dimanakah posisi Provinsi
Bali ?.
Secara logika kebudayaan, daerah yang paling pantas
dan logis untuk menempati posisi kedua, sebagai ranur up atas sikap dan sifat
jujur ini adalah Provinsi Bali. Tetapi apa kabar Bali ?.
Kenapa
harus Bali ?. Kenapa bukan Jakarta sebagai ibu kota negeri tercinta ini ?.
Atau Sumatra Selatan yang dikenal memiliki tradisi
keaksaraan yang begitu kental dengan sejarahnya yang panjang ?.
Atau Daerah Istimewa Aceh yang sama-sama menjadi
istimewa karena unsur kesejarahan ?.
Kenapa harus Bali ?.
Bahkan tidak hanya berada pada posisi kedua, sebagai
campiun kejujuran-pun Provinsi Bali pantas !.
Tetapi kenyataannya secara nasional daerah yang paling
jujur didalam pelaksanaan dan penyelenggaraan Ujian Nasional adalah Daerah
Istimewa Yogjakarta, dan bukan Provinsi Bali ?.
Ada pakah dengan dunia dan masyarajat kita di Provinsi
Bali ?
Apakah sistimnya yang salah, atau mesin hitung
kejujuran-nya yang keliru ?.
Kalau ditilik dari sisi potensi laku budaya yang ada,
Provinsi Bali rasa-rasanya berada diatas Yogjakarta. Walau keunggulannya hanya
tipis – tipis saja. Jadi “unda undi” lah antara Yogja dan Bali.
Tetapi kenyataannya adalah Daerah Istimewa
Ngayogjakarta Hadiningrat-lah yang tampil dan mencatatkan dirinya didalam
sejarah peradaban dan prilaku manusia Indonesia, sebagai daerah yang paling
jujur didalam pelaksanakan Ujian Nasional tahun ini.
Rendahnya kualitas kejujuran didalam dunia pendidikan
kita, tenatu harus mendapatkan perhatian kita semua. Tidak hanya menjadi
perhatian Departemen Pendidikan sebagai lembaga yang menanganinya; tetapi
mendapatkan perhatian dari seluruh anak bangsa. Karena bagaimanapaun, dunia
pendidikan merupakan mata air peradaban sebuah bangsa. Kalau mata air itu
keruh, maka semua air yang dialirkan akan menjadi keruh juga.
Demikian juga bagi Provinsi Bali; sebagai sebuah
bangunan bangunan peradaban, Pemerintah Provinsi Bali dan tentu juga
masyarakatnya harus semakin ngeh. , jangan sampai ketidak jujuran demi ketidak
jujuran itu semakin tumbuh subur dan kemudian dianggap sebagai anutan prilaku
yang “tidak” menyimpang, dan menjadi hal yang biasa.
Bagi dunia pendidikan, kejujuran dan sikap jujur
adalah kata kunci. Karena tanpa kejujuran, seseorang tidak akan memiliki
integritas. Sehebat apapun seseorang. Secerdas apapun seseorang. Kalau didalam
berprilaku tidak didasari oleh kejujuran, maka dia itu adalah sampah.
Provinsi Bali
Kalau
daerah Istimewa Yogjakarta menempati peringkat pertama didalam kejujuran
pelaksanaan Ujian Nasional tahun ini, lalau dimanakah posisi Provinsi Bali ?.
Sebagai Orang Bali, saya tidak ingin terjebak didalam
permainan angka-angka atau terperangkap dalam prilaku politik angka-angka model
pemeringkatan atas sebuah nilai-nilai kejujuran.
Saya lebih sepakat untuk melakukan refleksi dan
perenungan kembali atas perubahan nilai-nilai (kejujuran) yang ada dan melanda
masyarakat di Bali.
Seperti diketahui, hingga akhir tahun delapan puluhan,
pada diri Orang Bali masih melekat lebeling, yang menyatakan bahwa Orang Bali
merupakan sosok yang jujur, dan boleh
dipercaya secara lahir mapun bathin.
Lantaran merek sebagai sosok yang kejujuran dan bisa
dipercaya itu, tidak sedikit perusaan-perusahaan multi nasional secara diam-diam
memilih dan melakukan rekrutmen tanaga kerja dengan mengutamakan Orang Bali
sebagai catatan terselip. (kini justru terbalik, ada perusahaan yang diam-diam
bahkan secara terbuka menolak tenaga kerja Orang Bali, dengan berbagai
alsannya)..
Saya tidak ingin mengatakan bahwa sekarang atau
setelah dekade delapan puluhan kualitas kejujuran Orang Bali berkurang; Kalau
saya katakan demikian, boleh jadi sebagai Orang Bali saya akan mendapatkan
protes dari segala penjuru angin. Bahkan tidak tertutup kemungkinan akan
berakibat secara hukum; dan itu berarti petaka !
Tidak !.
Saya tidak ingin mengatakan bahwa Orang Bali sudah
meluntur kejujurannya; tetapi marilah kita secara iklas bercermin dari
pemeringkatan yang dilakukan oleh Kementrian Pendidikan Nasional atas prilaku “kejujuran”
masyarakat pendidikan didalam pelaksanaan Ujian Nasional tingkat SMA/SMK yang
lalu.
Dengan bercermin secara iklas atas pemeringkatan kualitas
kejujuran pelaksanaan Ujian Nasional itu, kita akan menemukan, apa sebenarnya
yang sedang terjadi didalam dunia dan masyarakat pendidikan di Bali.
Bukankah salah satu tujuan pendidikan adalah
melahirkan generasi-generasi unggulan yang memiliki integritas yang teruji dan
unggul.
Salah satu ukuran integritas itu adalah kejujuran.
Janganlah terperangkap pada ungkapan “Jujur Masuk
Kubur”, tetapi seperti apa yang diucapkan oleh salah seorang warga Ngayogjakarta
Hadiningrat, ketika disekolahnya prosentase kelulusan tergolong rendah, “Untuk
apa lulus kalau tidak jujur”
Disini tentu kita tidak sedang berdebat tentang mana
yang lebih dahulu. “Telur atau ayam”. Tetapi seperti sebuah jargon, BERANI
JUJUR ITU HEBAT. Dan kita memerlukan genarasi-generasi unggulan yang hebat.
Katanya INDONESIA HEBAT !
Tabik.
Pondok Seni Praba-Gita, Jembrana, Bali.
Tanggal,
12 Mei 2016

No comments:
Post a Comment