Thursday, 1 September 2016
Monday, 29 August 2016
Sunday, 28 August 2016
Tuesday, 9 August 2016
Kado Istimewa HUT Ke-53 SMPN 1 Banjar dari KSPAN
Kelompok Siswa Peduli Aids dan Narkoba
(KSPAN) patut berbangga. Pasalnya
sepekan menjelang perayaan ulang tahun sekolahnya; Yakni SMPN 1 Banjar.
Mereka mampu mempersembahkan kado istimewa berupa prestasi terbaik sebagai
Juara Umum 2 Jambore KSPAN se-Kabupaten Buleleng.
BANJAR, TENAR MAGAZINE – Kelompok Siswa Peduli Aids dan Narkoba (KSPAN) SMPN 1
Banjar masih menunjukkan taringnya. Terbukti dari sekian kali perhelatan
Jambore KSPAN tingkat Kabupaten, sekolah besutan Kepala Sekolah Ida Bagus Adi
Parwata, S.Pd, M.Pd selalu tampil menjadi yang terbaik. Dalam Lomba jambore
KSPAN yang berlangsung akhir Juli lalu, KSPAN SMPN 1 Banjar mampu tampil
sebagai juara umum dua.
Beberapa tampilan yang mampu mengantarkan
Kelompok Siswa tersebut meraih prestasi terbaik adalah; Juara 2 tutor sebaya,
Juara 2 Mars KSPAN dengan judul Mars KSPAN SMPN 1 Banjar, dan Juara 3 Kecak Dag
dengan judul Tobat. 22 peserta yang terdiri dari 11 pelajar putri dan 11 orang
pelajar putra tampak sangat kompak dalam mengikuti setiap event yang
dilombakan. Keberhasilan para pelajar SMPN 1 Banjar yang tergabung dalam
kelompok KSPAN tidak terlepas dari ketekunan para gurunya seperti; Ni Putu Ayu
Dwi Putranti, Sp.Si, Ketut Sukiarta,S.Pd, Ni Made Ayu Parwiani, S.Pd dan Ida
Bagus Kade Ari Wijaya, dalam membimbing dan mengarahkan siswanya.
“Ya kita sangat bersyukur, masih
bisa mempertahankan prestasi terbaik dalam Jambore KSPAN Tahun ini. Yaitu mampu
meraih peringkat juara 2 umum. Prestasi ini menjadi semakin spesial karena kami
dapatkan menjelang perayaan HUT ke-53 SMPN 1 Banjar. Jadi apa yang mampu
dipersembahkan oleh anak-anak sepenuhnya kami dedikasikan buat kejayaan SMPN 1
Banjar”. ujar salah satu pembina KSPAN SMPN 1 Banjar Ni Putu Ayu Dwi Putranti.
Menurut Bu Ninin, panggilan
akrab Ni Putu Ayu Dwi Putranti; KSPAN sebagai
salah satu kegiatan ekstra kurikuler di sekolah keberadaannya sangat
strategis. Pasalnya dari kegiatan ini para pelajar akan menyadari dan paham tata
cara bersosialisasi. Terutama bagaimana mereka mampu terhindar dari pergaulan
bebas. “Selain pengetahuan tentang bahaya Narkoba dan AIDS kita juga
mengajarkan kepada siswa agar bisa memberikan penyuluhan kepada teman-teman
mereka di satu sekolah tentang bahaya HIV/AID. Apalagi Kabupaten Buleleng
berada diperingkat kedua setelah Denpasar sebagai daerah yang masuk kategoro
kritis terkait HIV Aids dan Narkoba”. Kilah Ninin yang juga sebagai Guru BK di
sekolahnya.
Ninin berharap kegiatan Lomba
Jambore KSPAN ini bisa diikuti oleh seluruh SMP dan SMA di Buleleng, agar
pemahaman tentang bahaya Narkoba dan HIV/AIDS lebih mantap. “Setahu saya, 2
tahun lalu sudah di ketemukan 2 anak SMP yang mengidap HIV/AIDS. Saya harap
kalau bisa, kedepan semua sekolah bisa terlibat dalam kegiatan KSPAN ini.
Sehingga aktivitas KSPAN di masing-masing sekolah akan aktif secara
berkelanjutan tidak saat lomba saja”. jelas bunda dari Ida Bagus Komang Raditya
Riski Dharma Putra.
Sementara itu, siswi SMPN 1
Banjar Komang Citra Pratiwi yang turut serta sebagai peserta dalam Jambore
KSPAN mengatakan sanagat senang bisa turut serta dalam kegiatan tersebut.
Karena dalam kegiatan Jambore ini dikatakannya rasa kekeluargaan antara teman dan
guru semakin erat apalagi dengan di raihnya juara.
“Saya sangat senang meski kita naik bemo ke bumi
perkemahan, tetapi saya sangat senang karena rasa kekeluargaan antara teman dan
guru semakin erat lebih-lebih kami mendapat juara. Saya harap kedepannya KSPAN
lebih maju dan bisa bebas Narkoba dan AIDS khususnya di Buleleng ini”. Terang
Citra yang juga menjabat sebagai Ketua Osis di SMPN 1 Banjar.
Anak-anak KSPAN SMPN 1 Banjar tidak hanya bergerak di
saat lomba saja, melainkan setiap jam pelajaran kosong di suatu kelas para
siswa yang tergabung dalam KSPAN tersebut terjun untuk mensosialisasikan bahaya
Narkoba dan HIV/AIDS.
