Monday, 4 July 2016

Drs. Gede Suyasa, M.Pd
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Buleleng

“MOS sekarang sudah di ganti dengan Pengenalan Lingkungan Sekolah itu sudah ada Juknis dan Permendiknas tahun 2016. Jadi tidak adalagi proses-proses yang bersifat kekerasan, Perpeloncoan di Sekolah, Kemudian melakukan sesuatu yang tidak masuk akal seperti menghitung benda yang tidak bisa di hitung, masak air di hitung berapa jumlah, itu bisa kecuali menggunakan volume. Menghitung gula, mengunakan kuncung warna-warni. Itu tidak di benarkan lagi.
Kita akan pantau terus tidak ada lagi proses kekerasan di sekolah. Jika di temui hal seperti itu sangsinya adalah manajemen sekolah dari atas ke bawah dan kita lihat duduk persoalan dulu dan mudah-mudahan semuanya mengikuti Permendiknas dan kita juga harapkan tidak ada kekerasan lagi di sekolah”.


Sunday, 3 July 2016

SMAN 1 Banjar Wakil Bali Dinilai Tim LSS Pusat

Empat wakil Bali yang bertarung dalam lomba bergengsi; Lomba Sekolah Sehat (LSS) Tingkat Nasional Kamis 26/5 telah tuntas dinilai Tim LSS Pusat. Dari empat sekolah yang melaju mewakili Bali dua diantaranya terdapat di Kabupaten Buleleng. Sekolah tersebut adalah SDN 1 Tajun, Kecamatan Kubutambahan dan SMAN 1 Banjar, Kecamatan Banjar.

