Papan
Tulis:
MENGEMBALIKAN “TRADISI KEBERAKSARAAN”
KEDALAM KELUARGA
Oleh:
IBK. Dharma Santika Putra
Direktur
Forum Indonesia Kecil
Pengantar
Jika dilontarkan sebuah pertanyaan, “Siapakah yang mengasuh anak-anak kita ?”. Maka jawaban yang kita
dapatkan adalah bahwa para orang tualah yang mengasuh anak-anak buah hati
mereka.
Sekilas memang tidak ada yang
salah dari jawaban yang diberikan oleh seorang ayah dan ibu, atas pertanyaan,
“siapakah yang mengasuh anak-anak mereka”. Karena secara normatif, tugas mengasuh
anak, memang merupakan tugas dari para orang tua..
Demikiankah didalam kenyataannya
?.
Jawabannya sering “jauh panggang dari api”.
Berapa jam-kah seorang ibu atau
ayah memiliki waktu untuk mengasuh anak-anaknya ?.
Ciba kemudian bandingkan dengan jumlah
waktu yang dihabiskan si anak didepan televisi, didepan computer, atau bermain-main
dengan berbagai bentuk gadget ?. Apakah
itu namanya Smartphone, HP, Tablet, iPod
hingga bentuk gadget terbaru dan super canggih ?.
Tidakkah anak-anak kita selama ini
lebih banyak diasuh oleh Remote Control
Televisi ?.
Sementara acara-acara televisi
seperti yang kita ketahui bersama dan bukan merupakan rahasia lagi, bahwa
acara-acara yang disuguhkan televisi dinegeri tercinta ini masih jauh dari mendidik
?.
Demikian juga dengan para remaja
kita; bukankah mereka lebih banyak diasuh dan bercengkrama dengan berbagai
bentuk produk gadget ?.
Lalu, kapankah para orang tua ada
waktu untuk mengasuh atau minimal becengkrama dengan anak-anak mereka ?.
Sebuah kenyataan getir memang
kalau kita berani menjawabnya dengan jujur sebuah pertanyaan sederhana.
“Siapakah yang selama ini mengasuh anak-anak kita ?”.
Loncatan
Budaya
Ketika anak-anak sebagai
putra-putri sang hidup didalam pertumbuhannya membutuhkan sentuhan kasih sayang
dari para orang tua, tetapi akibat kemajuan ilmu pengathuan dan teknologi akhirnya
semuanya terampas begitu saja oleh berbagai bentuk capain teknologi informasi
dan komunikasi yang memanjakan dan memberikan kenikmatan lebih sebagai gaya
hidup.
Apa yang kini sedang terjadi, dan menjadi
gaya hidup generasi muda kita, adalah apa sering disebut sebagai Cultural Jump.
Sebuah loncatan kebudayaan, yang
jika keliru didalam mengelolanya akan dapat meruntuhkan sebuah bangunan
peradaban negara-bangsa seperti Indonesia tercinta ini.
Gejala menuju kearah kehancuran
itu sudah mulai menunjukkan tanda-tandanya. Hal itu sangat terasa dengan
semakin melebarnya jurang komunikasi antara orang tua dengan anak, dan juga komunikasi
sosial antar warga didalam sebuah komunitas.
Kini hampir seluruh kisi-kisi
kehidupan
, dan laku budaya kemanusiaan kita
penuh dengan sentuhan IT, dengan berbagai pentuk produksinya berupa gadget.
Kini sebuah pesan cukup
disampaikan lewat pesan singkat atau SMS, tanpa harus bertemu dan berinteraksi
dengan mereka yang kita berikan pesan.
Atas semua itu. kini kehidupan
terasa semakin kering, dan simpul-simpul sosial antar warga menjadi semakin
renggang antara satu warga dengan warga lainnya. Bahkan gejala ini sudah masuk
hingga relung-relung kehidupan sebuah bangunan rumah tangga juga keluarga.
Bukanlah sebuah pemandangan yang
luar biasa, kalau sekarang kita sering meihat bahwa anak-anak lebih asyik
dengan gedget-nya ketimbang menjalin komunikasi dengan saudara atau orang
tuanya. Mareka lebih asyik dengan petualangan sebuah permainan (game-pen),
ketimbang menyapa orang tua atau saudaranya.
Sementara yang masih tergolong
anak-anak lebih asyik dengan berbagai acara televisi, yang sejak awal siar
menyajikan hal-hal yang jauh dari dunia kanak-kanak mereka. Dan semua itu
terjadi sebagai sebuah keniscayaan, tanpa ada yang peduli. Juga pemerintah,
bahkan negara seolah tidak hadir.
Tradisi Keberaksaraan
Tentu kita tidak cukup memiliki
kemampuan dan kekuatan untuk menghentikan, bahkan memperlambat laju jaman
dengan berbagai bentuk capaian teknologinya. Seperti apa yang kita lihat dan
terjadi disekitar kita dan kemudian menjadi gaya hidup anak-anak sebagai buah
hati kita.