“Kita disini tidak hanya saat ekstra saja melakukan
atau mensosialisasikan bahaya Narkoba dan AIDS di sekolah, jika kita temui jam
kosong di suatu kelas kita masuk kesana dan mensosialisasikan apa-apa yang kami
dapat saat ikut Jambore KSPAN atau seminar. Karena tidak semua siswa ikut dalam
kegiatan tersebut dan ini juga merupakan program kami di Osis dan KSPAN”. Kata
Citra yang memiliki hobi menari tersebut.
Selain Komang Citra teman seperjuangannya yang
terlibat dalam Jambore kemarin yaitu Kadek Dwi Suputra juga sependapat dengan
Citra. Menurutnya kegiatan KSPAN ini di harapkan kedepan bisa menemukan obat
untuk menyembuhkan orang yang terkena penyakit AIDS tersebut. “Ya saya harap,
penemu obat untuk menyembuhkan AIDS bisa di temukan lebih cepat agar bisa
menyelamatkan saudara-saudara kita di luar yang terkena penyakit tersebut.
Kalau bisa sih dari anak-anak KSPAN”. Harapan Kadek Dwi Suputra. MPT-ZAP
Saturday, 30 July 2016
Tenaga TU Pertanyakan Status
DILEMATIS...!!! Pegawai tata Usaha di
Sekolah Dasar masih di persimpangan. Pasalnya posisi strategisnya cukup
dilematis. Yakni disatu sisi peran TU sangat dibutuhkan namun disisi lain
posisinya (sepertinya) belum dikehendaki. Nah Lho..??!!!
SINGARAJA, TENAR MAGAZINE – Belum terakomodirnya keberadaan tata usaha dalam
standar pelayanan minimal (SPM) tenaga kependidikan di Sekolah Dasar, membuat
sebagian tenaga tata usaha dibeberapa sekolah dasar di Kabupaten Buleleng
resah.
Kondisi ini terlihat dengan banyaknya pertanyaan
pegawai TU seputar mekanisme perekrutan, sistem penggajian serta tupoksi yang
harus dijadikan pegangan dalam menjalankan tugasnya. “Semua sistem dan
mekanisme ketata-usahaan belum diatur secara formal. Terlebih posisi TU belum
ada dalam standar pelayanan minimal (SPM)’’. Papar Ketua Forum Tenaga Tata
Usaha (FTTU) Buleleng Komang Arya Widi Astana.
Belum masuknya TU kedalam SPM menurut Arya, membuat
posisi TU berada pada posisi dilematis. Dilematis, karena beban pekerjaan dan
tanggungjawab yang diembannya belum berbanding lurus dengan penghasilan yang
diterimanya. “Bahkan ada TU yang hanya mendapat gaji Rp 300 ribu sebulan. Itu
artinya kan sangat jauh dari standar UMR”.
Kilah TU di SDN 1 Pemaron ini.
Kendati demikian kata Arya, para TU sejatinya tidak
terlalu mempermasalahkan minimnya penghasilan yang diterima. Sebab untuk saat
ini yang paling urgen menjadi aspirasi para TU adalah adanya pengakuan secara
formal dari pemerintah terkait keberadaan TU dalam standar pelayanan minimal
tenaga kependidikan di sekolah dasar. Namum semua itu terbentur akan SPM yang
ada.
“Kita masih bingung. Karena Sekretaris Dinas
Pendidikan Kabupaten Buleleng mengatakan belum boleh mengangkat TU menjadi
kontrak sebab SPM TU SD belum ada undang-undangnya. Akan tetapi kami lihat
dilapangan ada beberapa tata usaha di sekolah dasar yang setatusnya PNS, itu
yang membuat kami bertanya-tanya. Kami nanti akan mengadakan audiensi dengan
Bapak Bupati semoga saja mendapat jawaban yang menentukan jalan terbaik”.
Dia menambahkan, akibat tupoksi yang tidak jelas,
cukup berdampak pada pekerjaan TU yang juga melenceng dari tugas yang
seharusnya. “Karena tidak adanya SPM, beban kerja kita banyak yang tidak sesuai
dan tidak jelas apa saja tugas-tugas kita. Itu yang kita cari kejelasannya.
Agar jangan sampai beban kerja kita pelimpahannya melebihi kapasitas apalagi
diberi tugas diluar kepentingan sekolah”. Katanya.
Dari keseluruhan pegawai TU yang tergabung kedalam
Forum Tenaga Tata Usaha (FTTU) sampai saat ini belum ada yang memilki status
sebagai pegawai kontrak apalagi berstatus sebagai Aparat Sipil Negara (ASN),
“Sekitar tiga ratusan pegawai TU yang tergabung kedalam FTTU kabupaten Buleleng
semuanya masih berstatus tenaga abdi”. Jelas Arya sembari berharap pemerintah
mau memikirkan pegawai TU kedepan, minimal bisa diangkat menjadi tenaga
kontrak. Sehingga pegawai TU memiliki pengakuan yang jelas dari pemerintah. MPT-ZAP
Angin Segar Untuk Pegawai TU SD
Keberadaan
Tenaga Tata Usaha di Sekolah Dasar kini menjadi intrumen yang sama pentingnya
dengan tenaga pendidik. Kondisi ini tidak terlepas dengan meningkatnya
kebutuhan, pengurusan serta sistem administrasi di Sekolah Dasar.
