PREMAN...!!! Akronim
SCTP mungkin tidak asing bagi kalangan masyarakat Buleleng. Jika menyebut salah
satu dari desa SCTP yakni. Sidatapa, Cempaga, Tigawasa dan Pedawa maka kesan
pertama yang muncul adalah ‘Preman’. Itu
dulu....! Kesan wilayah yang konon diidentikkan
sebagai basis kerusuhan itu, kini tidak ada lagi. SCTP yang menakutkan kini
telah merubah tampilannya menjadi wilayah yang selalu dirindukan untuk
dikunjungi. Apa saja yang dilakukan sthakeholder
di wilayah SCTP dalam mewujudkan SCTP sebagai destinasi wisata baru di Bali
Utara ?
BANJAR, TENAR
MAGAZINE – Segenap
komponen masyarakat di empat Desa tersebut kini mulai bangkit. Sidatapa,
Cempaga, Tigawasa dan Pedawa telah bersiap menjadi primadona baru dengan
menawarkan berbagai potensi yang tersimpan di Desa Baliage itu.
Salah
satu tokoh muda asal Sidatapa Wayan Ariawan menuturkan, Sidatapa yang berada
diketinggian sekitar 650 diatas permukaan laut sangat potensial dikembangkan
sebagai destinasi wisata. Pasalnya selain bersuhu sedang, di Desa ini para
wisatawan akan dimanjakan oleh alamnya yang masih alami.
Selain pesona
alam, beberapa seni tradisi seperti tari,
jangkang, tari rejang, tari ngabuang dan beberapa tarian sakral lainnya akan
menjadi pelengkap referensi budaya yang tidak bisa ditemui ditempat lain di
Bali. “Tari
rejang dan jangkang biasanya dipentaskan Khusus untuk menyambut hari raya
galungan dan kuningan. Sedangkan pada penutup perayaan Kuningan tari ngabuang
selalu menjadi primadona untuk dipentaskan pada malam harinya’. Ujar Ariawan.
Sebagaimana di
Sidatapa, masyarakat Cempaga juga sangat lekat dengan tari-tarian tersebut.
Bahkan Tari Jangkang, Tari Baris Dadap dan Jojor, Tari Pendet, Tari Rejang,
Tari Sanghyang, Tari Gandrung dan Tari Bali-Balian lainnya sempat memukau Tim
Penilai Lomba Desa Adat 18 Juli lalu. “Tari Wali itu merupakan tarian yang kami
terima secara turun-temurun dari tetua kami dahulu. Tari-tarian ini harus kami
tampilkan saat Puja Wali atau Piodalan di pura, karena tari-tarian tersebut
merupakan runtutan dari acara piodalan”. Jelas Bendesa Desa Cempaga I Nyoman
Dira.
Beberapa kearifan
lokal yang membedakan Budaya di Bali dengan Desa Baliage yang ada di kawasan
SCTP adalah peninggalan
kuno berupa rumah traditional yang dikenal dengan sebutan Bale Gajah Tumpang
Salu. Bale gajah Tumpang Salu menurut Ariawan memiliki makna rumah besar yang
memiliki tiga ruangan. Yaitu ruang nista mandala yang digunakan untuk menerima
tamu, madya mandala adalah ruangan yang digunakan melakukan aktivitas
sehari-hari seperti memasak, membuat sesajen dan kegiatan lainnya. Sedangkan
mandala utama adalah sebagai ruangan suci dalam melaksanakan kegiatan
keagamaan. “Intinya semua aktivitas semuanya berpusat dirumah. jika masyarakat
desa Sidatapa, melakukan kegiatan upacara adatnya, harus dimulai dari rumah
traditional tersebut. Salah satu keunikan disini, setiap warga desa yang sudah
masuk anggota krama desa harus memiliki rumah traditional seperti itu”, ungkap
Ariawan.
Ditemui disela-sela penilaian
Desa Adat tingkat Kabupaten Buleleng, Perbekel Desa Cempaga Putu Suarjaya
mengatakan pihaknya akan tetap konsisten menjaga tradisi serta kearifan lokal
diwilayahnya. “Bukan hanya di Desa cempaga saja, tetapi kita akan tetap bersatu
padu dengan dengan empat desa lainnya yang ada di kawasan Baliage (Sidatapa,
Cempaga, Tigawasa, Pedawa dan Banyuseri) dalam menjaga budaya masing-masing.
“Hal ini sangat
penting kita pertahankan, karena kita memiliki budaya dengan karakteristik yang
berbeda disetiap desa budaya. Jadi apa yang kita wariskan di Baliaga adalah
merupakan peradaban budaya yang memilki nilai sangat tinggi”. Terang Suarjaya.
Guna
mendukung desanya sebagai destinasi wisata baru di Kabupaten Buleleng, pihaknya
kata Suarjaya telah menyiapkan SDM dengan menyiapkan kursus Bahasa Asing. “Kita
disini sudah ada kursus Bahasa ingris bagi anak-anak dari pihak yayasan. Dan
untuk yang dewasa kita juga siapkan kursus Bahasa Inggris pariwisata. Tujuannya
supaya nanti mereka siap sebagai gaid lokal untuk meng-handle tamu-tamu”. Imbuhannya.
Camat Banjar Gusti
Ngurah Nuradi sangat menyambut baik upaya yang dilakukan desa-desa yang ada
diwilayahnya. Termasuk Cempaga dalam melestaraian adat dan budayanya. “Untuk
Desa Baliage ini agar tetap melestarikan adat dan budayanya sehingga ada ciri
khas dari desa lainnya. Dan kami selalu melakukan pembinaan-pembinaan baik yang
sifatnya teknis maupun no teknis. Kalau masalah teknis kita akan kordinasikan
dengan SKPD terkait. Sementara untuk yang non teknis, terutama yang berkaitan dengan
kebijakan-kebijakan, kami selalu memotifasi agar Desa Baliaga biasa menciptakan
suasana aman, tertib, nyaman dan terkendali sehingga apa yang di harapkan dalam
dunia pariwisata terutama keamanan dan
kelestariannya itu bisa tetap terjaga”. Terang Nuradi. MPT-ZAP/RIQ

No comments:
Post a Comment