SINGARAJA, TENAR MAGAZINE – Optimisme Buleleng kembali merebut supremasi tertinggi Lomba Sekolah Sehat (LSS) Tahun ini menjadi harapan semua pihak. Salah satunya tercetus dari petinggi Bumi Denbukit Putu Agus Suradnyana. Harapan tersebut cukup realistis. Pasalnya capaian pembangunan serta pembinaan dibidang Usaha Kesehatan sekolah di dua sekolah yang mewakili Buleleng. Utamanya di SMAN 1 Banjar cukup bagus. “Untuk melihat suatu keberhasilan, kita jangan hanya melihat hasil yang ada sekarang saja, tapi yang patut kita apresiasi adalah hasil capaian yang dihasilkan dari tahun ketahun”. Ujarnya.
                Terlebih kata dia, SMAN 1 Banjar adalah sekolah yang berlokasi dipedesaan, mewujudkan sekolah yang megah dengan penataan taman serta lingkungan yang hijau dan bersih bukan merupakan persoalan mudah. “Saya optimis SMAN 1 Banjar akan mampu mengulang pretasi serupa yang sempat diraih SMKN 2 Singaraja tahun lalu”. Katanya sembari terus menunjukkan kekagumannya pada suasana yang ada di SMA ditanah kelahirannya itu.
                Terlepas prestasi apa yang akan diraih setelah penilaian nanti, yang jelas SMAN 1 Banjar memang layak mengundang decak kagum pada setiap tamu undangan yang hadir saat penilaian  Rabu, 25/5 lalu. Ketua Tim Penilai LSS Tingkat Nasional Drs. Agung Tri Wahyunto, M.Ed mengaku baru tersadar kalau Kabupaten Buleleng ternyata memiliki potensi yang amat luar biasa. “Saya sempat tanda tanya, ada apa dengan Buleleng. Karena saya sudah sekian tahun tidak pernah ke Bali dan waktu itu ya sepi-sepi saja. Tapi setelah menuju SDN 1 Tajun hingga ke SMAN 1 Banjar barulah saya paham terlebih setelah melihat berbagai juara yang diraih Kabupaten Buleleng”. Papar Agung Tri Wahyunnto dari Sekretariat Direktorat Jendral Dikdasmen, Kemendikbud RI.
                Pujian lainnya juga datang dari Kepala Biro Kesejahtraan Rakyat (Kesra) Drs. A.A Gede Geriya,M.H. Menurutnya SMAN 1 Banjar mampu tampil beda dibandingkan sekolah lainnya. “Menurut saya SMAN 1 Banjar ini sangat luar biasa seperti kita baca pada visinya yaitu melaksanakan pembinaan yang berkarakter berwawasan lingkungan yang sehat dan hijau. Dibandingkan dengan sekolah-sekolah lain sekolah ini jauh lebih bagus dan lebih keren. Apalagi tim penilai yang turun menilai LSS terdiri dari tiga komponen kelembagaan yaitu  Kementrian Dalam Negeri, Pendidikan dan Kesehatan. Mudah-mudahan SMAN 1 ini mendapat juara di tingkat Nasional”. Harap Geriya.
                Dalam kesempatan terpisah  salah satu Anggota Tim Penilai Agus Suharyanto,M.A juga menyampaikan bahwa tujuan LSS ini bukan hanya sekedar lomba saja. Tapi esensinya adalah penekanan pada pembudayaan hidup bersih dan sehat di kalangan siswa maupun seluruh elemen di kalangan sekolah. “Tujuan lomba UKS ini bukan pada lomba, melainkan lebih menekankan pembudayaan hidup bersih dan sehat di kalangan siswa dan seluruh elemen di kalangan sekolah. Setiap sekolah yang kami kunjungi masing-masing memiliki keunikan dan ciri khas tersendiri. Namun kami tetap menilai berdasarkan komponen-komponen yang sudah di susun oleh tim yaitu 1. ketersediaan kelengkapan, dan berfungsinya sarana prasarana 2. Langkah-langkah inovasi terhadap program-program UKS, 3. Perilaku siswa terhadap Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) atau budaya perilaku siswa terhadap PHBS”. Paparnya.
                Kepala Sekolah SMAN 1 Banjar Drs. I Made Ngawi mengatakan, dalam mengikuti Lomba Sekolah Sehat kali ini pihaknya telah melakukan serangkaian persiapan fisik dan non fisik. Diantaranya; sosialisasi kepada seluruh warga sekolah setelah di tetapkan SMAN 1 Banjar sebagai Duta Provinsi Bali dalam Lomba Sekolah Sehat tingkat Nasional. Selanjutnya seluruh warga sekolah membuat komitmen bersama dalam mengikuti Lomba Sekolah Sehat yang dimaksud.
“Kami membentuk kepanitiaan dan kelengkapan dalam menerima pembinaan dari team pembina baik dari Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng serta dari Provinsi Bali. Kepanitiaan tersebut bertujuan untuk lebih efektifnya pembinaan UKS di sekolah. Salah satu diantaranya adalah kami tugaskan guru-guru untuk mendampingi masing-masing kegiatan yang telah di tetapkan di tambah dengan siswa-siswa sebagai pelopor dari kegiatan tersebut.” Urai Ngawi. Dia juga menjelaskan disekolahnya telah terbentuk Kelompok Remaja Pelopor (KRP) 20% dari jumlah siswa yaitu 161 Orang. MT-ZAP



SMPN 1 Banjar Kukuhkan 73 Penggalang

Meningkatkan keterampilan siswa dalam ke-Pramukaan, SMPN 1 Banjar Jumat 10/6 mengukuhkan 73 Penggalang dari Ramu ke-Rakit serta dari  Rakit Ke-Trap. Acara yang berlangsung di halaman sekolah ini diikuti 73 peserta putra dan putri.