Semua pengurusan dan mekanisme pelaporan yang serba
cepat, akurat serta berbasis IT, menyebabkan Kepala Sekolah dan Guru tidak lagi
bisa bekerja sendiri. Tingginya urusan administrasi seiring meningkatnya
keberpihakan pemerintah terhadap pendidikan dasar menyebabkan peran tata usaha
yang dulu dirangkap Kepala Sekolah kini harus dilimpahkan kepada tenaga yang
memiliki kompetensi khusus mengelola urusan administrasi sekolah. Yakni pegawai
Tata Usaha.
Namun lagi-lagi ironi harus diterima lembaga yang
menaungi anak-anak wajib pendidikan dasar itu. Utamanya Sekolah Dasar. Sebab
tenaga TU belum tersentuh UU Nomer 23 Tahun 2014 Tentang Standar Pelayanan
Minimal (SPM) tenaga kependidikan Sekolah Dasar. Akibatnya para pegawai TU
ibarat kata dia dibutuhkan tapi tidak dikehendaki. Lantas bagaimana Kabupaten Buleleng menyikapi ketimpangan
tersebut diwilayahnya. Berikut petikan wawancara wartawan majalah Pendidikan
Tenar Ade Zanji Adhi Pramana (MPT)
dengan salah satu anggota DPRD Buleleng yang getol memperjuangkan permasalahan
tersebut yakni Putu Mangku Mertayasa, SH. (PMM).
MPT : Ratusan Guru SD yang berstatus guru abdi pada bulan Mei kan sudah
diseleksi untuk selanjutnya diangkat menjadi kontrak. Terus bagaimana denga
tenaga TU Abdi...?
PMM : Kita masih tahap program, tentunya step
bay step. Kebutuhan yang sangat mendesak saat ini adalah kebutuhan terhadap
keberadaan tenaga guru SD yang ada di Buleleng yang mencapai 1479 oleh karena
itu inilah yang paling mendesak yang harus kita selesaikan kemudian baru kita
kepada pendukung infrastruktur lain termasuk mungkin tenaga TU didalamnya.
MPT : Apa yang menjadi kendala untuk merubah status TU Abdi menjadi pegawai
kontrak....?
PMM : Satu kendala yang ditemui yaitu tinggal berkordinasi dengan Kementrian
dan Kebudayaan karena disana menyangkut dengan Standar Pelayanan Minimal (SPM)
karena di Permendiknas/Permendikbud itu
Standar Pelayanan Minimal itu Cuma diatur sampai sekolah menengah dan SD
itu belum. Sehingga sambil menunggu adanya perubahan regulasi tentang itu yang
nanti kita bisa jadikan dasar hukum untuk melakukan pengangkatan ketika
memungkinkan dari segi anggaran.
MPT : Bagaimana pendapat Bapak tentang
UU Nomor; 23 Tahun 2014 Tentang Standar Pelayanan Minimal (SPM)
Sekolah......?
PMM : Tenaga TU itu sangat kita butuhkan mengingat vitalnya tugas mereka
termasuk meng-enter data Dapodik dan
lain sebagainya, kalau saya pribadi sangat menginginkan bahwa mereka juga
“dimanusiakan” baik dari sisi kesejahtraan maupun dari sisi penghasilan.
Setelah saya berkoordinasi dengan BKD itu dulunya adalah PNS yang diangkat
ditahun sebelum. Permendikbud itu muncul setelah itu mungkin dia sifatnya honor
daerah (Honda) ada undang-undang atau Peraturan Pemerintah yang memberikan
mandat mereka untuk diangkat dan karena sesuai dengan golongannya sehingga
mereka di pekerjakan sebagai TU.
MPT : Jika seperti itu langkah apa yang akan dilakukan oleh Dewan dalam
memperjuangkan nasib TU....?
PMM : Kita sudah melakukan koordinasi dua kali kepada Kementrian dan
Kementrian sangat wellcome terhadap
kita dan Kementrian juga memberikan sebuah angin segar bagi kita karena memang
Kementrian juga sangat menyadari vital dan pentingnya tenaga TU yang ada di
masing-masing SD.
MPT : Apa saja upaya yang diambil Dewan dalam memfasilitasi pengangkatan
tenaga TU menjadi pegawai kontrak...?
PMM : Kalau memfasilitasi kita tidak boleh, kita hanya mendorong memberikan
rekomendasi nanti kepada Bupati ketika anggaran memungkinkan, kenapa
tidak. Pasti kita berikan sebuah kajian
dan memberikan suatu rekomendasi kepada Bupati. Untuk melakukan pengangkatan
terhadap tenaga kontrak itu menjadi domain daripada eksekutif bukan legislatif.
MPT : Targetnya kapan para TU Abdi bisa diangkat menjadi tenaga kontrak....?
PMM : Semakin cepat semakin baik itu target kita, karena kan kita tidak
ngomongin waktu, bulan, tahun kalau memang memungkinkan, anggaran ada dan
regulasi turun, ya makin cepat makin baik. Sekali lagi kita juga ingin sekolah
dasar yang menjadi pondamen penting pendidikan anak-anak generasi bangsa ini
betul-betul berjalan baik dan benar. (*/MPT-RIQ)
Wednesday, 20 July 2016
Bersiap Jadi Destinasi Baru, SCTP ‘Jual’ Alam dan Budaya
PREMAN...!!! Akronim
SCTP mungkin tidak asing bagi kalangan masyarakat Buleleng. Jika menyebut salah
satu dari desa SCTP yakni. Sidatapa, Cempaga, Tigawasa dan Pedawa maka kesan
pertama yang muncul adalah ‘Preman’. Itu
dulu....! Kesan wilayah yang konon diidentikkan
sebagai basis kerusuhan itu, kini tidak ada lagi. SCTP yang menakutkan kini
telah merubah tampilannya menjadi wilayah yang selalu dirindukan untuk
dikunjungi. Apa saja yang dilakukan sthakeholder
di wilayah SCTP dalam mewujudkan SCTP sebagai destinasi wisata baru di Bali
Utara ?
