Wednesday, 20 July 2016

Bersiap Jadi Destinasi Baru, SCTP ‘Jual’ Alam dan Budaya



PREMAN...!!! Akronim SCTP mungkin tidak asing bagi kalangan masyarakat Buleleng. Jika menyebut salah satu dari desa SCTP yakni. Sidatapa, Cempaga, Tigawasa dan Pedawa maka kesan pertama yang muncul adalah ‘Preman’.  Itu dulu....!  Kesan wilayah yang konon diidentikkan sebagai basis kerusuhan itu, kini tidak ada lagi. SCTP yang menakutkan kini telah merubah tampilannya menjadi wilayah yang selalu dirindukan untuk dikunjungi. Apa saja yang dilakukan sthakeholder di wilayah SCTP dalam mewujudkan SCTP sebagai destinasi wisata baru di Bali Utara ?

BANJAR, TENAR MAGAZINE – Segenap komponen masyarakat di empat Desa tersebut kini mulai bangkit. Sidatapa, Cempaga, Tigawasa dan Pedawa telah bersiap menjadi primadona baru dengan menawarkan berbagai potensi yang tersimpan di Desa Baliage itu. 
                Salah satu tokoh muda asal Sidatapa Wayan Ariawan menuturkan, Sidatapa yang berada diketinggian sekitar 650 diatas permukaan laut sangat potensial dikembangkan sebagai destinasi wisata. Pasalnya selain bersuhu sedang, di Desa ini para wisatawan akan dimanjakan oleh alamnya yang masih alami.
Selain pesona alam, beberapa seni tradisi seperti tari, jangkang, tari rejang, tari ngabuang dan beberapa tarian sakral lainnya akan menjadi pelengkap referensi budaya yang tidak bisa ditemui ditempat lain di Bali. “Tari rejang dan jangkang biasanya dipentaskan Khusus untuk menyambut hari raya galungan dan kuningan. Sedangkan pada penutup perayaan Kuningan tari ngabuang selalu menjadi primadona untuk dipentaskan pada malam harinya’. Ujar Ariawan.
Sebagaimana di Sidatapa, masyarakat Cempaga juga sangat lekat dengan tari-tarian tersebut. Bahkan Tari Jangkang, Tari Baris Dadap dan Jojor, Tari Pendet, Tari Rejang, Tari Sanghyang, Tari Gandrung dan Tari Bali-Balian lainnya sempat memukau Tim Penilai Lomba Desa Adat 18 Juli lalu. “Tari Wali itu merupakan tarian yang kami terima secara turun-temurun dari tetua kami dahulu. Tari-tarian ini harus kami tampilkan saat Puja Wali atau Piodalan di pura, karena tari-tarian tersebut merupakan runtutan dari acara piodalan”. Jelas Bendesa Desa Cempaga I Nyoman Dira.

Beberapa kearifan lokal yang membedakan Budaya di Bali dengan Desa Baliage yang ada di kawasan SCTP adalah peninggalan kuno berupa rumah traditional yang dikenal dengan sebutan Bale Gajah Tumpang Salu. Bale gajah Tumpang Salu menurut Ariawan memiliki makna rumah besar yang memiliki tiga ruangan. Yaitu ruang nista mandala yang digunakan untuk menerima tamu, madya mandala adalah ruangan yang digunakan melakukan aktivitas sehari-hari seperti memasak, membuat sesajen dan kegiatan lainnya. Sedangkan mandala utama adalah sebagai ruangan suci dalam melaksanakan kegiatan keagamaan. “Intinya semua aktivitas semuanya berpusat dirumah. jika masyarakat desa Sidatapa, melakukan kegiatan upacara adatnya, harus dimulai dari rumah traditional tersebut. Salah satu keunikan disini, setiap warga desa yang sudah masuk anggota krama desa harus memiliki rumah traditional seperti itu”, ungkap Ariawan.
                Ditemui disela-sela penilaian Desa Adat tingkat Kabupaten Buleleng, Perbekel Desa Cempaga Putu Suarjaya mengatakan pihaknya akan tetap konsisten menjaga tradisi serta kearifan lokal diwilayahnya. “Bukan hanya di Desa cempaga saja, tetapi kita akan tetap bersatu padu dengan dengan empat desa lainnya yang ada di kawasan Baliage (Sidatapa, Cempaga, Tigawasa, Pedawa dan Banyuseri) dalam menjaga budaya masing-masing.
“Hal ini sangat penting kita pertahankan, karena kita memiliki budaya dengan karakteristik yang berbeda disetiap desa budaya. Jadi apa yang kita wariskan di Baliaga adalah merupakan peradaban budaya yang memilki nilai sangat tinggi”. Terang Suarjaya.  
                Guna mendukung desanya sebagai destinasi wisata baru di Kabupaten Buleleng, pihaknya kata Suarjaya telah menyiapkan SDM dengan menyiapkan kursus Bahasa Asing. “Kita disini sudah ada kursus Bahasa ingris bagi anak-anak dari pihak yayasan. Dan untuk yang dewasa kita juga siapkan kursus Bahasa Inggris pariwisata. Tujuannya supaya nanti mereka siap sebagai gaid lokal untuk meng-handle tamu-tamu”. Imbuhannya.
Camat Banjar Gusti Ngurah Nuradi sangat menyambut baik upaya yang dilakukan desa-desa yang ada diwilayahnya. Termasuk Cempaga dalam melestaraian adat dan budayanya. “Untuk Desa Baliage ini agar tetap melestarikan adat dan budayanya sehingga ada ciri khas dari desa lainnya. Dan kami selalu melakukan pembinaan-pembinaan baik yang sifatnya teknis maupun no teknis. Kalau masalah teknis kita akan kordinasikan dengan SKPD terkait. Sementara untuk yang non teknis, terutama yang berkaitan dengan kebijakan-kebijakan, kami selalu memotifasi agar Desa Baliaga biasa menciptakan suasana aman, tertib, nyaman dan terkendali sehingga apa yang di harapkan dalam dunia pariwisata terutama keamanan dan kelestariannya itu bisa tetap terjaga”. Terang Nuradi. MPT-ZAP/RIQ



No comments:

Post a Comment