BANJAR, TENAR MAGAZINE – Pramuka Penggalang SMPN 1 Banjar tahun ini kembali menggelar perkemahaan. Kegiatan yang berlangsung selama 2 hari satu malam itu, juga dirangkaikan dengan pengukuhan Penggalang. Sebanyak 73 penggalang masing-masing  mendapat kenaikan golongan menjadi Rakit dan Trap. Acara pengukuhan dilakukan langsung oleh Andalan Penggalang putra Kwaran Banjar I Made Jayadi dan dihadiri Kepala Sekolah SMPN 1 Banjar Ida Bagus Adi Parwata.
Antusias siswa dalam mengikuti kegiatan ke-Pramukaan sangat tinggi, terlihat dengan semangat mengucapkan yel-yel dan nyanyian Pramuka di setiap sela-sela kegiatan.“Kegiatan ini merupakan salah satu ekstra kulikuler di sekolah kami dimana para siswa yang ikut dalam perkemahan ini merupakan inisiatif dan keinginan mereka. Ini menunjukkan bahwa pramuka memiliki daya tarik tersendiri bagi mereka”. Ujar Wakil Kepala Sekolah I Made Suartha.
Menurut Suartha, perkemahan ini sebagai kegiatan tahunan di akhir semester dan di barengi dengan purna bakti Pramuka golongan Trap yang akan meninggalkan sekolah ini menuju ke tingkat SMA/SMK. “Kita telah mengukuhkan anak-anak Penggalang Ramu dan Rakit. Selain itu Perkemahan ini juga kita jadikan sebagai momen untuk serah terima tugas dari kakak mereka yang sudah purna bakti yang telah lulus dari sekolah ini dan melanjutkannya ke SMA/SMK”.Tutur Guru IPA di SMPN 1 Banjar ini.
Ka.Mabigus, Ida Bagus Adi Parwata  mengatakan pentingnya pendidikan ke-Pramukaan untuk mengimplementasikan nilai-nilai ke-Pramukaan.”Harapannya pendidikan ke pramukaan dapat terealisasi dan terimplementasi lebih sempurna lagi dengan bantuan kakak-kakak pramuka lain dan para pembina pula”.Papar lelaki yang tinggal di Desa Dencarik ini.
Ditambahakannya, peserta perkemahan ini yang sudah di lantik, di tahun ajaran baru akan turut serta membina pada pengembangan diri ke-Pramukaan.” Tahun ajaran baru, anak-anak ini akan membina adik tingkatnya di lapangan”. Imbuhannya.

Dihari Terakhir acara kegiatan diisi dengan pembagian Rapot bagi para peserta dan upacara penutupan sebagai akhir dari kegiatan ini. MT-ZAP.

Sunday, 26 June 2016

Papan Tulis:

MENGEMBALIKAN “TRADISI KEBERAKSARAAN”
KEDALAM KELUARGA
Oleh: IBK. Dharma Santika Putra
Direktur Forum Indonesia Kecil

Pengantar
                Jika dilontarkan sebuah pertanyaan, “Siapakah yang mengasuh anak-anak kita ?”. Maka jawaban yang kita dapatkan adalah bahwa para orang tualah yang mengasuh anak-anak buah hati mereka.
Sekilas memang tidak ada yang salah dari jawaban yang diberikan oleh seorang ayah dan ibu, atas pertanyaan, “siapakah yang mengasuh anak-anak mereka”. Karena secara normatif, tugas mengasuh anak, memang merupakan tugas dari para orang tua..
Demikiankah didalam kenyataannya ?.
Jawabannya sering “jauh panggang dari api”.
Berapa jam-kah seorang ibu atau ayah memiliki waktu untuk mengasuh anak-anaknya ?.
Ciba kemudian bandingkan dengan jumlah waktu yang dihabiskan si anak didepan televisi, didepan computer, atau bermain-main dengan berbagai bentuk gadget ?. Apakah itu namanya Smartphone, HP, Tablet, iPod hingga bentuk gadget terbaru dan super canggih ?.
Tidakkah anak-anak kita selama ini lebih banyak diasuh oleh Remote Control Televisi ?.
Sementara acara-acara televisi seperti yang kita ketahui bersama dan bukan merupakan rahasia lagi, bahwa acara-acara yang disuguhkan televisi dinegeri tercinta ini masih jauh dari mendidik ?.
Demikian juga dengan para remaja kita; bukankah mereka lebih banyak diasuh dan bercengkrama dengan berbagai bentuk produk gadget ?.
Lalu, kapankah para orang tua ada waktu untuk mengasuh atau minimal becengkrama dengan anak-anak mereka ?.
Sebuah kenyataan getir memang kalau kita berani menjawabnya dengan jujur sebuah pertanyaan sederhana. “Siapakah yang selama ini mengasuh anak-anak kita ?”.