BANJAR, TENAR
MAGAZINE – Segenap
komponen masyarakat di empat Desa tersebut kini mulai bangkit. Sidatapa,
Cempaga, Tigawasa dan Pedawa telah bersiap menjadi primadona baru dengan
menawarkan berbagai potensi yang tersimpan di Desa Baliage itu.
Salah
satu tokoh muda asal Sidatapa Wayan Ariawan menuturkan, Sidatapa yang berada
diketinggian sekitar 650 diatas permukaan laut sangat potensial dikembangkan
sebagai destinasi wisata. Pasalnya selain bersuhu sedang, di Desa ini para
wisatawan akan dimanjakan oleh alamnya yang masih alami.
Selain pesona
alam, beberapa seni tradisi seperti tari,
jangkang, tari rejang, tari ngabuang dan beberapa tarian sakral lainnya akan
menjadi pelengkap referensi budaya yang tidak bisa ditemui ditempat lain di
Bali. “Tari
rejang dan jangkang biasanya dipentaskan Khusus untuk menyambut hari raya
galungan dan kuningan. Sedangkan pada penutup perayaan Kuningan tari ngabuang
selalu menjadi primadona untuk dipentaskan pada malam harinya’. Ujar Ariawan.
Sebagaimana di
Sidatapa, masyarakat Cempaga juga sangat lekat dengan tari-tarian tersebut.
Bahkan Tari Jangkang, Tari Baris Dadap dan Jojor, Tari Pendet, Tari Rejang,
Tari Sanghyang, Tari Gandrung dan Tari Bali-Balian lainnya sempat memukau Tim
Penilai Lomba Desa Adat 18 Juli lalu. “Tari Wali itu merupakan tarian yang kami
terima secara turun-temurun dari tetua kami dahulu. Tari-tarian ini harus kami
tampilkan saat Puja Wali atau Piodalan di pura, karena tari-tarian tersebut
merupakan runtutan dari acara piodalan”. Jelas Bendesa Desa Cempaga I Nyoman
Dira.
Beberapa kearifan
lokal yang membedakan Budaya di Bali dengan Desa Baliage yang ada di kawasan
SCTP adalah peninggalan
kuno berupa rumah traditional yang dikenal dengan sebutan Bale Gajah Tumpang
Salu. Bale gajah Tumpang Salu menurut Ariawan memiliki makna rumah besar yang
memiliki tiga ruangan. Yaitu ruang nista mandala yang digunakan untuk menerima
tamu, madya mandala adalah ruangan yang digunakan melakukan aktivitas
sehari-hari seperti memasak, membuat sesajen dan kegiatan lainnya. Sedangkan
mandala utama adalah sebagai ruangan suci dalam melaksanakan kegiatan
keagamaan. “Intinya semua aktivitas semuanya berpusat dirumah. jika masyarakat
desa Sidatapa, melakukan kegiatan upacara adatnya, harus dimulai dari rumah
traditional tersebut. Salah satu keunikan disini, setiap warga desa yang sudah
masuk anggota krama desa harus memiliki rumah traditional seperti itu”, ungkap
Ariawan.
Ditemui disela-sela penilaian
Desa Adat tingkat Kabupaten Buleleng, Perbekel Desa Cempaga Putu Suarjaya
mengatakan pihaknya akan tetap konsisten menjaga tradisi serta kearifan lokal
diwilayahnya. “Bukan hanya di Desa cempaga saja, tetapi kita akan tetap bersatu
padu dengan dengan empat desa lainnya yang ada di kawasan Baliage (Sidatapa,
Cempaga, Tigawasa, Pedawa dan Banyuseri) dalam menjaga budaya masing-masing.
“Hal ini sangat
penting kita pertahankan, karena kita memiliki budaya dengan karakteristik yang
berbeda disetiap desa budaya. Jadi apa yang kita wariskan di Baliaga adalah
merupakan peradaban budaya yang memilki nilai sangat tinggi”. Terang Suarjaya.
Guna
mendukung desanya sebagai destinasi wisata baru di Kabupaten Buleleng, pihaknya
kata Suarjaya telah menyiapkan SDM dengan menyiapkan kursus Bahasa Asing. “Kita
disini sudah ada kursus Bahasa ingris bagi anak-anak dari pihak yayasan. Dan
untuk yang dewasa kita juga siapkan kursus Bahasa Inggris pariwisata. Tujuannya
supaya nanti mereka siap sebagai gaid lokal untuk meng-handle tamu-tamu”. Imbuhannya.