Tetapi kelalaian didalam mengelola
unsur utama peradaban dalam hal ini unsur sumber daya manusia, tentu juga tidak
boleh terjadi dan dibiarkan begitu saja. Seperti apa yang tertuang dalam
bait-bait Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, “bangunlah
jianya, bangunlah badannya”.
Atas kenyataan zaman inilah, maka
kehadiran sosok “Ibu Cerdas” dan bisa
tampil hangat serta ramah didalam mengelola keluarga menjadi sebah keniscayaan.
Seperti sebuah ujar-ujar menyatakan, //jika
kaum perempuan sudah menjadi jalang/ dan anak-anak kehilangan etika moral
didalam berpirlaku/ maka kehadiran seorang ibu adalah jawabannya//.
Mungkin pertanyaannya kemudian
adalah, “Siapakah Ibu Cerdas yang mampu dengan hangat dan ramah mengelola
keluarga ?”.
Disini jawabannya mungkin bukan
sesuatu yang bersifat personal atau sebuah sosok pribadi, tetapi lebih
bagaimana kita mengelola bangunan peradaban yang bernama keluarga dengan
sentuhan-sentuhan yang mencerdaskan, dan kemudian mampu melahirkan suasana
hangat nan ranah ditengah-tengah dinamika keluarga kita, sehingga mampu
melahirkan anak-anak yang memiliki kecerdasan yang mumpuni. Sigap didalam
berfikir, dan penuh sentuhan etika moral didalam berprilaku dan tutur katanya.
Atau dalam bahasa lugasnya anak – anak yang berkarakter dan memiliki etika
moral didalam prilaku dan tutur katanya.
Apa yang dilontarkan secara
apresiastif oleh Prof. Dr. Umar Kayam yang kemudian dikutip oleh Ashadi Serigar
dan Faruk HT dalam bukunya Umar Kayam Luar Dalam, ada disebutkan sebuah tradisi
mencerdaskan yang disebut sebagai “Tradisi Keberaksaraan”. Yang merupakan salah
satu therapi kebudayaan bagi bangunan Keluarga Indonesia didalam menghadapi
kemajuan zaman dengan berbagai capaian ilmu pengatahuan dan teknologinya,
seperti apa yang sedang terjadi saat ini, dimana ruang dan waktu anak – anak
kita dihabiskan oleh benda-benda canggih yang disebut sebagai Gatget.
Yang dimaksud dengan Tradisi
Keberaksaraan disini adalah:
1.
Tradisi Lisan
(mendongeng).
2.
Tradisi
Mendengar (mendengarkan siaran radio).
3.
Tradisi
Membaca (membaca karya sastra).
4.
Tradisi
Menulis (menulis surat/korespondensi) dan
5.
Tradisi
Berdialog(ngobrol lepas/ bercengkrama bersama anggota keluarga).
Jika kita sebagai orang tua (ibu
dan ayah) mampu membangun tradisi keberaksaraan ditengah-tengah dinamika dan
interaksi keluarga kita saat ini yang lebih disibukkan oleh tradisi menonton
televisi dan bermain gatget, niscaya sentuhan kehangatan yang lebih manusiawi
akan bisa terbangun didalam keluarga kita. Dan tradisi keberaksaraan ini akan
menjadi sosok ibu cerdas, yang mampu melahirkan dan mengantarkan anak-anak kita
kepada kemulyaan manusiawi yang lebih baik.
Ada beberapa pertanyaan yang harus
dijawab secara jujur. Karena tanpa kejujuran kita tidak akan pernah sampai pada
angan-angan kita didalam mewujudkan bangunan peradaban yang bernama Keluarga Indonesia itu.
Masihkah kita mempunyai waktu
untuk mendongeng kepada anak – anak kita ?.
Masihkan kita mendengarkan siaran
radio ?.
Masihkah kita menulis surat untuk
anak-anak kita ?.
Masihkah kita memiliki cukup waktu
untuk membaca karya sastra ?.
Masihkan kita menyediakan ruang
dan waktu untuk ngobrol lepas dan memangun dialog kemanusiaan dengan anak –
anak kita ?.
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan
diatas, akan menjadi sebuah ukuran sejuahmana kita telah sampai, didalam
mewujudkan keluarga yang penuh kehangatan dan penuh sentuhan kemanusiaan.
Dan jika jawabannya bahwa anda belum
melakukannya, maka belumlah terlambat bagi kita, untuk memulai sebuah langkah
awal, untuk mewujudkan tradisi keberaksaraan didalam mengelola keluarga,
sehingga terwujud bangunan peradaban keluarga Indonesia yang lebih harmonis dan
mencerdaskan.
Dan semuanya belum terlambat.
Karena tidak ada kata terlambat untuk sebuah kebajikan, apalagi dengan
cita-cita mulia untuk mewujudkan bangunan peradaban insaniah yang bernama
Keluarga Indonesia.
Bergegaslah !
Pondok Seni Praba-Gita Jembrana, Bali.