Loncatan Budaya
Ketika anak-anak sebagai putra-putri sang hidup didalam pertumbuhannya membutuhkan sentuhan kasih sayang dari para orang tua, tetapi akibat kemajuan ilmu pengathuan dan teknologi akhirnya semuanya terampas begitu saja oleh berbagai bentuk capain teknologi informasi dan komunikasi yang memanjakan dan memberikan kenikmatan lebih sebagai gaya hidup.
Apa yang kini sedang terjadi, dan menjadi gaya hidup generasi muda kita, adalah apa sering disebut sebagai Cultural Jump.
Sebuah loncatan kebudayaan, yang jika keliru didalam mengelolanya akan dapat meruntuhkan sebuah bangunan peradaban negara-bangsa seperti Indonesia tercinta ini.
Gejala menuju kearah kehancuran itu sudah mulai menunjukkan tanda-tandanya. Hal itu sangat terasa dengan semakin melebarnya jurang komunikasi antara orang tua dengan anak, dan juga komunikasi sosial antar warga didalam sebuah komunitas.
Kini hampir seluruh kisi-kisi kehidupan
, dan laku budaya kemanusiaan kita penuh dengan sentuhan IT, dengan berbagai pentuk produksinya berupa gadget.
Kini sebuah pesan cukup disampaikan lewat pesan singkat atau SMS, tanpa harus bertemu dan berinteraksi dengan mereka yang kita berikan pesan.
Atas semua itu. kini kehidupan terasa semakin kering, dan simpul-simpul sosial antar warga menjadi semakin renggang antara satu warga dengan warga lainnya. Bahkan gejala ini sudah masuk hingga relung-relung kehidupan sebuah bangunan rumah tangga juga keluarga.
Bukanlah sebuah pemandangan yang luar biasa, kalau sekarang kita sering meihat bahwa anak-anak lebih asyik dengan gedget-nya ketimbang menjalin komunikasi dengan saudara atau orang tuanya. Mareka lebih asyik dengan petualangan sebuah permainan (game-pen), ketimbang menyapa orang tua atau saudaranya.
Sementara yang masih tergolong anak-anak lebih asyik dengan berbagai acara televisi, yang sejak awal siar menyajikan hal-hal yang jauh dari dunia kanak-kanak mereka. Dan semua itu terjadi sebagai sebuah keniscayaan, tanpa ada yang peduli. Juga pemerintah, bahkan negara seolah tidak hadir.