Camat Banjar Gusti
Ngurah Nuradi sangat menyambut baik upaya yang dilakukan desa-desa yang ada
diwilayahnya. Termasuk Cempaga dalam melestaraian adat dan budayanya. “Untuk
Desa Baliage ini agar tetap melestarikan adat dan budayanya sehingga ada ciri
khas dari desa lainnya. Dan kami selalu melakukan pembinaan-pembinaan baik yang
sifatnya teknis maupun no teknis. Kalau masalah teknis kita akan kordinasikan
dengan SKPD terkait. Sementara untuk yang non teknis, terutama yang berkaitan dengan
kebijakan-kebijakan, kami selalu memotifasi agar Desa Baliaga biasa menciptakan
suasana aman, tertib, nyaman dan terkendali sehingga apa yang di harapkan dalam
dunia pariwisata terutama keamanan dan
kelestariannya itu bisa tetap terjaga”. Terang Nuradi. MPT-ZAP/RIQ
Sunday, 10 July 2016
Monday, 4 July 2016
Ajaran Baru Aturan Baru
Mengawali tahun pelaksanaan
ajaran baru, tahun ini. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI telah
menerbitkan beberapa regulasi baru. Diturunkannya beberapa regulasi tersebut,
bertujuan untuk mendorong tumbuhnya ekosistem pendidikan yang aman, sehat dan menyenangkan
dilingkungan sekolah.
Sesuai Surat Edaran yang ditandatangani Direktur
Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah Hamid Muhammad tersebut menyasar semua
satuan pendidikan di tanah air. Tidak terkecuali Sekolah dasar. Lantas seperti
apakah masing-masing Unit Pelaksana Pendikan (UPP) di Kabupaten Buleleng
mengkomunikasikan hal tersebut ke masing-masing sekolah yang ada di wilayah
unitnya ? dan bagaimana upaya sekolah dalam menyikapi SE tersebut ??? Selengkapnya
hanya ada di Majalah pendidikan Tenar Edisi Cetak Nomer 75
Drs. Gede Suyasa, M.Pd
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Buleleng
“MOS sekarang sudah di ganti
dengan Pengenalan Lingkungan Sekolah itu sudah ada Juknis dan Permendiknas
tahun 2016. Jadi tidak adalagi proses-proses yang bersifat kekerasan,
Perpeloncoan di Sekolah, Kemudian melakukan sesuatu yang tidak masuk akal
seperti menghitung benda yang tidak bisa di hitung, masak air di hitung berapa
jumlah, itu bisa kecuali menggunakan volume. Menghitung gula, mengunakan
kuncung warna-warni. Itu tidak di benarkan lagi.
Kita akan
pantau terus tidak ada lagi proses kekerasan di sekolah. Jika di temui hal
seperti itu sangsinya adalah manajemen sekolah dari atas ke bawah dan kita
lihat duduk persoalan dulu dan mudah-mudahan semuanya mengikuti Permendiknas
dan kita juga harapkan tidak ada kekerasan lagi di sekolah”.
Sunday, 3 July 2016
SMAN 1 Banjar Wakil Bali Dinilai Tim LSS
Pusat
Empat wakil Bali yang bertarung dalam
lomba bergengsi; Lomba Sekolah Sehat (LSS) Tingkat Nasional Kamis 26/5 telah
tuntas dinilai Tim LSS Pusat. Dari empat sekolah yang melaju mewakili Bali dua
diantaranya terdapat di Kabupaten Buleleng. Sekolah tersebut adalah SDN 1
Tajun, Kecamatan Kubutambahan dan SMAN 1 Banjar, Kecamatan Banjar.
SINGARAJA, TENAR MAGAZINE – Optimisme Buleleng kembali merebut supremasi
tertinggi Lomba Sekolah Sehat (LSS) Tahun ini menjadi harapan semua pihak.
Salah satunya tercetus dari petinggi Bumi Denbukit Putu Agus Suradnyana.
Harapan tersebut cukup realistis. Pasalnya capaian pembangunan serta pembinaan
dibidang Usaha Kesehatan sekolah di dua sekolah yang mewakili Buleleng.
Utamanya di SMAN 1 Banjar cukup bagus. “Untuk melihat suatu keberhasilan, kita
jangan hanya melihat hasil yang ada sekarang saja, tapi yang patut kita
apresiasi adalah hasil capaian yang dihasilkan dari tahun ketahun”. Ujarnya.
Terlebih kata dia, SMAN 1 Banjar
adalah sekolah yang berlokasi dipedesaan, mewujudkan sekolah yang megah dengan
penataan taman serta lingkungan yang hijau dan bersih bukan merupakan persoalan
mudah. “Saya optimis SMAN 1 Banjar akan mampu mengulang pretasi serupa yang
sempat diraih SMKN 2 Singaraja tahun lalu”. Katanya sembari terus menunjukkan
kekagumannya pada suasana yang ada di SMA ditanah kelahirannya itu.
Terlepas prestasi apa yang akan
diraih setelah penilaian nanti, yang jelas SMAN 1 Banjar memang layak
mengundang decak kagum pada setiap tamu undangan yang hadir saat penilaian Rabu, 25/5 lalu. Ketua Tim Penilai LSS
Tingkat Nasional Drs. Agung Tri Wahyunto, M.Ed mengaku baru tersadar kalau
Kabupaten Buleleng ternyata memiliki potensi yang amat luar biasa. “Saya sempat
tanda tanya, ada apa dengan Buleleng. Karena saya sudah sekian tahun tidak
pernah ke Bali dan waktu itu ya sepi-sepi saja. Tapi setelah menuju SDN 1 Tajun
hingga ke SMAN 1 Banjar barulah saya paham terlebih setelah melihat berbagai
juara yang diraih Kabupaten Buleleng”. Papar Agung Tri Wahyunnto dari
Sekretariat Direktorat Jendral Dikdasmen, Kemendikbud RI.
Pujian lainnya juga datang dari
Kepala Biro Kesejahtraan Rakyat (Kesra) Drs. A.A Gede Geriya,M.H. Menurutnya
SMAN 1 Banjar mampu tampil beda dibandingkan sekolah lainnya. “Menurut saya
SMAN 1 Banjar ini sangat luar biasa seperti kita baca pada visinya yaitu
melaksanakan pembinaan yang berkarakter berwawasan lingkungan yang sehat dan
hijau. Dibandingkan dengan sekolah-sekolah lain sekolah ini jauh lebih bagus
dan lebih keren. Apalagi tim penilai yang turun menilai LSS terdiri dari tiga
komponen kelembagaan yaitu Kementrian
Dalam Negeri, Pendidikan dan Kesehatan. Mudah-mudahan SMAN 1 ini mendapat juara
di tingkat Nasional”. Harap Geriya.
Dalam kesempatan terpisah salah satu Anggota Tim Penilai Agus
Suharyanto,M.A juga menyampaikan bahwa tujuan LSS ini bukan hanya sekedar lomba
saja. Tapi esensinya adalah penekanan pada pembudayaan hidup bersih dan sehat
di kalangan siswa maupun seluruh elemen di kalangan sekolah. “Tujuan lomba UKS
ini bukan pada lomba, melainkan lebih menekankan pembudayaan hidup bersih dan
sehat di kalangan siswa dan seluruh elemen di kalangan sekolah. Setiap sekolah
yang kami kunjungi masing-masing memiliki keunikan dan ciri khas tersendiri.
Namun kami tetap menilai berdasarkan komponen-komponen yang sudah di susun oleh
tim yaitu 1. ketersediaan kelengkapan, dan berfungsinya sarana prasarana 2.
Langkah-langkah inovasi terhadap program-program UKS, 3. Perilaku siswa
terhadap Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) atau budaya perilaku siswa
terhadap PHBS”. Paparnya.
Kepala Sekolah SMAN 1 Banjar
Drs. I Made Ngawi mengatakan, dalam mengikuti Lomba Sekolah Sehat kali ini
pihaknya telah melakukan serangkaian persiapan fisik dan non fisik.
Diantaranya; sosialisasi kepada seluruh warga sekolah setelah di tetapkan SMAN
1 Banjar sebagai Duta Provinsi Bali dalam Lomba Sekolah Sehat tingkat Nasional.
Selanjutnya seluruh warga sekolah membuat komitmen bersama dalam mengikuti
Lomba Sekolah Sehat yang dimaksud.
“Kami membentuk kepanitiaan dan kelengkapan dalam
menerima pembinaan dari team pembina baik dari Kecamatan Banjar, Kabupaten
Buleleng serta dari Provinsi Bali. Kepanitiaan tersebut bertujuan untuk lebih
efektifnya pembinaan UKS di sekolah. Salah satu diantaranya adalah kami
tugaskan guru-guru untuk mendampingi masing-masing kegiatan yang telah di
tetapkan di tambah dengan siswa-siswa sebagai pelopor dari kegiatan tersebut.”
Urai Ngawi. Dia juga menjelaskan disekolahnya telah terbentuk Kelompok Remaja
Pelopor (KRP) 20% dari jumlah siswa yaitu 161 Orang. MT-ZAP
SMPN 1 Banjar Kukuhkan 73 Penggalang
Meningkatkan keterampilan siswa dalam ke-Pramukaan,
SMPN 1 Banjar Jumat 10/6 mengukuhkan 73 Penggalang dari Ramu ke-Rakit serta
dari Rakit Ke-Trap. Acara yang
berlangsung di halaman sekolah ini diikuti 73 peserta putra dan putri.
BANJAR, TENAR MAGAZINE – Pramuka Penggalang SMPN 1 Banjar tahun ini kembali menggelar
perkemahaan. Kegiatan yang berlangsung selama 2 hari satu malam itu, juga
dirangkaikan dengan pengukuhan Penggalang. Sebanyak 73 penggalang
masing-masing mendapat kenaikan golongan
menjadi Rakit dan Trap. Acara pengukuhan dilakukan langsung oleh Andalan
Penggalang putra Kwaran Banjar I Made Jayadi dan dihadiri Kepala Sekolah SMPN 1
Banjar Ida Bagus Adi Parwata.
Antusias siswa dalam mengikuti kegiatan ke-Pramukaan
sangat tinggi, terlihat dengan semangat mengucapkan yel-yel dan nyanyian
Pramuka di setiap sela-sela kegiatan.“Kegiatan ini merupakan salah satu ekstra
kulikuler di sekolah kami dimana para siswa yang ikut dalam perkemahan ini
merupakan inisiatif dan keinginan mereka. Ini menunjukkan bahwa pramuka
memiliki daya tarik tersendiri bagi mereka”. Ujar Wakil Kepala Sekolah I Made
Suartha.
Menurut Suartha, perkemahan ini sebagai kegiatan
tahunan di akhir semester dan di barengi dengan purna bakti Pramuka golongan
Trap yang akan meninggalkan sekolah ini menuju ke tingkat SMA/SMK. “Kita telah
mengukuhkan anak-anak Penggalang Ramu dan Rakit. Selain itu Perkemahan ini juga
kita jadikan sebagai momen untuk serah terima tugas dari kakak mereka yang
sudah purna bakti yang telah lulus dari sekolah ini dan melanjutkannya ke
SMA/SMK”.Tutur Guru IPA di SMPN 1 Banjar ini.