Tradisi Keberaksaraan
Tentu kita tidak cukup memiliki kemampuan dan kekuatan untuk menghentikan, bahkan memperlambat laju jaman dengan berbagai bentuk capaian teknologinya. Seperti apa yang kita lihat dan terjadi disekitar kita dan kemudian menjadi gaya hidup anak-anak sebagai buah hati kita.
Tetapi kelalaian didalam mengelola unsur utama peradaban dalam hal ini unsur sumber daya manusia, tentu juga tidak boleh terjadi dan dibiarkan begitu saja. Seperti apa yang tertuang dalam bait-bait Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, “bangunlah jianya, bangunlah badannya”.
Atas kenyataan zaman inilah, maka kehadiran sosok “Ibu Cerdas”  dan bisa tampil hangat serta ramah didalam mengelola keluarga menjadi sebah keniscayaan. Seperti sebuah ujar-ujar menyatakan, //jika kaum perempuan sudah menjadi jalang/ dan anak-anak kehilangan etika moral didalam berpirlaku/ maka kehadiran seorang ibu adalah jawabannya//.
Mungkin pertanyaannya kemudian adalah, “Siapakah Ibu Cerdas yang mampu dengan hangat dan ramah mengelola keluarga ?”.
Disini jawabannya mungkin bukan sesuatu yang bersifat personal atau sebuah sosok pribadi, tetapi lebih bagaimana kita mengelola bangunan peradaban yang bernama keluarga dengan sentuhan-sentuhan yang mencerdaskan, dan kemudian mampu melahirkan suasana hangat nan ranah ditengah-tengah dinamika keluarga kita, sehingga mampu melahirkan anak-anak yang memiliki kecerdasan yang mumpuni. Sigap didalam berfikir, dan penuh sentuhan etika moral didalam berprilaku dan tutur katanya. Atau dalam bahasa lugasnya anak – anak yang berkarakter dan memiliki etika moral didalam prilaku dan tutur katanya.
Apa yang dilontarkan secara apresiastif oleh Prof. Dr. Umar Kayam yang kemudian dikutip oleh Ashadi Serigar dan Faruk HT dalam bukunya Umar Kayam Luar Dalam, ada disebutkan sebuah tradisi mencerdaskan yang disebut sebagai “Tradisi Keberaksaraan”. Yang merupakan salah satu therapi kebudayaan bagi bangunan Keluarga Indonesia didalam menghadapi kemajuan zaman dengan berbagai capaian ilmu pengatahuan dan teknologinya, seperti apa yang sedang terjadi saat ini, dimana ruang dan waktu anak – anak kita dihabiskan oleh benda-benda canggih yang disebut sebagai Gatget.
Yang dimaksud dengan Tradisi Keberaksaraan disini adalah:
1.       Tradisi Lisan (mendongeng).
2.       Tradisi Mendengar (mendengarkan siaran radio).
3.       Tradisi Membaca (membaca karya sastra).
4.       Tradisi Menulis (menulis surat/korespondensi) dan
5.       Tradisi Berdialog(ngobrol lepas/ bercengkrama bersama anggota keluarga).
Jika kita sebagai orang tua (ibu dan ayah) mampu membangun tradisi keberaksaraan ditengah-tengah dinamika dan interaksi keluarga kita saat ini yang lebih disibukkan oleh tradisi menonton televisi dan bermain gatget, niscaya sentuhan kehangatan yang lebih manusiawi akan bisa terbangun didalam keluarga kita. Dan tradisi keberaksaraan ini akan menjadi sosok ibu cerdas, yang mampu melahirkan dan mengantarkan anak-anak kita kepada kemulyaan manusiawi yang lebih baik.
Ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab secara jujur. Karena tanpa kejujuran kita tidak akan pernah sampai pada angan-angan kita didalam mewujudkan bangunan peradaban yang bernama Keluarga Indonesia itu.
Masihkah kita mempunyai waktu untuk mendongeng kepada anak – anak kita ?.
Masihkan kita mendengarkan siaran radio ?.
Masihkah kita menulis surat untuk anak-anak kita ?.
Masihkah kita memiliki cukup waktu untuk membaca karya sastra ?.
Masihkan kita menyediakan ruang dan waktu untuk ngobrol lepas dan memangun dialog kemanusiaan dengan anak – anak kita ?.
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan diatas, akan menjadi sebuah ukuran sejuahmana kita telah sampai, didalam mewujudkan keluarga yang penuh kehangatan dan penuh sentuhan kemanusiaan.
Dan jika jawabannya bahwa anda belum melakukannya, maka belumlah terlambat bagi kita, untuk memulai sebuah langkah awal, untuk mewujudkan tradisi keberaksaraan didalam mengelola keluarga, sehingga terwujud bangunan peradaban keluarga Indonesia yang lebih harmonis dan mencerdaskan.
Dan semuanya belum terlambat. Karena tidak ada kata terlambat untuk sebuah kebajikan, apalagi dengan cita-cita mulia untuk mewujudkan bangunan peradaban insaniah yang bernama Keluarga Indonesia.
Bergegaslah !
Pondok Seni Praba-Gita Jembrana, Bali.