Ka.Mabigus, Ida Bagus Adi Parwata mengatakan pentingnya pendidikan ke-Pramukaan
untuk mengimplementasikan nilai-nilai ke-Pramukaan.”Harapannya pendidikan ke
pramukaan dapat terealisasi dan terimplementasi lebih sempurna lagi dengan
bantuan kakak-kakak pramuka lain dan para pembina pula”.Papar lelaki yang
tinggal di Desa Dencarik ini.
Ditambahakannya, peserta perkemahan ini yang sudah di
lantik, di tahun ajaran baru akan turut serta membina pada pengembangan diri
ke-Pramukaan.” Tahun ajaran baru, anak-anak ini akan membina adik tingkatnya di
lapangan”. Imbuhannya.
Dihari Terakhir acara kegiatan diisi dengan pembagian
Rapot bagi para peserta dan upacara penutupan sebagai akhir dari kegiatan ini. MT-ZAP.
Monday, 27 June 2016
Sunday, 26 June 2016
Papan
Tulis:
MENGEMBALIKAN “TRADISI KEBERAKSARAAN”
KEDALAM KELUARGA
Oleh:
IBK. Dharma Santika Putra
Direktur
Forum Indonesia Kecil
Pengantar
Jika dilontarkan sebuah pertanyaan, “Siapakah yang mengasuh anak-anak kita ?”. Maka jawaban yang kita
dapatkan adalah bahwa para orang tualah yang mengasuh anak-anak buah hati
mereka.
Sekilas memang tidak ada yang
salah dari jawaban yang diberikan oleh seorang ayah dan ibu, atas pertanyaan,
“siapakah yang mengasuh anak-anak mereka”. Karena secara normatif, tugas mengasuh
anak, memang merupakan tugas dari para orang tua..
Demikiankah didalam kenyataannya
?.
Jawabannya sering “jauh panggang dari api”.
Berapa jam-kah seorang ibu atau
ayah memiliki waktu untuk mengasuh anak-anaknya ?.
Ciba kemudian bandingkan dengan jumlah
waktu yang dihabiskan si anak didepan televisi, didepan computer, atau bermain-main
dengan berbagai bentuk gadget ?. Apakah
itu namanya Smartphone, HP, Tablet, iPod
hingga bentuk gadget terbaru dan super canggih ?.
Tidakkah anak-anak kita selama ini
lebih banyak diasuh oleh Remote Control
Televisi ?.
Sementara acara-acara televisi
seperti yang kita ketahui bersama dan bukan merupakan rahasia lagi, bahwa
acara-acara yang disuguhkan televisi dinegeri tercinta ini masih jauh dari mendidik
?.
Demikian juga dengan para remaja
kita; bukankah mereka lebih banyak diasuh dan bercengkrama dengan berbagai
bentuk produk gadget ?.
Lalu, kapankah para orang tua ada
waktu untuk mengasuh atau minimal becengkrama dengan anak-anak mereka ?.
Sebuah kenyataan getir memang
kalau kita berani menjawabnya dengan jujur sebuah pertanyaan sederhana.
“Siapakah yang selama ini mengasuh anak-anak kita ?”.
Loncatan
Budaya
Ketika anak-anak sebagai
putra-putri sang hidup didalam pertumbuhannya membutuhkan sentuhan kasih sayang
dari para orang tua, tetapi akibat kemajuan ilmu pengathuan dan teknologi akhirnya
semuanya terampas begitu saja oleh berbagai bentuk capain teknologi informasi
dan komunikasi yang memanjakan dan memberikan kenikmatan lebih sebagai gaya
hidup.
Apa yang kini sedang terjadi, dan menjadi
gaya hidup generasi muda kita, adalah apa sering disebut sebagai Cultural Jump.
Sebuah loncatan kebudayaan, yang
jika keliru didalam mengelolanya akan dapat meruntuhkan sebuah bangunan
peradaban negara-bangsa seperti Indonesia tercinta ini.
Gejala menuju kearah kehancuran
itu sudah mulai menunjukkan tanda-tandanya. Hal itu sangat terasa dengan
semakin melebarnya jurang komunikasi antara orang tua dengan anak, dan juga komunikasi
sosial antar warga didalam sebuah komunitas.
Kini hampir seluruh kisi-kisi
kehidupan
, dan laku budaya kemanusiaan kita
penuh dengan sentuhan IT, dengan berbagai pentuk produksinya berupa gadget.
Kini sebuah pesan cukup
disampaikan lewat pesan singkat atau SMS, tanpa harus bertemu dan berinteraksi
dengan mereka yang kita berikan pesan.
Atas semua itu. kini kehidupan
terasa semakin kering, dan simpul-simpul sosial antar warga menjadi semakin
renggang antara satu warga dengan warga lainnya. Bahkan gejala ini sudah masuk
hingga relung-relung kehidupan sebuah bangunan rumah tangga juga keluarga.
Bukanlah sebuah pemandangan yang
luar biasa, kalau sekarang kita sering meihat bahwa anak-anak lebih asyik
dengan gedget-nya ketimbang menjalin komunikasi dengan saudara atau orang
tuanya. Mareka lebih asyik dengan petualangan sebuah permainan (game-pen),
ketimbang menyapa orang tua atau saudaranya.
Sementara yang masih tergolong
anak-anak lebih asyik dengan berbagai acara televisi, yang sejak awal siar
menyajikan hal-hal yang jauh dari dunia kanak-kanak mereka. Dan semua itu
terjadi sebagai sebuah keniscayaan, tanpa ada yang peduli. Juga pemerintah,
bahkan negara seolah tidak hadir.
Tradisi Keberaksaraan
Tentu kita tidak cukup memiliki
kemampuan dan kekuatan untuk menghentikan, bahkan memperlambat laju jaman
dengan berbagai bentuk capaian teknologinya. Seperti apa yang kita lihat dan
terjadi disekitar kita dan kemudian menjadi gaya hidup anak-anak sebagai buah
hati kita.
Tetapi kelalaian didalam mengelola
unsur utama peradaban dalam hal ini unsur sumber daya manusia, tentu juga tidak
boleh terjadi dan dibiarkan begitu saja. Seperti apa yang tertuang dalam
bait-bait Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, “bangunlah
jianya, bangunlah badannya”.
Atas kenyataan zaman inilah, maka
kehadiran sosok “Ibu Cerdas” dan bisa
tampil hangat serta ramah didalam mengelola keluarga menjadi sebah keniscayaan.
Seperti sebuah ujar-ujar menyatakan, //jika
kaum perempuan sudah menjadi jalang/ dan anak-anak kehilangan etika moral
didalam berpirlaku/ maka kehadiran seorang ibu adalah jawabannya//.
Mungkin pertanyaannya kemudian
adalah, “Siapakah Ibu Cerdas yang mampu dengan hangat dan ramah mengelola
keluarga ?”.
Disini jawabannya mungkin bukan
sesuatu yang bersifat personal atau sebuah sosok pribadi, tetapi lebih
bagaimana kita mengelola bangunan peradaban yang bernama keluarga dengan
sentuhan-sentuhan yang mencerdaskan, dan kemudian mampu melahirkan suasana
hangat nan ranah ditengah-tengah dinamika keluarga kita, sehingga mampu
melahirkan anak-anak yang memiliki kecerdasan yang mumpuni. Sigap didalam
berfikir, dan penuh sentuhan etika moral didalam berprilaku dan tutur katanya.
Atau dalam bahasa lugasnya anak – anak yang berkarakter dan memiliki etika
moral didalam prilaku dan tutur katanya.
Apa yang dilontarkan secara
apresiastif oleh Prof. Dr. Umar Kayam yang kemudian dikutip oleh Ashadi Serigar
dan Faruk HT dalam bukunya Umar Kayam Luar Dalam, ada disebutkan sebuah tradisi
mencerdaskan yang disebut sebagai “Tradisi Keberaksaraan”. Yang merupakan salah
satu therapi kebudayaan bagi bangunan Keluarga Indonesia didalam menghadapi
kemajuan zaman dengan berbagai capaian ilmu pengatahuan dan teknologinya,
seperti apa yang sedang terjadi saat ini, dimana ruang dan waktu anak – anak
kita dihabiskan oleh benda-benda canggih yang disebut sebagai Gatget.
Yang dimaksud dengan Tradisi
Keberaksaraan disini adalah:
1.
Tradisi Lisan
(mendongeng).
2.
Tradisi
Mendengar (mendengarkan siaran radio).
3.
Tradisi
Membaca (membaca karya sastra).
4.
Tradisi
Menulis (menulis surat/korespondensi) dan
5.
Tradisi
Berdialog(ngobrol lepas/ bercengkrama bersama anggota keluarga).
Jika kita sebagai orang tua (ibu
dan ayah) mampu membangun tradisi keberaksaraan ditengah-tengah dinamika dan
interaksi keluarga kita saat ini yang lebih disibukkan oleh tradisi menonton
televisi dan bermain gatget, niscaya sentuhan kehangatan yang lebih manusiawi
akan bisa terbangun didalam keluarga kita. Dan tradisi keberaksaraan ini akan
menjadi sosok ibu cerdas, yang mampu melahirkan dan mengantarkan anak-anak kita
kepada kemulyaan manusiawi yang lebih baik.
Ada beberapa pertanyaan yang harus
dijawab secara jujur. Karena tanpa kejujuran kita tidak akan pernah sampai pada
angan-angan kita didalam mewujudkan bangunan peradaban yang bernama Keluarga Indonesia itu.
Masihkah kita mempunyai waktu
untuk mendongeng kepada anak – anak kita ?.
Masihkan kita mendengarkan siaran
radio ?.
Masihkah kita menulis surat untuk
anak-anak kita ?.
Masihkah kita memiliki cukup waktu
untuk membaca karya sastra ?.
Masihkan kita menyediakan ruang
dan waktu untuk ngobrol lepas dan memangun dialog kemanusiaan dengan anak –
anak kita ?.
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan
diatas, akan menjadi sebuah ukuran sejuahmana kita telah sampai, didalam
mewujudkan keluarga yang penuh kehangatan dan penuh sentuhan kemanusiaan.
Dan jika jawabannya bahwa anda belum
melakukannya, maka belumlah terlambat bagi kita, untuk memulai sebuah langkah
awal, untuk mewujudkan tradisi keberaksaraan didalam mengelola keluarga,
sehingga terwujud bangunan peradaban keluarga Indonesia yang lebih harmonis dan
mencerdaskan.
Dan semuanya belum terlambat.
Karena tidak ada kata terlambat untuk sebuah kebajikan, apalagi dengan
cita-cita mulia untuk mewujudkan bangunan peradaban insaniah yang bernama
Keluarga Indonesia.
Bergegaslah !
Pondok Seni Praba-Gita Jembrana, Bali.
Subscribe to:
Posts (Atom)















